Jakarta (beritajatim.com) – Safari politik yang dilakukan oleh Prabowo Subianto menjelang pelantikannya sebagai Presiden 2024 memunculkan berbagai spekulasi dan analisis politik di kalangan pengamat.
Prabowo yang memenangkan kontestasi Pemilihan Presiden 2024 dengan Partai Gerindra tentunya saat ini sebagai partai penguasa (ruling party) menunjukkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat stabilitas politik dan persatuan nasional.
Pertemuan dengan Habib Rizieq Shihab: Mengayomi Semua Kalangan
Prabowo melalui Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, dan Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menemui Habib Rizieq Shihab, imam besar Front Persatuan Islam (FPI) pada Sabtu 3 Agustus 2024 dan menemui korban represi Orde baru pada Minggu 4 Agustus 2024.
Dalam pertemuan di Petamburan Jakarta itu hadir juga Ketua DPP FPI, Muhammad Alatas; Bendahara Umum FPI, Ali Alwi Alatas; Koordinator Hubungan Masyarakat Aksi Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin, dan Aziz Yanuar.
Pertemuan ini menandai upaya Prabowo untuk menjalin silaturahmi dan mendengarkan aspirasi dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang selama ini dianggap sebagai kelompok oposisi.
Menurut Habiburokhman, Habib Rizieq berharap agar pemerintahan Prabowo-Gibran dapat mengayomi semua kalangan dan bersama-sama menginginkan kemajuan bangsa.
Habiburokhman menyebut pertemuannya dengan Rizieq merupakan permintaan Prabowo Subianto. Prabowo pun menitipkan salam kepada Rizieq.
Habiburokhman membantah pertemuan dengan Rizieq Shihab itu membahas soal pilkada Jakarta. Ia menyebut pertemuannya dengan pentolan FPI itu dalam rangka melakukan silaturahmi kebangsaan.
Menurut Habuburokhman, dalam pertemuan itu, mereka lebih banyak mendengar aspirasi dan nasihat dari Rizieq. “Bagaimanapun beliau adalah tokoh agama,” ujar Habiburokhman.
Ketua DPP bidang Advokasi FPI, Aziz Yanuar yang mengikuti pertemuan tersebut bercerita, Rizieq dan kedua orang dekat Prabowo Subianto itu berdiskusi banyak hal. Salah satunya mengenai pemerintahan yang akan dijalankan Prabowo-Gibran hingga dinamika politik saat ini.
Menghargai Masa Lalu: Pertemuan dengan Korban Represi ORBA 98
Selain pertemuan dengan Habib Rizieq, langkah penting lainnya adalah pertemuan dengan aktivis dan keluarga korban kerusuhan 1998.
Dasco Ahmad mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut bukan hanya sekadar silaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah dan perjuangan mereka. Diskusi dari hati ke hati ini diharapkan dapat membawa pemerintahan Prabowo-Gibran lebih inklusif dan responsif terhadap isu-isu keadilan sosial.

Silaturahmi Kebangsaan Bersama Keluarga Orang Hilang Tahun 98 dan Para Aktivis 98, diantaranya (dari kiri-kanan):
1. Fitriwani (Anak Wiji Tukul)
2. Keluarga Aan Rusdianto Aktivis 98
3. Ibu Heni (Kakak Herman Hermawan, Aktivis 98)
4. Ibu Hera (Kakak Herman Hermawan, Aktivis 98)
5. Ibu Fatah (Ibunda Gilang, Aktivis 98)
6. Aan Rusdianto (Aktivis 98)
7. Pak Utomo (Ayah Bimo Petrus, Aktivis 98)
8. Hakim (Anak Dedi Hamidun, Aktivis 97)
9. Suyadi (Kakak dari Suyat, Aktivis 98)
10. Paiyan Siahaan (Ayah Ucok Siahaan,Aktivis Mei 98)
11. Ayahnya Mugiyanto Aktivis 98
12. Mugiyanto (Aktivis 98)
13. Nina (Adik dari Yadin, Aktivis Mei 98)
14. Navila (Anak dari Nova Alkatiri, Aktivis 97)
Tentunya pertemuan ini memancing Pro dan kontra di kalangan aktivis pergerakan, namun Ragil Nugroho eks pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dalam sebuah blognya memuji Mugiyanto Sipin korban penculikan dan keluarga korban lainnya bertemu Sufmi Dasco Ahmad dan Habiburokhman.
Langkah tersebut sudah segaris dengan upaya membangun Persatuan Nasional untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Dendam politik sudah waktunya direntas dan tak perlu diperam terus-menerus. Saatnya menatap masa depan karena hidup tidak berada di masa lalu.
Pasca reformasi, korban penculikan menjadi korban dua kali. Pertama, mereka menjadi korban penghilangan paksa dalam konflik politik negara Orde Baru. Kedua, mereka menjadi korban human trafficking demi kepentingan politik dan ekonomi.
Apa yang dilakukan Mugiyanto, korban serta keluarga korban penculikan adalah untuk menyelesaikan masalah kedua yaitu sebagai komoditas ekonomi dan politik. Selama ini korban penculikan menjadi korban human trafficking yang sangat biadab. Paling tidak 5 tahun sekali mereka dijadikan komoditas untuk dijual demi kepentingan pasar politik dan ekonomi.
Langkah Mugiyanto, Aan Rusdianto mengikuti langkah yang lebih dulu ditempuh oleh korban penculikan yang lain, yaitu Andi Arief, Nezar Patria dan Faisol Reza.
Mereka sudah lebih dulu berdamai dengan masa lalu, menapak ke depan untuk melanjutkan hidup. Kita tak bisa hidup hanya bersandar pada nostalgia masa lalu. Ada keberanian yang mesti diambil untuk keluar dari masa yang telah lewat, segetir apapun itu.
“Sebagai manusia yang beradab, kita sudah muak terhadap kapitalisasi terhadap korban penculikan,” kata Ragil.
Menjaga Stabilitas Politik: Tantangan dan Harapan
Prabowo yang akan dilantik pada 20 Oktober 2024 bersama Gibran Rakabuming Raka memiliki visi untuk masa depan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.
Namun, tantangan untuk menjaga stabilitas politik di tengah beragam aspirasi masyarakat tentu tidak mudah.
Pertemuan-pertemuan strategis yang dilakukan Prabowo dan timnya menunjukkan niat baik untuk merangkul semua kalangan, namun juga perlu diiringi dengan kebijakan yang konkret dan berdampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.
Safari politik Prabowo ke Habib Rizieq dan korban represi ORBA 98 menunjukkan langkah awal yang penting dalam membangun pemerintahan yang inklusif dan berkeadilan.
Harapan besar masyarakat kini tertuju pada bagaimana Prabowo dan Gibran mampu mengimplementasikan visi mereka dalam kebijakan yang nyata dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Stabilitas politik dan persatuan nasional harus menjadi prioritas utama agar cita-cita Indonesia yang maju, adil, dan makmur dapat terwujud. (ted)






