Kemunculan duet Cagub dan Cawagub Jatim 2024, Tri Rismaharini (Risma) dan KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) yang dijagokan PDIP sungguh mengejutkan. Terutama terkait dengan figur Gus Hans. Maklum, politikus Partai Golkar dengan darah NU yang kental ini, di Pilgub 2019 lalu duduk sebagai juru bicara pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak.
Di Pilgub Jatim 2024, duet Khofifah dan Emil Dardak tetap masuk bursa. Pasangan ini diusung 14 partai, baik kekuatan politik yang punya kursi di parlemen maupun partai non parlemen. Duet Risma dan Gus Hans bertarung versus Khofifah dan Emil Dardak serta Luluk Hamidah dan Lukmanul Hakim yang diusung PKB.
Pada Pileg 2019 lalu, PDIP yang menjadi juara dan peraih suara terbanyak dibanding partai lainnya di Jatim. Politikus partai ini, HM Kusnadi, menduduki kursi Ketua DPRD Jatim. Sebab, partai ini merebut 27 kursi.
Namun, di Pileg 2024 ini, PDIP kehilangan 6 kursinya di DPRD Jatim. Dengan dukungan 3.735.865 suara, PDIP meraih 21 kursi DPRD Jatim dan harus merelakan kursi Ketua DPRD Jatim 2024-2029 diduduki PKB.
Duet Risma dan Gus Hans diusung tiga partai politik (parpol). Satu parpol pemilik kursi parlemen yakni PDIP, sementara dua lainnya adalah parpol non parlemen yakni Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Ummat. Risma dikenal sebagai birokrat profesional yang terjun ke ranah politik praktis sekitar 14 tahun lamanya. Langkah politik Risma diawali dengan pencalonannya sebagai Wali Kota Surabaya pada 2010, berpasangan dengan Mantan Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono (DH). Duet ini menang atas Arif Afandi dan Adies Kadir.
Selama 10 tahun menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, langkah politik Risma berjalan mulus dan menanjak. Setelah lepas dari jabatan orang pertama di Kota Surabaya, Risma masuk kabinet Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin sebagai Menteri Sosial. Dia menggantikan Idrus Marham, mantan Sekjen DPP Partai Golkar, yang tersandung kasus korupsi ketika duduk di DPR RI.
Partai berlambang Kepala Banteng dengan moncong putih (PDIP) adalah pilihan Risma dalam melabuhkan karir politiknya. Risma dikenal dekat dan jadi orang kepercayaan Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDIP). Dia dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Bidang Kebudayaan di struktur DPP PDIP hasil kongres V di Bali 2019 lalu.

Yang mengejutkan, tampilnya Gus Hans sebagai Cawagub Jatim 2024 dari PDIP. Tak ada jejak historis politik dari Gus Hans dalam relasinya dengan partai kaum Nasionalis Soekarnoisme ini.
Gus Hans adalah salah satu pengasuh Pondok Darul Ulum di Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jatim. Pondok ini pada 1970-an sempat heboh di lanskap politik dan sosial nasional. Kenapa? Di bawah kepemimpinan KH Mustain Romly, sang pengasuh Pondok Darul Ulum Jombang melabuhkan aspirasi dan dukungan politik kepada (Partai) Golkar. Langkah politik Kiai Mustain sungguh menghentak. Sebab, keputusan politik itu diambil tak lama setelah Partai NU menyatukan diri ke dalam PPP melalui fusi partai, bergabung dengan Parmusi, PSII, dan Perti.
Sejak Pemilu 1977 hingga Pemilu 2024, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum istiqomah mendukung Partai Golkar. Mereka tak pernah pergi ke ‘lain hati’. Tak loncat-loncat ke partai lain. Termasuk Gus Hans, menapaki aktivisme politik praktis di partai berlambang Pohon Beringin ini. Dia menjabat sebagai salah satu Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim. Di Pilgub Jatim 2024, Partai Golkar mendukung duet Khofifah dan Emil Dardak. Gus Hans menapaki jalan lain setelah ditawari elite PDIP sebagai cawagub berpasangan dengan Risma.
Duet Risma dan Gus Hans merepresentasikan kekuatan politik Nasionalis dan Religius (Baca: Islam Tradisional/NU). Tak ada yang meragukan kadar ke-NU-an Gus Hans.
Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang adalah salah satu dari empat ponpes di Jombang yang melahirkan banyak tokoh, pemimpin, dan kiai NU. Tiga pondok lainnya adalah Ponpes Tebuireng, Ponpes Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas. Di era Orde Baru Soeharto, pengasuh ketiga ponpes di Jombang itu lebih merapat ke PPP. Hanya pengasuh Ponpes Darul Ulum Rejoso yang berangkulan dengan Partai Golkar.
Setelah Muktamar ke-27 di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo, NU menyatakan menarik diri dari politik praktis. Berpisah dengan PPP. Kiai dan tokoh NU yang berjuang di ranah politik praktis dalam kapasitas pribadi. Tak ada sangkut paut dengan kelembagaan NU dalam perspektif jam’iyah.
Dalam diri Gus Hans mengalir ‘darah NU dan Golkar’ sekaligus. Dia politikus berlatar belakang santri Islam Tradisional (NU) yang sepanjang karir politiknya diabdikan di partai Nasionalis dengan kredo politik Karya-kekaryaan. Partai yang tak memiliki DNA politik sebagai kekuatan oposisi. Apakah menang atau kalah di satu kontestasi politik, Golkar dan politikusnya secara tradisional merapat kepada kekuasaan. Berada di luar pagar kekuasaan adalah realitas politik yang mesti dihindari.
Warna politik ‘hijau’ (santri) dan ‘kuning’ (karya-kekaryaan) berpadu dalam diri Gus Hans. Elite PDIP tetap percaya dengan formula Nasionalis-Religius atau sebaliknya sebagai rumus politik jitu memenangkan kontestasi politik di Jatim. Sekalipun dalam konteks PDIP, rumus politik itu belum pernah menghasilkan kemenangan.
Duet politikus tulen PDIP dengan tokoh Golkar bukan fenomena politik pertama dalam konteks Pilgub Jatim. Jauh sebelum itu, di Pilgub Jatim 2008, partai ini mengusung Ir Soetjipto (Ketua Bidang Otonomi Daerah DPP PDIP dan mantan Ketua PDIP Jatim) dengan Ridwan Hisjam, mantan Ketua Partai Golkar Jatim dan aktivis HMI dari ITS Surabaya. Duet ini kandas di putaran pertama pilgub. Perhelatan politik ini akhirnya dimenangkan duet Soekarwo (aktivis GMNI Unair Surabaya) dan Saifullah Yusuf (HMI Unas Jakarta dan Ketum GP Ansor) yang diusung Partai Demokrat, PAN, PKS, dan sejumlah partai lainnya.
Duet Risma dan Gus Hans tak menutup kemungkinan melahirkan poros politik baru. Poros Politik Rejoso Jombang–realitas sosial dan politik mengacu pada Ponpes Darul Ulum Rejoso. Sekiranya hal itu terjadi, fakta politik tersebut bersifat lumrah dan bukan hal luar biasa. Sebab, jejaring dan relasi antara kiai dengan santri tak pernah terputus dan bersifat langgeng.

Selain itu, ruang lingkup dan cakupan relasi kiai dengan santri tak sekadar dalam konteks transfer nilai-nilai teologi dan religi selama santri menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya di pondok.
Ranah sosiologis, ekonomi, kultural, dan politik adalah wilayah lain yang tak luput dari konstruksi bangunan relasi kiai dengan santri. Jejaring alumni Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang terbuka kemungkinan jadi ceruk suara bagi duet Risma dan Gus Hans dalam menapaki Pilgub Jatim 2024.
Poros Rejoso Jombang dan PDIP jadi salah satu kekuatan politik yang bertarung di Pilgub Jatim 2024. Ini adalah fenomena politik baru dalam kontestasi pilgub. Tinggal pertanyaannya, Gus Hans sebagai politikus muda NU yang lama berkiprah di Partai Golkar apakah mampu menarik banyak kiai NU dari pondok lainnya untuk merapat ke poros politik ini?
Pasca kebijakan Khittah NU 1926 sejak 1984, kiai-kiai NU pimpinan pondok memiliki ruang otonomi politik yang lebar dan luas. Mereka bebas mengaktualisasikan aspirasi dan pilihan politiknya ke banyak partai, sekalipun PKB jadi wahana politik yang banyak dihuni kiai dan tokoh NU.
Komunitas politik Nasionalis atau PDIP belum pernah memenangkan perhelatan Pilgub Jatim. Partai ini selalu menempati tiga besar raihan suara di provinsi berpenduduk 40 juta jiwa ini.
Di Pemilu 2019 lalu, PDIP tampil sebagai pemenang dan di Pemilu 2024 partai ini tampil di posisi kedua. Dari 11 dapil DPR RI di Jatim, PKB unggul di lima dapil: Dapil II, III, IV, V, dan VIII. Sedang PDIP menang di tiga dapil yakni Dapil VI, X, dan XI. Sementara itu, dari 14 dapil untuk DPRD Jatim, PDIP leading di Dapil I, VI, VII, dan IX.
Modal dukungan 3.735.865 suara atau ekuivalen 21 kursi DPRD Jatim yang diraih PDIP Jatim di Pileg 2024 menjadi modal dasar bagi duet Risma dan Gus Hans dalam menapaki medan pertarungan Pilgub Jatim 2024. Mampukah kedua tokoh ini mengkapitalisasi secara politik modal dasar menjadi bertambah tambun? Ataukah justru modal dasar itu mengempis, karena digerogoti duet cagub dan cawagub lainnya. [bersambung]
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






