Bondowoso(beritaJatim.com) – Peninggalan zaman kolonial Belanda di Indonesia tidak hanya menjadi koleksi museum. Di Kabupaten Bondowoso, ada home stay peninggalan zaman Belanda yang desainnya jadul full.
Home Stay itu bernama Catimor. Berada di Dusun Blawan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso.
“Ada 40 unit kamar di sini. Semua peninggalan dari zaman Belanda,” kata Farhan, salah seorang petugas di Catimor Home Stay Blawan kepada BeritaJatim.com, Minggu (30/6/2024).
Catimor Home Stay berada di kawasan PTPN XII Bondowoso. Dari kantor Kecamatan Ijen, hanya menempuh waktu 10-20 menit saja.
Pantauan di lapangan, bangunan Home Stay ini tampak megah dan kokoh. Di bagian dinding kamar ada yang masih berupa anyaman bambu.
“Semua desain ruangan mulai dari kamar, ruang makan dan ruang tamu dari zaman Belanda sampai sekarang ya tetap seperti ini. Tidak pernah diubah,” sebutnya.
Sebab berada di kawasan wisata yang terdapat gunung berapi, tentu Home Stay ini dilengkapi dengan pemandian air hangat. “Tapi air hangatnya alami, langsung dari sumbernya, bukan karena dipanaskan dengan alat modern,” ucap Farhan.
Justru, sumber mata air yang mengalir ke setiap kamar dan kolam pemandian harus dicampur dengan air dingin. “Untuk menetralisir belerang dan suhu supaya tidak terlalu panas. Sehingga layak untuk dibuat mandi tamu,” kata dia.
Empatpuluh unit kamar itu dibagi 3 jenis. Yakni Cattura, Pasumah dan Blue Ocean. “Tarif cattura antara Rp 200 ribu – Rp 250 ribu per malam,” terangnya.
Fasilitas Cattura di antaranya tempat tidur 1 single bed hingga triple bed. “Pasumah harganya Rp 250 ribu-Rp 350 ribu per malam,” sebut Farhan.
Sedangkan Blue Ocean tarifnya yang paling mahal. Mencapai Rp 600 ribu per malam. “Karena ada TV nya dan double king bed. Untuk kamar ini rata-rata yang menyewa kalangan turis asing,” tuturnya.
Kepala Desa Kalianyar, Muhammad Faozi menuturkan, Catimor Home Stay adalah salah satu destinasi wisata yang berada di desanya.
“Mayoritas objek wisata di Ijen berada di Desa Kalianyar. Ada Black Lava Plalangan, Air Terjun dan Pemandian Air Panas Blawan, Kawah Wurung, Kalipait dan lainnya,” beber Faozi.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bondowoso, Mulyadi menyatakan, banyaknya wisata di Kota Tape adalah anugerah.
“Unesco telah memberikan Bondowoso dan Banyuwangi piagam penghargaan UGG (Unesco Global Ijen Geopark) September 2023 lalu. Ini prestasi yang harus dipertahankan,” katanya, Senin (1/7/2024).

Ganjaran penghargaan itu sebab Bondowoso dan Banyuwangi memiliki Taman Bumi, lengkap dengan ragam wisata natural yang bertebaran di wilayah tersebut.
“Jadi objek wisata maupun spot pendukung wisata di Bondowoso yang masuk Ijen Geopark ini harus dilestarikan dan dipertahankan. Bukan mengubah yang sudah ada,” tegasnya. (awi/ted)






