Bojonegoro (beritajatim.com) – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno turun tangan ke Bojonegoro.
Dalam agenda lawatan ke kota kelahirannya itu, Pratikno mengunjungi sejumlah tempat untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat kemaslahatan umat serta kemajuan pendidikan.
Diantaranya kunjungannya itu, Pratikno datang ke Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilunnajah Simo, Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, kemudian dilanjutkan ke Ponpes At-Tanwir Desa Talun Kecamatan Sumberrejo, dan di Universitas Sunan Giri (Unugiri) Jalan A Yani Bojonegoro.
Pria kelahiran Desa Dolokgede Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro itu saat di Pondok Pesantren At-Tanwir membantu dalam penggunaan tanah milik negara yang akan dipakai sebagai bangunan masjid. Setelah ditelusuri, tanah tersebut merupakan milik PT Perkebunan Nasional (PTPN).
“Tiga minggu yang lalu, saya bertemu dengan para Kyai di At-Tanwir dan mereka menyampaikan bahwa di depan pondok pesantren ada bangunan terbengkalai di lahan kosong yang dipakai rumah kelelawar. Dan itu mengganggu karena ada pencemaran,” ujarnya, Jumat (2/8/2024).
Dengan adanya lahan yang kosong dan terbengkalai itu, pihaknya berharap tanah tersebut bisa dipakai sebagai pengembangan pendidikan bagi pesantren. Di At-Tanwir sendiri, kata dia, merupakan lingkungan pendidikan yang lengkap mulai dari Madrasah hingga Institut.
“Kedepan, lahan tersebut diserahkan kepada para kyai untuk dimanfaatkan bagi pengembangan pendidikan dan untuk kebutuhan fasilitas masjid kampung yang lebih representatif,” terangnya.
Dari segi pendidikan, At-Tanwir ini, kata Rektor Universitas Gadjah Mada 2012-2014 itu, sangat strategis. Karena lokasinya berada di tengah antara kawasan kota dan daerah perbatasan Lamongan. Pengembangan pendidikan di Bojonegoro ini ia lakukan sudah sejak 2 tahun lalu.
Yakni, mendampingi perkembangan Unugiri. Kemudian pengembangan di SMP Padangan, SMK Ngambon, dan SMA Negeri 2 Bojonegoro. Rencananya, untuk pengembangan pendidikan di Bojonegoro juga akan didirikan SMK Taruna. Prosesnya sekarang masih dalam pembahasan stakeholder.
“Kalau untuk SMK Taruna masih komunikasi antara Pemkab dengan Pemprov karena anggarannya nanti sharing,” pungkasnya.
Dalam akhir wawancara, Pratikno merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap peningkatan pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Karena ia juga berangkat dari seorang pendidik. Terlebih, dia besar dari lingkungan keluarga yang orang tua seorang guru. “Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk pengembangan pendidikan di Bojonegoro,” pungkasnya.
Untuk diketahui, saat melakukan lawatan ke At-Tanwir, Mensesneg Pratikno bersama rombongan dari PTPN, BSI dan juga para undangan lain langsung meninjau lokasi tanah kosong dan bangunan yang terbengkalai tersebut. Tanah kosong seluas kurang lebih 2,6 hektar tersebut yang akan diserahkan kepada Ponpes At-Tanwir. [lus/ted]






