Malang (beritajatim.com) – Dosen Departemen Biologi Universitas Negeri Malang (UM)) Hendra Susanto, Ph.D., bersama tim mahasiswa mengembangkan deterjen ramah lingkungan dari daun kelor. Inovasi ini dilatarbelakangi penggunaan deterjen kimia secara massal berpotensi mencemari lingkungan.
Menurut Hendra, deterjen kimia yang umum dijual mengandung bahan berbahaya seperti fosfat dan synthetic surfactants yang sulit terurai, mencemari air serta tanah, dan mengancam kualitas ekosistem. Dampaknya tak hanya dirasakan oleh organisme akuatik, tetapi juga manusia, dengan risiko kesehatan iritasi kulit dan gangguan pernapasan.
“Kami sudah melalui berbagai tahap pengembangan dan uji coba di laboratorium, produk ini diberi nama “Morigent” dan untuk pertama kalinya diperkenalkan pada santri di Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim, Surabaya, pada Sabtu 10 Agustus lalu,” ujarnya.
Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim dipilih karena banyaknya santri yang tinggal di sini sehingga dapat mengurangi dampak negatif penggunaan deterjen sintetis pada lingkungan. Di samping itu, kebersihan sejalan dengan ajaran Islam untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam.
Dikatakan Hendra, para santri mendapatkan pelatihan teori dan praktik tentang pembuatan deterjen cair dengan bahan surfaktan daun kelor. Diawali dengan penjelasan bahaya penggunaan synthetic surfactants dalam deterjen komersial yang dapat merusak ekosistem.
“Setelah itu, santri diajak mempraktikkan langsung pembuatan deterjen ramah lingkungan menggunakan metode Prinsip Rotary Evaporator Sederhana (PRES). Pembuatan deterjen cair ini dimulai dengan menumbuk daun kelor kering hingga menjadi bubuk, kemudian direbus untuk mengekstraksi senyawa aktifnya,” ucapnya.

Devi Mariya Sulfa, salah satu mahasiswa tim pengembang menjelaskan bahwa proses setelah disaring larutan dicampur dengan minyak esensial dan sedikit garam, lalu didinginkan. Produk akhir diuji kualitasnya meliputi organoleptik, stabilitas busa, dan daya bersihnya. Jika memenuhi standar, deterjen dikemas dan siap digunakan.
“Kami senang karena santri berhasil menyelesaikan pelatihan menerima produk deterjen hasil buatan mereka sendiri. Kegiatan ini memperkuat komitmen pesantren dalam menjaga lingkungan sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Devi.
Program pengabdian masyarakat ini menjadi bagian dari upaya UM untuk terus mengembangkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengabdian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 (industri, inovasi dan infrastruktur). [dan/beq]






