Surabaya (beritajatim.com) – Mayjen TNI Farid Makruf berhasil lulus ujian doktor dengan predikat cumlaude dan IPK nyaris sempurna 3,99 di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah.
Gelar akademik tertinggi itu diberikan Universitas Tadulako setelah Farid Makruf menjalani sidang disertasi Senin (05/08/2024) kemarin.
Mantan Pangdam V Brawijaya itu mendapatkan gelar doktor setelah menyelesaikan tesisnya yang berjudul Analisis Sistem Budaya Ketadulakoan dalam Perspektif Ketahanan Nasional.
Dengan tesisnya itu, Farid Makruf menyajikan hal-hal baru yang tidak banyak diketahui sebelumnya tentang tanah Tadulako.
Selain itu, disertasi Farid Makruf juga memberikan alasan dan solusi konkrit mengapa budaya Ketadulakoan harus diangkat kembali.
Menurut Prof Akbar salah satu penguji, Disertasi yang dipresentasikan secara terbuka oleh Farid Makruf sendiri menunjukan kemampuan dan kejelian dari promovendus (pembuat disertasi) untuk memadukan teori dengan pengalamannya sebagai penjaga ketahanan Republik Indonesia.
“Ini adalah hal yang baru, menandakan keluasan dan kedalaman ilmu intelijen dari promovendus. Saya sangat mengapresiasi karena temuannya ini sangat orisinil,” kata prof Akbar salah satu penguji disertasi Farid Makruf.
Kepada wartawan, Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar ST, MT., IPU., ASEAN Eng yang memimpin langsung sidang ujian terbuka mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Farid Makruf di disertasinya menunjukkan kedalaman ilmu, keahlian, dan kontribusi yang luar biasa dalam memajukan pengetahuan tentang budaya lokal dan kaitannya dengan ketahanan nasional.
“Saya bangga dan mengapresiasi serta mengucapkan selamat kepada Mayjen TNI Dr. Farid Makruf atas prestasinya yang luar biasa,” ucapnya.
Sementara itu, Mayjen TNI Dr Farid Makruf sendiri mengucapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya selama proses pendidikan doktoral ini. Kesuksesan Farid mendapatkan gelar doktor dengan predikat cumlaude dan nilai IPK nyaris sempurna tidak lepas dari bimbingan Prof. Dr. Muhammad Nur Ali, M.Si dan Dr. Ahmad Herman, M.Si, yang telah memberikan bimbingan, nasehat, dan dorongan.
Farid juga mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh tim penguji seperti Prof. Amar, Prof. Adam Malik, Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si, MH, Dr. Hasan Muhammad, Prof. Dr. H. Muh. Akbar, M.Si, CWM, Dr. Ir. Benny Hutahayan, S.H, M.H, M.P.A, Prof. Slamet, dan Dr. Sitti Chaeriah Ahsan, M.Si. yang sudah melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis ketika proses sidang. Tidak lupa, Farid juga mengucapkan terimakasih kepada keluarganya yang selalu menguatkan agar tidak pernah lelah untuk berproses.
“Tanpa dukungan moral dari semua pihak termasuk keluarga, saya tidak mungkin mencapai titik ini. Semoga apa yang saya terima bisa menginspirasi kalangan muda untuk terus belajar dan meraih impian,” pungkas Farid. (ang/ted)






