Probolinggo (beritajatim.com) – Pelantikan anggota DPRD Kota Probolinggo pada Sabtu (24/8) diwarnai demonstrasi ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi seperti HMI, PMII, GMNI, dan IMM. Unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai, sempat memanas hingga terjadi aksi dorong-dorongan antara mahasiswa dan petugas kepolisian.
Massa aksi yang berkumpul di sekitar gedung DPRD Kota Probolinggo, Jalan Suroyo, menuntut agar anggota DPRD yang baru dilantik turun langsung menemui mereka. Setelah melakukan negosiasi, sekitar 15 anggota DPRD akhirnya menyanggupi permintaan mahasiswa.
Sebagai bentuk solidaritas, para anggota DPRD yang datang menemui mahasiswa diminta untuk melepas dasi dan kemeja, lalu duduk bersama-sama di jalan sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tindakan simbolik ini dilakukan sebagai tanda bahwa para wakil rakyat mendengarkan aspirasi masyarakat.
Dalam orasinya, para mahasiswa mengecam dan menolak hasil rapat Panja RUU Pilkada yang dianggap menganulir putusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia pencalonan dalam Pilkada. Mereka meminta agar aspirasi mereka disampaikan ke DPR RI.
Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPRD sementara, H. Fernanda Zulkarnaen, menyatakan bahwa DPRD menghormati hak konstitusi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. “Kami telah menampung aspirasi mahasiswa dan akan menyampaikannya ke DPR RI,” ujar Fernanda.
Aksi demonstrasi yang berlangsung beberapa jam ini sempat menghebohkan Kota Probolinggo. Meskipun sempat terjadi sedikit kericuhan, namun pada akhirnya situasi dapat dikendalikan dan aksi berakhir dengan damai. (kun)






