Banyuwangi (beritajatim.com) – Tangkapan ikan pari di Banyuwangi cukup melimpah. Salah satu penghasil ikan terbesar berada di Kecamatan Muncar Banyuwangi.
Tempat ini, merupakan pelabuhan kapal dan memiliki populasi nelayan yang cukup banyak. Tercatat ratusan kapal dan ribuan warga menjajakan tenaga menjadi penangkap ikan di laut.
Muncar menjadi kawasan pelabuhan dengan berbagai macam industri. Hasil tangkapan ikan nelayan diproduksi langsung di tempat ini. Ada yang berproses modern hingga tradisional.
Salah satu produk olahan ikan tradisional ada di kawasan pesisir pantai di Dusun Sidomulyo, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Ada beberapa pengrajin dan pengusaha pengolahan ikan asap. Jenis ikan yang diolah yakni jenis ikan pari.
Nuryanto (52) salah seorang pengusaha ikan pari asap yang sukses di daerah ini. Produksinya mencapai 1 kwintal setiap hari.
Dengan harga Rp 3.500 hingga Rp 4500 per tusuk, Nuryanto mampu mengantongi Rp 3 juta sehari. Wilayah pengiriman masih memenuhi kebutuhan untuk konsumsi warga di Banyuwangi.
“Mayoritas ikan pari. Tergantung jumlah ketersediaan ikan pari yang masuk ke kami juga,” katanya.
Produksinya masih menggunakan proses tradisional. Memanfaatkan batok dan serabut kelapa, serta limbah bonggol jagung untuk proses pengasapan ikan pari.
Pemilihan bahan bakar untuk pengasapan dinilai lebih representatif. Pasalnya, selain menghasilkan aroma yang sedap pada ikan pari juga bernilai ekonomis.
“Sengaja pilih itu karena aromanya yang terasa,” terangnya.
Bahkan, produksi ikan pari asap Banyuwangi ini pernah diminati pasar mancanegara. Terutama pesanan datang dari negeri tirai bambu, China.
“Pernah diminati untuk dikirim ke China juga. Tapi kita tidak bisa karena targetnya harus sampai puluhan ton. Sementara stok ikan pari kami tidak sampai sebanyak itu,” tutur Nuryanto.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku senang dengan aktivitas warga di tempat ini. Selain menjadi ladang penghasilan, produksi ikan pari asap juga menumbuhkan ekonomi bagi warga sekitar.
“Pengolahan ikan di sini akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan cold storage. Apalagi, di sini melibatkan warga dan istri nelayan. Cara semacam ini bagus. Bapaknya melaut, istrinya bisa melakukan aktivitas yang produktif. Ekonomi bergeliat,” pungkas Ipuk. [rin/aje]






