Gresik (beritajatim.com) – Pasca penolakan ceramah agama yang berlangsung di Alun-Alun Wong Bodho, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Gresik.
Ormas Keagamaan duduk satu meja untuk membahas insiden ceramah yang diisi oleh KH.Imamuddin Ustman yang mematik reaksi warga pecinta habaib.
Dalam forum tersebut yang dikemas rapat kordinasi itu, bertujuan untuk meredakan ketegangan, mencari solusi, dan mencegah terjadinya konflik serupa di masa mendatang.
Pertemuan yang dihadiri oleh berbagai tokoh. Diantaranya, Bupati Fandi Akhmad Yani, Kapolres AKBP Arief Kurniawan, Ketua MUI KH Mansoer Shodiq, dan perwakilan dari berbagai organisasi keagamaan.
Rapat yang berlangsung dua jam lebih itu, terungkap bahwa perbedaan pemahaman mengenai isi ceramah menjadi akar permasalahan. Kendati demikian, semua pihak sepakat bahwa menjaga kerukunan umat beragama adalah prioritas utama.
Sebagai tindak lanjutnya agar kejadian ini tidak terulang lagi. Disepakati Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) akan berkordinasi terlebih dulu untuk mencegah terjadinya miskomunikasi dan konflik.
Selain itu, seleksi penceramah akan dilakukan lebih ketat. Serta isi ceramah yang disampaikan supaya fokus pada pesan yang membangun, dan menjaga persatuan serta toleransi.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum akan meningkatkan pengawasan terhadap media sosial untuk mencegah penyebaran hoaks maupun ujaran kebencian.
“Gresik adalah rumah bagi berbagai macam budaya dan agama. Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan,” ujar Fandi Akhmad Yani, Rabu (7/8/2024).
Sementara Kapolres Gresik, AKBP Arif Kurniawan menuturkan, pihaknya akan terus berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kami akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang mencoba mengganggu keamanan dan ketertiban,” pungkasnya. (dny/ian)






