Surabaya (beritajatim.com) – Program Siap Siaga kembali mengadakan Misi Pemantauan Bersama di Jawa Timur pada 3-5 September 2024. Kegiatan ini untuk memantau dan mengukur hasil kinerja program serta capaiannya.
Program Siap Siaga ini merupakan kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Pemprov Jatim, Kedutaan Australia, dan partner lainnya di Jatim.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jatim Gatot Subroto mengungkapkan bahwa Jatim memiliki 14 ancaman bencana. Sehingga, hal itu menjadikan Jatim sebagai provinsi etalase bencana.
“Di Jawa Timur ini adalah etalase bencana, ada 14 ancaman bencana. Sehingga kita harus mempersiapkan masyarakat dengan cara meningkatkan kapasitasnya,” kata Gatot, Selasa (3/9/2024).
Gatot pun menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai kekuatan utama dalam penanggulangan bencana. Salah satunya dengan pembentukan desa tangguh bencana (destana).
Ia menambahkan, salah satu yang didukung oleh Program Siap Siaga di Jatim adalah pembentukan destana maupun penguatan kapasitas di tingkat pesantren. Bahkan, nantinya akan mengarah ke Pramuka dan mahasiswa lewat KKN Tematik.
“Itu semua adalah support dari Siap Siaga untuk penguatan kapasitas di masyarakat dalam menangani bencana di Jawa Timur, baik pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Sehingga, kami memohon program ini bisa berkelanjutan di Jawa Timur,” tambahnya.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan dukungan penuh terhadap implementasi program ini hingga tingkat desa. Ia menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan program dalam menghadapi perubahan iklim dan risiko sistemik.
“Kami dari BNPB sebagai partner program Siap Siaga ini mendukung penuh program ini betul-betul terimplementasi sampai ke level bawah yakni desa. Bagaimana ini bisa berkelanjutan di masyarakat,” ujarnya.
Sedangkan Team Leader Siap Siaga Lucy Dickinson mengaku senang melaksanakan misi pemantauan ini. Ia menjelaskan, tujuan misi ini adalah untuk menilai progres program, belajar dari pengalaman, dan mengadopsi inovasi yang berhasil di daerah lain.
Selama misi, tim akan mengunjungi Pasuruan untuk melihat program pasca COVID-19 dan simulasi banjir bandang. “Kami akan ada kunjungan ke Pasuruan, untuk melihat program pasca covid yang sudah diimplementasikan oleh Ademos, dan juga simulasi mengenai banjir bandang,” lanjutnya.
Untuk diketahui, Program Siap Siaga ini hasil kemitraan antara Australia dan Indonesia, dimana merupakan inisiatif strategis untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi bencana.
Dengan fokus pada pencegahan, persiapan, tanggapan, dan pemulihan, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana serta memperkuat kerja sama kemanusiaan di kawasan Indo-Pasifik.
Program ini juga selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia (RPJMN) 2020-2024 dan Strategi Kemanusiaan Pemerintah Australia (2016). [ipl/but]






