Gresik (beritajatim.com) – Kekerasan yang menimpa perempuan, dan anak masih kerap terjadi di lingkungan keluarga. Untuk itu, Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Gresik, terus mensosialisasikan pentingnya konsep desa ramah anak, dan perlindungan perempuan.
Kepala DKBPPPA Gresik, dr Titik Ernawati menuturkan, selama ini kekerasan pada perempuan dan anak masih terjadi. Melalui program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak atau DRPPA. Permasalahan yang dihadapi tersebut bisa diminimalisir.
“Jangan sampai ada perempuan maupun anak yang tertimpa masalah di desa tidak terlindungi. Tapi, sebaliknya malah diviralkan di medsos. Hal ini tidak menyelesaikan masalah tapi malah memperburuk psikisnya,” ujarnya di sela-sela Advokasi dan Inisiasi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) di Kecamatan Dukun, Kamis (5/9/2024).
Ia menambahkan, alasan sosialisasi DRPPA di desa-desa. Ini karena perkawinan dibawah umur yang menjadi penyebab kekerasan pada anak serta perempuan masih sering terjadi. “Kami berharap dengan adanya sosialisasi DRPPA ini peran serta perangkat desa bisa meningkatkan kapasitasnya turut serta membantu advokasinya,” imbuhnya.
Sementara itu, Wabup Gresik Aminatun Habibah mengatakan, DRPPA merupakan program yang diinisiasi pemerintah daerah. Pasalnya, desa yang ramah perempuan serta anak perlu ditingkatkan lagi. “Keberadaan DRPPA ini bukan hanya menyangkut kekerasan dan perkawinan saja. Bisa juga mengusulkan ruang laktasi yang nyaman bagi ibu-ibu yang sedang menyusui,” katanya.
Wabup perempuan pertama di Gresik itu menyatakan untuk lebih mengintensifkan DRPPA ini lebih berdaya. Dana desa bisa digunakan untuk mendukung program ini. “Anggarannya bisa diusulkan tahun depan, termasuk sosialisasinya. Untuk pilot project-nya dipilih Desa Sukorejo, Kecamatan Bungah, yang siap menjadi percontohan,” pungkasnya. [dny/kun]






