Sumenep (beritajatim.com) – Taman Wisata Laut Labuhan di Dusun Masaran, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, sukses mengembalikan ekosistem pesisir. Tempat ini merupakan salah satu program pengembangan masyarakat (PPM) binaan Pertamina Hulu Energy (PHE) West Madura Offshore (WMO).
Program tersebut dipilih untuk memperbaiki kondisi mangrove dan terumbu karang, mengingat hilangnya fungsi hutan pesisir pantai dan tingginya tingkat abrasi. Terdata seluas 17,5 hektar mangrove rusak. Selain itu, PPM ini juga untuk meningkatkan keragaman flora dan fauna yang berstatus dilindungi dari ancaman kepunahan.
Taman wisata laut tersebut merupakan pengembangan ekowisata pesisir Labuhan, setelah sebelumnya sukses membangun Taman Pendidikan Mangrove yang dikelola Kelompok Tani Cemara Sejahtera. Sedangkan Taman Wisata Laut dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning.
PHE WMO tercatat mulai ‘turun tangan’ mengembangkan taman wisata laut seluas 8 hektar ini sejak 2017. Kontraktor migas ini memiliki strategi besar mengembangkan ekowisata Pesisir Labuhan untuk menyejahterakan kawasan Pantai Utara. Desa Labuhan pun dipilih menjadi percontohan dalam menggerakkan kegiatan pendidikan berbasis lingkungan.
Pengembangan yang dilakukan di Taman Wisata Laut Labuhan, merupakan salah satu upaya pencapaian Program Kampung Iklim (PROKLIM) yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
PHE WMO bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan dan DLH Provinsi Jawa Timur mengusulkan Dusun Masaran sebagai Dusun Kampung Iklim pada 2021. Dusun Masaran ini pun menjadi dusun kampung iklim pertama di wilayah Madura.

Pengelola Taman Wisata Laut Labuhan, Mohammad Syahril menuturkan, kehadiran Pertamina di Desa Labuhan merubah banyak hal. Masyarakat yang awalnya tidak peduli pada lingkungan, abrasi pantai yang semakin parah, marak penembakan burung, lambat laut berubah. Masyarakat sekitar mulai ‘melek’ lingkungan.
Ia bercerita, awalnya dia pun tidak memiliki pengetahuan mumpuni tentang mangrove. Namun setelah PHE WMO mengirimkannya bersama 9 warga lain mengikuti pelatihan dan studi banding ke Mangrove Center Tuban (MCT), ia mulai memahami bagaimana budidaya mangrove itu.
“Melalui pelatihan ke Tuban yang difasilitasi Pertamina itu, kami jadi tahu bagaimana menyemai, kemudian pembibitan dan perawatan mangrove serta cemara laut,” ujarnya.
Ia melanjutkan, saat Pertamina memutuskan mengembangkan ekowisata Labuhan dari Taman Pendidikan ke Taman Wisata Laut, dirinya memutuskan untuk membentuk Pokdarwis ‘Payung Kuning’ pada 2018. Pokdarwis tersebut mendapat kepercayaan penuh untuk mengelola Taman Wisata Laut.
“Di Taman Wisata Laut ini konsep kami ada tiga yakni konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk konservasi ini kami berupaya melakukan konservasi darat, laut, dan udara,” paparnya.
Untuk konservasi darat adalah melakukan penanaman mangrove dan cemara laut, konservasi udara berupa perlindungan satwa, dan konservasi laut berupa penanaman terumbu karang.
“Khusus untuk terumbu karang ini, ada penanaman 80 kubah beton berisi 480 fragmen karang untuk memperbaiki nilai kesintasan karang dan mencegah abrasi,” paparnya.
Ia mengakui bahwa ‘support’ PHE WMO dalam mengembangkan Desa Labuhan benar-benar telah dirasakan masyarakat dampaknya, khususnya peningkatan ekonomi. Masyarakat setempat dulu cukup banyak yang pergi ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sekarang setelah ada keterlibatan Pertamina, TKI hanya menjadi cerita lalu.
“Warga di sini membuka katering untuk melayani para tamu apabila ada acara-acara khusus. Ada juga yang jualan di sini sehari-harinya. Pokoknya ekonomi terus berputar di sini. Hasilnya bisa dirasakan masyarakat. Sekarang sudah tidak ada lagi yang jadi TKI ke luar negeri. Cukup usaha di sini saja,” ungkapnya.

Ia memaparkan, di Taman Wisata Laut ini ada beberapa paket wisata yang ditawarkan. Mulai paket edukasi mangrove dan terumbu karang, tracking circular sepanjang 450 meter mengelilingi mangrove, ada juga camping ground.
“Tracking circular ini menjadi tempat favorit pengunjung untuk foto-foto. Karena memang di kanan kirinya cemara laut sudah besar-besar, sehingga rindang. Pengunjung yang berjalan di tracking ini tidak akan kepanasan. Kemudian tracking ini kami cat warna-warni sehingga menarik. Bahkan sekarang banyak juga yang ambil foto pre wedding di situ,” ucapnya bangga.
Selain itu, lanjutnya, sesuai dengan keinginan awal ekowisata sebagai pusat pendidikan, Taman Wisata Laut pun menjadi rujukan penelitian mangrove.
“Sudah cukup banyak mahasiswa maupun dosen yang melakukan penelitian di sini. Alhamdulillah, manfaatnya bisa dirasakan banyak pihak,” ujarnya.
Analis Senior Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Jabanusa, Dimas Ario Rudhy Pear SKK mengapresiasi dukungan yang diberikan PHE WMO untuk Desa Labuhan. Ia menjelaskan, PPM merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan.
“PPM itu melibatkan partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendukung kelancaran operasi hulu migas,” terangnya. [tem/beq]






