Jember (beritajatim.com) – Muhaimin Iskandar dinilai berhasil memimpin Partai Kebangkitan Bangsa selama lima tahun terakhir. Ibarat pendekar, ia memiliki jurus yang bisa mengalahkan lawan pada saat PKB dihantam persoalan.
Muhaimin dinilai cukup licin dalam bersiasat. “Ibarat ilmu kanuragan, kalau lawan pakai ajian Segoro Geni, beliau pakai ajian Naga Puspa. Sudah tahu langkahnya dan ke mana arahnya,” kata Ketua Dewan Syuro DPC PKB Jember KH Badrus Shodiq, usai rapat pleno cabang, Kamis (15/8/2024).
Kemampuan ini jadi alasan Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, tetap mendukung Muhaimin Iskandar untuk menjadi ketua umum partai tersebut pada 2024-2029, dalam Muktamar Nasional di Bali, 24-25 Agustus 2024.
“Kami meminta kembali agar Gus Muhaimin Iskandar bisa memimpin kembali PKB. Alasannya, di bawah kepemimpinan Gus Muhaimin, perolehan suara PKB di seluruh Indonesia meningkat signifikan dalam sejarah pendirian sejak 1999,” kata Ketua DPC PKB Jember Ayub Junaidi.
Muhaimin dinilai berhasil memanajemen PKB dengan baik. “Seluruh kader PKB solid dalam menghadapi Pemilu 2024. Daerah-daerah di mana dulu PKB belum pernah memiliki keterwakilan di DPRD kabupaten, provinsi, hingga DPR RI, kini berhasil pecah telur,” kata Ayub.
Tak hanya di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang memang basis konstituen tradisional PKB. Bahkan di Sumatra Barat dan Jakarta pun PKB memiliki wakil di parlemen. “Kami bukan partai lokal, tapi partai nasional. Ini bentuk kesuksesan Gus Muhaimin memimpin PKB,” kata Ayub.
Badrus Shodiq juga menilai Muhaimin berani bersikap dalam konstalasi politik nasional. “Alhamdulillah, sikapnya tidak mengecewakan,” katanya.
PKB selama ini memang menghadapi rintangan untuk besar. “Ternyata beliau adalah pohon yang besar. Tiupan angin besar. Alhamdulillah, di Kabupaten Jember seluruh jajaran pengurus mulai dari pengurus DPC, pengurus anak cabang, sampai ranting, kendati banyak rintangan, PKB tetap istiqomah,” kata Badrus.
Namun di bawah kepemimpinan Muhaimin, Badrus percaya PKB akan semakin besar. Konflik dengan Pengurus Besar NU disikapinya sebagai hal biasa. “Pohon semakin besar semakin tinggi, tiupan angin semakin kencang. Kalau tidak mau menghadapi tantangan, jangan jadi pohon besar. Jadi rumput saja,” katanya. [wir]






