Surabaya (beritajatim.com) – RSUD Sumberglagah Mojokerto dan Pusat Krisis (Puskris) Kesehatan Regional Jawa Timur (Jatim) menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menangani situasi kegawatdaruratan medis.
Dalam pelatihan ini, instruktur berasal dari RSUD Sumberglagah memberikan materi teori kepada peserta, sementara sesi praktik dipandu oleh gabungan tim dari RSUD Sumberglagah dan Tenaga Cadangan Kesehatan-Emergency Medical Team (TCK-EMT).
Instruktur TCK-EMT berperan penting dalam memastikan peserta agar mampu menerapkan teknik yang dipelajari dalam situasi darurat melalui simulasi yang realistis.
Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 195 peserta yang meliputi Civitas Hospitalia non medis seperti pegawai administrasi, pegawai keamanan, pegawai kebersihan dan pegawai non medis lainnya. Pelaksanaan pelatihan ini sendiri dibagi menjadi empat sesi yang di mana setiap sesinya berisi kurang lebih 50 peserta.
Acara ini dirancang untuk mengasah keterampilan peserta dalam menghadapi tantangan kedaruratan medis yang mungkin muncul di mana pun sehingga memastikan mereka memiliki kesiapan yang optimal
Koordinator Pelaksana Harian Pusat Krisis Kesehatan Regional Jatim dr Ninis Herlina Kiranasari mengatakan, peserta mendapatkan pengetahuan dasar mengenai tindakan BHD serta penanganan awal pada kegawatdaruratan medis yang mungkin terjadi di lingkungan rumah sakit.
Menurutnya, pemahaman tentang BHD sangat krusial karena merupakan langkah pertama yang sering kali menentukan peluang kelangsungan hidup pasien dalam kondisi henti jantung.
“Melalui teori, peserta diberikan panduan komprehensif tentang bagaimana mengenali tanda-tanda awal henti jantung, langkah-langkah BHD yang tepat, serta bagaimana cara mengoordinasikan tindakan penyelamatan dengan tim medis lainnya,” kata dr Ninis, Sabtu (31/8/2024).
Instruktur dari Tim RSUD Sumberglagah dan TCK-EMT juga memberikan sesi praktik. Harapannya, peserta memiliki keterampilan praktis yang mumpuni untuk menghadapi situasi darurat dengan tenang dan percaya diri.
Ninis menambahkan, keberhasilan pelatihan ini menjadi indikator penting kesiapan rumah sakit dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan medis yang mungkin terjadi di masa depan.

Pusat Krisis Kesehatan, berkomitmen penuh dalam upaya pengurangan risiko krisis kesehatan. Salah satunya membangun ketahanan masyarakat di semua lapisan, mulai dari komunitas lokal hingga nasional.
Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi krisis.
Melalui inisiatif ini, Pusat Krisis Kesehatan ingin memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki kemampuan yang cukup untuk merespons situasi darurat secara cepat dan efektif.
Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai ancaman krisis kesehatan, baik yang disebabkan oleh bencana alam, epidemi, maupun faktor lainnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pegawai non medis dan relawan dapat lebih siap dan terampil memberikan bantuan hidup dasar. Selain itu, pelatihan ini juga memperkuat sinergi antara RSUD Sumberglagah dan Pusat krisis Kesehatan Regional Jatim dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. [ipl/ian]






