Jember (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Jember yang tergabung dalam Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga Bulutangkis membikin Boska, camilan dengan bahan dasar biji karet, di Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Jawa Timur.
“Di Desa Suci ini, kebanyakan biji karet hanya jadi limbah. Oleh karena itu kami ingin mengolah produk dari biji karet ini. Akhirnya kami memiliki kripik dari biji karet,” kata Ketua Pelaksana PPK Ormawa UKMO Bulutangkis Unej Elen Behtania Pasaribu, Sabtu (24/8/2024).
Biji karet sendiri tersedia musiman, yakni Mei-Juni. “Kami mencari solusi terbaik, dengan memanen biji karet tersebut pada masa panen, dan kemudian diolah menjadi produk dengan masa tahan lama sekitar satu tahun. Ke depan jika konsumen sewaktu-waktu mau, bisa dibuat lagi,” kata Elen.
Pembuatan kripik dari biji karet ini cukup menantang bagi Elen dan kawan-kawan, karena biji karet mengandung racun sianida. “Satu biji karet mengandung 140 miligram senyawa sianida. Sementara batas aman di tubuh manusia sekitar 130 miligram. Ini sempat membuat kami agak maju mundur dalam proses pengolahannya,” kata Elen.
Elen mengakui cukup berat memproses biji karet itu agar aman dikonsumsi. Butuh waktu kurang lebih tiga hari untuk merebus dan merendam. “Perendaman butuh waktu berhari-hari untuk ganti air, lalu pengovenan, blender, dan penambahan produk seperti tepung dan perasa lain, untuk kemudian bisa kami goreng,” katanya.
Kendala produksi tentu saja ada pada bahan pasokan. Panen karet tidak sepanjang waktu, dan terganting pada lokasinya. “Untuk proyek ini, kami menggunakan lima kilogram biji karet dalam setiap masak. Ini masih dipilah-pilah mana yang bagus dan busuk. Kadang dari lima kilogram, kurang lebih seperempatnya bisa kami gunakan. Nah katena ini gratis, kami tidak mengeluarkan biaya lebih untuk bahannya,” kata Elen.
Penambahan tepung bisa memperbanyak kuantitas. “Tapi kami tidak tambahkan terlalu banyak karena dapat mengurangi eksistensi rasa biji karet tersebut. Penggunaan tepung paling hanya 100 gram dalam dua kilo adonan,” kata Elen.
Yuli Witono, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, menyebut karya oara mahasiswa ,konkret dan solutif. “Pembimbingan dosen yang memang sudah punya kompetensi dan dukungan universitas. Kegiatan ini beri energi besar bagi masyarakat,” katanya. [wir]






