Surabaya (beritajatim.com) – Maternity Expo dan In Vitro Fertilization Festival (IVFF) kembali hadir di Kota Surabaya, tepatnya di Atrium Grand City Mall. Festival bayi tabung ini akan digelar selama empat hari mulai tanggal 25-28 Juli 2024.
Dalam kegiatan ini, masyarakat atau pun pasangan yang mengalami gangguan kesuburan dapat berkonsultasi dengan para ahli. Di situ, telah disediakan stand-stand dari sejumlah klinik bayi tabung unggulan dari seluruh Indonesia.
“Harapannya, agar masyarakat tidak mencari layanan bayi tabung ke luar negeri, cukup di Indonesia, Surabaya dan kota-kota yang punya klinik bayi tabung unggulan,” kata CEO Medical Tourism dr Niko Azhari Hidayat, Kamis (25/7/2024).
Ia menjelaskan, kebutuhan akan layanan bayi tabung di Indonesia begitu tinggi. Namun, masyarakat lebih memilih untuk mendapatkan layanan di luar negeri. Hal inilah yang menjadi perhatian pihaknya dan pemerintah.
“Kemenkes RI berharap agar siklus untuk menciptakan bayi tabung ditingkatkan. Dari 50 ribu siklus, yang masih tercapai mungkin tidak lebih dari separuhnya. Ini sayang, harusnya bisa dikuatkan lagi di Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, melalui festival ini para dokter, klinik, dan rumah sakit dapat show of force agar masyarakat terinformasikan bahwa di Indonesia ada layanan bayi tabung yang kualitasnya tak kalah dari layanan yang ada di luar negeri.
“Kalau teman-teman klinik tampil, tentu promosi dan komunikasi tertata. Masyarakat butuh itu. Ini relatif membantu pemerintah merubah stigma dokter Indonesia susah diajak bicara. Kita coba kikis stigma negatif itu, karena itu yang membuat masyarakat pergi ke luar,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) Prof Hendy Hendarto melihat bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami tentang masalah gangguan kesuburan.
Apalagi tentang klinik-klinik vertilitas. Menurutnya, masyarakat dimungkinkan tidak mengetahui jika terdapat layanan bayi tabung di Indonesia. Sehingga, 8 ribu pasangan di Indonesia memilih program bayi tabung di luar negeri.
“Data Perfitri, di Indonesia ada 59 klinik. Tentu memiliki kualitas sama dengan yang diharapkan masyarakat yang mengalami masalah gangguan kesuburan. Jadi tidak perlu ke luar negeri, cukup di Indonesia,” kata Prof Hendy.
Ia menambahkan, setidaknya ada 4,3 juta atau 15 persen pasangan usia subur di Indonesia yang mengalami masalah kesuburan. Namun, terdapat mispersepsi di tengah masyarakat dalam memahami gangguan kesuburan itu.
“Budaya kita kalau ada pasangan datang, belum punya anak, istrinya harus periksa. Padahal gangguan kesuburan itu 40 persen disebabkan oleh suami, 40 persen oleh istri, 20 persen oleh dua-duanya. Jadi keduanya harus periksa,” ungkapnya.
Menurutnya, hal-hal semacam ini perlu diedukasikan ke masyarakat. Ini juga merupakan tugas dari Perfitri, yakni memberikan edukasi dan menjadikan masyarakat mudah dalam mengakses layanan bayi tabung.
“Nah, ini salah satu caranya lewat Martenity Expo dan IVFF. Di Surabaya ini sudah kedua kalinya. Ke depan harapannya akan ke Jakarta karena klinik bayi tabung paling banyak memang di sana,” ungkap Prof Hendy. [ipl/kun]






