Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Pansus Raperda Pemakaman dan Perabuan, Budi Leksono, mengungkapkan sejumlah usulan untuk meningkatkan kualitas layanan pemakaman dan krematorium di Surabaya. Salah satunya, insentif bagi penjaga makam diusulkan agar disetarakan dengan marbot masjid.
“Makam khusus atau makam warga ini ternyata mendapatkan insentif Rp200, ini di luar dari Perda yang diatur,” ungkap Budi Leksono.
“Tapi setidaknya kalau kita melihat marbot saja pembersih masjid atau tempat-tempat ibadah itu Rp400 ribu, mungkin ini perlu dikaji dan perlu disesuaikan untuk honornya penjaga makam,” tambah politisi PDIP Surabaya ini.
Selain itu, Budi Leksono juga menekankan perlunya penataan ulang fasilitas krematorium agar lebih mengakomodasi kebutuhan berbagai agama.
Dia mencontohkan acara keagamaan Hindu, jika ada tokoh utama atau pendeta meninggal mereka bisa melakukan ritual hingga 10 hari.
“Berarti di sana itu ada penataan baik masalah retribusinya atau biayanya sama tempat-tempat untuk bisa sebagai fasilitas dalam hal pengabuan,” ujar dia.
Dia juga mengusulkan adanya fasilitas penyimpanan abu bagi mereka yang tidak memilih pelarungan, serta pembangunan aula terpisah untuk acara ritual keagamaan.
“Hal itu seperti ziarah jadi ada persembahyangan yang tempat itu ada tempat khusus untuk menyimpan abu yang disimpan bukan dilarung,” kata dia.
Selain itu, Budi Leksono berharap agar sarana dan prasarana pemakaman, termasuk makam warga,dapat dibiayai melalui dana kelurahan (dakel). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas infrastruktur pemakaman,seperti lampu, akses jalan, dan tempat penyimpanan.
“Misal usulan kalau kita mengajukan lampu, kalau itu area pemukiman itu kan secara otomatis boleh. Tapi ini kan akhirnya yang di lampu itu jalannya, tapi di dalamnya kan enggak masuk ranah pemerintah kota,” paparnya.
Budi Leksono juga menyoroti bahwa dari 13 makam yang dikelola pemerintah kota, terdapat hampir 300 makam lainnya yang merupakan milik warga masyarakat. Ia berharap agar semua makam, baik yang dikelola pemerintah maupun warga,dapat tertata rapi dan tidak terkesan kumuh.
“Lha ini benar-benar ada sebuah kepastian bahwa mereka bisa mengajukan baik melalui dakel mungkin ya yang nanti bisa diadopsi. Sehingga infrastruktur di sana mungkin baik tempatnya penyimpanan ini apa terus lampu di dalam makam,akses masuk ke makam supaya bisa tidak di gotong-gotong dibuatkan jalan untuk supaya kereta jenazah ini masuk ini,” pungkas dia. [asg/beq]






