Blitar (beritajatim.com) – Pada tahun 2022 lalu, Bupati Blitar Rini Syarifah mendorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi untuk memiliki Unit Transfusi Darah. Dorongan itu muncul sebagai bentuk kepedulian Bupati Blitar terhadap warga yang membutuhkan transfusi darah.
Sejak saat itu RSUD Ngudi Waluyo langsung melakukan proses pendirian Unit Transfusi Darah. Dan kini setelah 2 tahun, Unit Transfusi Darah RSUD Ngudi Waluyo telah aktif beroperasi. Para karyawan pun diwajibkan untuk melakukan donor darah di Unit Transfusi Darah RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Semua dilakukan secara sukarela demi membantu kebutuhan darah pasien.
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi pun menjadi salah satu dari 2 rumah sakit di Jawa Timur yang telah memiliki Unit transfusi Darah sendiri. Keberhasilan RSUD Ngudi Waluyo ini pun mengundang rasa keingintahuan RSUD Gambiran Kota Kediri untuk melakukan studi tiru.
“Hari ini ada studi banding dari RSUD Gambiran Kediri terkait UTD RS. Jadi UTD RS sendiri adalah bagaimana rumah sakit memiliki donor darah, menyimpan darah, distribusi darah tujuannya sendiri adalah untuk kepentingan masyarakat,” kata dr. Endah Woro Utami, Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar, Kamis (11/07/2024).
Kebutuhan darah di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sendiri memang cukup tinggi. Dalam setahun rata-rata RSUD Ngudi Waluyo Wlingi membutuhkan 7 ribu kantong darah. Hal itulah yang mendorong RSUD Ngudi Waluyo Wlingi untuk mendirikan Unit Transfusi Darah sendiri.
“Setahun bisa sampai 7 ribu kantong darah, nah kalau darah itu sudah ada di rumah sakit atau fasilitas kesehatan tentunya akan lebih aman bagi pasien disamping itu keselamatannya terjamin, bahwa akses masyarakat untuk mendapatkan darah lebih terjangkau, jadi pasien tidak perlu cari cari lagi,” jabarnya.
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi pun terus melakukan pengembangan terkait pelayanan Unit Transfusi Darah. Sehingga RSUD Ngudi Waluyo berharap Unit Transfusi Darah yang merupakan hasil dorongan dari Bupati Blitar bisa ditiru dan dikembangkan oleh RSUD Gambiran Kediri. “Semoga RSUD Gambiran yang melakukan studi banding ini bisa sama dengan kita pelayanan kesehatan semakin dimudahkan dan semakin banyak UTD RS, itu harapan kita semua,” tutupnya.
RSUD Gambiran Kota Kediri memang ingin meniru Unit Transfusi Darah yang ada di RSUD Ngudi Waluyo Blitar. Pasalnya selama ini, RSUD Gambiran Kota Kediri memang belum memiliki Unit Transfusi Darah. “Ini kami kesini karena ingin semacam ingin meniru Unit Transfusi Darah yang ada disini, karena disini berkembang pesat dan ini satu satunya di Jawa Timur selain RSUD dr. Soetomo Surabaya,” ucap Fahmi Adi, Wakil Direktur RSUD Gambiran Kediri.
Dalam kesempatan itu, RSUD Gambiran Kediri juga melihat langsung Unit Transfusi Darah yang ada di RSUD Ngudi Waluyo Blitar. Para petugas kesehatan dari RSUD Gambiran juga bertanya langsung ke pegawai RSUD Ngudi Waluyo soal kiat kiat membangun serta mengembangkan Unit Transfusi Darah. “Karena kendala-kendala yang kami hadapi di lapangan saat penyediaan darah maka kami harus berkolaborasi sehingga kebutuhan darah di lapangan itu bisa tercukupi,” pungkasnya. (owi/kun)






