Lumajang (beritajatim.com) – Keindahan embun upas yang menyelimuti Ranupani setiap pagi ternyata menyimpan bahaya bagi para petani kentang di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Senin (24/6/2024)
Suhu udara dingin yang mencapai 8-9 derajat Celcius dan embun upas yang menyelimuti tanaman kentang dapat menyebabkan tanaman layu dan mati.
“Embun upas ini memang indah, tapi bagi kami petani kentang, ini adalah musuh,” ungkap Karya, salah satu petani kentang di Ranupani.
Karya menjelaskan bahwa embun upas dapat membuat kentang tidak tumbuh secara normal, bahkan mati. Meskipun ada kemungkinan tanaman kentang masih bisa hidup, hasil panennya tidak akan maksimal.
“Kalau tanaman kentang terkena embun upas, kemungkinan matinya lebih besar. Tanaman yang masih bisa hidup pun pertumbuhannya tidak normal,” ujar Karya.
Para petani kentang di Ranupani sudah berusaha untuk meminimalisir dampak embun upas dengan menutup tanaman menggunakan paranet. Namun, upaya ini tidak selalu berhasil, terutama di musim kemarau ketika air sulit didapatkan.
“Kalau musim panas, air di sini sulit didapat. Jadi, tanaman kentang dan lainnya mati karena kekurangan air dan terkena embun upas,” papar Karya.
Kerugian akibat embun upas ini bisa mencapai 10 juta rupiah per lahan. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi para petani kentang yang mengandalkan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Modal untuk menanam kentang di satu lahan bisa mencapai 10 juta rupiah. Kalau tanamannya mati, kami tidak mendapatkan hasil apa-apa,” terang Karya.
Tanaman lain yang juga terdampak embun upas adalah bawang. Namun, bawang memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap embun upas dibandingkan kentang, sehingga kemungkinan pertumbuhannya masih tergolong aman.
“Selain kentang, bawang juga terdampak embun upas. Tapi, bawang lebih tahan dibandingkan kentang,” pungkas Karya. [ian]






