Surabaya (beritajatim.com) – Wisuda ke-129 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang berlangsung pada Minggu, 1 September 2024 menyisakan kisah haru di tengah perayaan kelulusan para mahasiswa.
Di antara ribuan wisudawan dan keluarga yang hadir, ada seorang ayah dan ibu datang untuk mewakili putranya. Putranya yang seharusnya diwisuda pada hari ini telah meninggal dunia beberapa bulan lalu karena sakit.
Wisudawan yang meninggal itu adalah Birul Dzakiri, mahasiswa Prodi S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknik. Birul lahir di Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dan merupakan putra dari pasangan Mustain dan Marodik.
Meski kesedihan menyelimuti hati, sang ayah dan ibu dari almarhum tetap memutuskan untuk menghadiri acara wisuda Untag Surabaya sebagai penghormatan terakhir kepada anaknya yang telah berjuang keras selama ini.
Ketika nama putranya dipanggil untuk menerima ijazah, suasana di lokasi wisuda berubah menjadi hening. Sang ayah dan ibu, dengan pipi penuh air mata, melangkah ke panggung untuk menerima ijazah almarhum anaknya.
Momen tersebut membuat para wisudawan serta anggota keluarga lainnya yang hadir tak mampu menahan air mata mereka. Bahkan, Rektor Untag Surabaya Prof Mulyanto Nugroho juga tampak berlinang air mata.
“Saya selaku rektor, mewakili seluruh sivitas akademika Untag Surabaya mengucapkan turut berduka cita sekaligus selamat atas kelulusan ananda Birul Dzakiri,” ucap Prof Nugroho sembari menyerahkan ijazah kepada Mustain, ayah almarhum.
Ditemui usai prosesi wisuda, Mustain mengaku bangga dengan putranya. Ia juga tak pernah menyangka jika kehadirannya di wisuda ini justru menjadi perwakilan dari anaknya yang kini telah tiada.
“Dia sakit, awalnya panas lalu dibawa ke dokter. Lama-kelamaan saya bawa ke UGD dan langsung opname. Sebelum masuk rumah sakit dia juga masih sering ke kampus,” tutur Mustain sambil menahan air matanya.
Mustain mengungkapkan bahwa tak ada gejala sakit yang tampak sebelum kepergian putranya itu. Setahunya, almarhum tidak memiliki riwayat penyakit serius. Baru saat opname diketahui jika almarhum mengalami infeksi darah.
“Dia awalnya panas, saya bawa ke mantri satu kali, dokter satu kali. Obat habis masih panas. Dia tidak punya riwayat penyakit. Baru divonis setelah tranfusi darah 4 kantong katanya infeksi darah,” tandas Mustain.
Birul Dzakiri mengikuti sidang proposal tugas akhir pada Selasa, 26 Juli 2024 lalu. Tugas akhirnya berjudul ‘Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Bibit Bebek Siap Telur yang Unggul dengan Metode Simpel Additive Weighting’.
Usai sidang tersebut Birul masih kerap ke kampus untuk menyelesaikan revisi sidang proposal, yang kemudian berlanjut ke sidang progress. Dengan kegigihannya, ia pun berhasil menuntaskan tugas akhirnya itu.
Namun takdir berkata lain. Tak lama setelah itu, Birul dikabarkan meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Tentu kabar itu sampai pada pihak kampus, salah satunya Supangat PhD, ITIL, COBIT, CLA, CISA, yakni penguji di sidang almarhum.
“Kebetulan saya salah satu dosen wali dan penguji. Di tugas akhirnya, almarhum mengangkat masalah di desanya, untuk memilih bibit bebek. Dia aktif konsultasi. Selama bimbingan tidak ada keluhan dan saat sidang juga tidak ada masalah,” ungkap Supangat.
Supangat menyebut bahwa Birul Dzakiri adalah sosok yang sederhana, ceria, dan rendah hati. Ia terbilang sebagai salah satu mahasiswa yang aktif. Bahkan nilai-nilai akademiknya pun juga sangat baik.
“Penelitian juga cukup baik karena mengangkat problem di desanya. Dia ingin menguji kualitas telur bebek menetas dengan induk yang baik. Penelitiannya sudah diterapkan,” jelas Supangat.
Dalam suasana emosional ini, kehadiran sang ayah dan ibu menjadi simbol kekuatan dan cinta keluarga. Meski kesedihan mendalam meliputi, upacara wisuda tetap berlangsung dengan penuh hormat dan penghayatan akan perjalanan hidup dan prestasi akademik yang telah diraih.
Wisuda ke-129 Untag Surabaya kali ini bukan hanya merayakan pencapaian akademik, tetapi juga mengingatkan akan kekuatan dan ketabahan di tengah ujian dan kehilangan yang mendalam. [ipl/aje]






