Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) meresmikan Unit Layanan Disabilitas (ULD). Ini sebagai langkah menuju kampus Katolik inklusif bagi sivitas akademika dan masyarakat.
“Unit layanan ini menjadi penting menjalankan inklusivitas pendidikan. Melalui unit layanan ini menunjukkan dukungan luar biasa untuk pembelajaran bagi setiap manusia,” kata Rektor UKWMS Drs Kuncoro Foe, Selasa (23/7/2024).
Ia mengatakan bahwa UKWMS sebagai karya Gereja Keuskupan Surabaya telah menerima hibah dari pemerintah sebagai wujud fasilitas serta bantuan untuk pendirian Unit Layanan Disabilitas ini.
“UKWMS sebagai kampus Katolik mengemban peran penting untuk menggerakkan kesetaraan sebagai seorang manusia, berdasarkan nilai-nilai Katolik di dalam lingkup pendidikan,” ungkapnya.
Selain peresmian, juga digelar talkshow dengan narasumber mahasiswa disabilitas Valerie Rizkia Fabrian dan Josephine Kintan alumnus dari Fakultas Teknologi Pertanian. Kemudian Andi Rachmadi dari Komunitas Kedaibilitas, serta RD. Tri Budi Agustinus Utomo dari Keuskupan Surabaya.
Andi mengungkapkan, banyak perundungan yang tidak terekspos diterima oleh rekan disabilitas. Ini disebabkan minimnya pemahaman dan edukasi masyarakat mengenai disabilitas, jenis disabilitas, dan bentuk respons yang ditunjukkan kepada rekan disabilitas.
Karena hal tersebut, menurut Andi, perlu untuk melatih penyandang disabilitas agar dapat menunjukkan kemampuan dan kelebihan mereka sehingga dapat diterima oleh masyarakat.
“Melalui Kedaibilitas kami melatih teman-teman disabilitas untuk mandiri secara emosi, fisik, fungsi tubuh, sosial, dan ekonomi sehingga mereka siap untuk terjun di masyarakat. Jika diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan teman-teman disabilitas dapat diterima dengan baik di masyarakat,” jelas Andi.
Tri Budi mengatakan, kepedulian untuk menggalakkan inklusivitas serta memberi ruang yang setara bagi penyandang disabilitas, tak hanya berasal dari komunitas disabilitas di lingkup awam.
Gereja Katolik juga mengambil peran untuk melindungi dan memberi ruang hak-hak anak dan orang dewasa disabilitas. Keuskupan Surabaya memiliki Komunitas Petrus Surabaya sebagai paguyuban ekaristi anak-anak tuli Katolik.
“Inisiasi terbentuknya komunitas tersebut berawal dari kerinduan rekan-rekan disabilitas untuk bisa beribadah. Tetapi kala itu, belum ada layanan khusus ibadah bagi mereka. Sehingga Gereja perlu melakukan pendataan umat Katolik difabel, agar memiliki ruang yang ramah bagi mereka, sama seperti umat lainnya,” bebernya. [ipl]






