Jember (beritajatim.com) – Mantan Wakil Bupati Abdul Muqit Arief berharap dua pasangan calon bupati dan wakil bupati berani menolak pembukaan tambang emas di Kecamatan Silo maupun kawasan lainnya, di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Masalah tambang di Silo sudah bertahun-tahun menjadi perhatian dan perbincangan di kalangan tokoh dan masyarakat,” kata pria yang menjabat wakil hupati Jember pada periode 2016-2021 ini, ditulis Kamis (12/9/2024).
Penolakan warga Silo dan sekitarnya terhadap penambangan emas sangat beralasan. “Lokasi tambang emas itu ada di kawasan yang sangat produktif dan menjadi sumber resapan air tanah. Kalau itu dijadikan lokasi pertambangan, maka sumber mata air pasti akan terganggu,” kata pria yang akrab disapa Kiai Muqit ini.
Penambangan emas di daerah itu juga berpotensi memicu bencana tanah longsor. “Kemudian mayoritas masyarakat yang bekerja sebagai petani kopi pasti akan tersingkir. Padahal selama ini masyarakat sudah sangat menikmati ‘emas hijau’,” kata Muqit.
Emas hijau adalah sebutan untuk budidaya kopi yang membuat perekonomian warga Silo meningkat, sehingga bisa menunaikan ibadah haji maupun umrah. “Mereka sudah sangat nyaman dengan pertanian. Kalau ditambang, mereka akan tergusur, apalagi masyarakat Silo tidak mengerti masalah tambang. Yang bekerja pasti dari luar. Belum lagi dampak sosialnya,” kata Muqit.
Para kiai NU juga telah menggelar bahtsul masail soal tambang. Bahtsul masail adalah forum silaturahmi kalangan nahdlyiin untuk membahas dan memecahkan masalah-masalah tematik dan aktual yang memerlukan kepastian hukum yang belum pernah dibahas sebelumnya.
“Berdasarkan hasil bahtsul masail para kiai, sudah disepakati untuk menolak tambang (emas). Manfaat tambang emas memang jelas secara ekonomi. Tapi dalam kaidah fiqih orang pesantren, ada ungkapan ‘dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih’. Menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat,” kata Muqit.
Penolakan terhadap tambang emas ini coba disampaikan masyarakat setiap ada kandidat bupati atau legislator yang datang ke Kecamatan Silo. “Kalau ada calon bupati atau anggota DPR, biasanya yang disampaikan masyarakat Silo itu. Mereka akan diminta: bersediakah untuk tidak menyentuh tambang di Silo,” kata Muqit.
Muqit menyampaikan ini kepada calon wakil presiden Mahfud MD dan calon bupati saat berkunjung ke Silo. “Saya selalu menyampaikan atas nama masyarakat Silo untuk tidak mengutik-utik masalah tambang,” katanya. [wir]






