Yogyakarta (beritajatim.com)- Trend Childfree alias tidak berkeinginan memiliki anak makin menjadi. Padahal tren ini justru tidak baik dan tidak direkomendasikan oleh BKKBN.
Dari BKKBN menginstruksikan untuk mengatur jarak kehamilan dan membatasi jumlah kelahirana.Hal ini diperuntukkan untuk menjadikan keluarga berkualitas dan sehat lahir batin.
Sementara tren childfree sama sekali tidak direkomendasikan. Deputi Dalduk BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto menuturkan kaitan child free di Indonesia masih belum menjadi ancaman. Hal ini karena yang menggemborkan dan kampanye childfree masih sedikit.
Menurutnya childfree terjadi karena perempuan bekerja dan takut punya anak dengan berbagai konsekuensi dan kesulitan seperti kesulitan berbagi peran, pola asuh, cuti kehamilan, baby blues dan sebagainya.
“Padahal di Indonesia sudah tidak ada alasan lagi childfree karena saat ini kebijakan i Indonesia sangat ramah perempuan seperti cuti hamil jadi 6 bulan termasuk suami juga mendapatkan cuti, program suami siaga, akses ruangan menyusui Sudah tersedia bebas dimana-mana. Seharusnya tidak adalagi alasan perempuan Indonesia childfree,” urainya.
Meski demikian atas isu ini kita tidak boleh cuek dan harus aware meskipun fenomena kecil namun jika terus digaungkan menjadi besar dan akhirnya banyak pengikut.
Pada bagian lain, BKKBN imbuhnya memiliki program untuk anak muda kerjasama dinas Pendidikan yakni sosialisasi ke sekolah di jalur formal an jalur non formal ada Pramuka.
“Pramuka salah satu cara BKKBN untuk mengenalkan Program Bangga Kencana karena Pramuka terintegrasi dengan isu kependudukan,” jelasnya usia menghadiri upacara Pramuka di Beteng Vredeburg Yogyakarta.
Selain program Bangga Kencana, pihaknya menilai penanganan stunting di Yogyakarta sudah cukup baik. Hal ini karena dibantu danais dan DAK pemerintah.
“Data by name by address sudah ada dan bisa langsung dieksekusi penanganan.Menurut kami Yogyakarta ini bukan problem gizi yang jadi masalah Utama namun pola asuh dan ketidaktahuan,” bebernya. [aje]






