Surabaya (beritajatim.com) – Persebaya Surabaya terakhir kali menjadi juara Liga Indonesia pada 2004. Saat itu, dalam pertandingan terakhir melawan Persija Jakarta di Gelora 10 Nopember, 23 Desember 2004, Dua pemain Brasil Danilo Fernando dan Luciano de Souza mencetak gol yang membawa kemenangan 2-1 sekaligus mengantarkan Persebaya ke tangga juara.
Liga Indonesia 2004 yang saat itu disponsori Bank Mandiri adalah kompetisi sepak bola terketat di Indonesia sepanjang masa. Begitu ketatnya musim itu, Persebaya dan PSM Makassar sama-sama mengantongi 61 poin. Hanya selisih gol yang menjadi membedakan keduanya. Sementara Persija Jakarta di peringkat ketiga dengan 60 poin.
Keberhasilan menjuarai kompetisi level teratas ini adalah puncak dari perjalanan Persebaya selama lima tahun terakhir saat itu. Setelah menjadi runner-up pada 1999, Persebaya menjadi semifinalis pada 2001 dan terdegradasi pada musim 2002. Setahun berikutnya pada musim 2003, Persebaya kembali ke level teratas (Divisi Utama) dengan predikat juara Divisi I.
Namun setelah menjadi juara Liga Indonesia 2004, Persebaya belum pernah membawa trofil kompetisi sepak bola level tertinggi negeri ini ke Surabaya. Bajul Ijo atau Green Force justru mengalami masa naik turun bagai roller-coaster dan yo-yo yang tidak semuanya berurusan dengan faktor teknik di lapangan hijau.
Sebagian karena faktor politik dan membuat Persebaya dikenang bukan hanya karena pertandingan-pertandingan yang indah dan menegangkan, namun juga perjuangan suporternya di jalanan dan para pengacara di ruang pengadilan.
Semua diawali pada musim kompetisi 2005…
Musim 2005: Mogok Main dan Degradasi
Persebaya lolos ke Babak 8 Besar Divisi Utama Liga Indonesia, setelah menduduki peringkat empat Wilayah Timur dengan mengantongi 43 poin di bawah Persipura Jayapura, PSM Makassar, dan Persik Kediri. Mereka satu grup dengan PSIS Semarang dan PSM Makassar di Grup Barat yang dimainkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta:
Setelah bermain imbang 2-2 melawan PSM dan kalah 0-1 dari PSIS, Persebaya harus melakoni pertandingan terakhir melawan Persija pada 21 September 2005. Namun pertandingan urung digelar, karena Persebaya mencemaskan nasib ribuan Bonek di Jakarta yang terlibat konflik dengan suporter Persija.
Ketua Umum Persebaya yang juga Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono memerintahkan agar timnya mengundurkan diri (walk over) untuk menarik pulang ribuan Bonek. Dia tak ingin timbul korban jiwa, menyusul terjadinya perkelahian di sejumlah lokasi di Jakarta. Keputusan ini membuat Persebaya tak bisa mengikuti kompetisi Divisi Utama musim 2006 karena dilarang berkompetisi selama 16 bulan, dan akhirnya terdegradasi ke Divisi I.
Ini keputusan aneh pertama yang diterima Persebaya dari PSSI. Tim yang lolos ke Babak 8 Besar justru terdegradasi hanya karena tidak menggelar satu pertandingan. Ini berbeda dengan situasi 2002. Persebaya sempat melakukan WO dan diputuskan kalah 0-3 melawan Pupuk Kaltim. Namun Bajul Ijo terdegradasi karena posisinya berada di zona degradasi, bukan dihukum karena mogok bertanding.
Musim 2006: Juara Divisi I di Kediri
Persebaya hanya setahun berada di kompetisi level kedua. Mereka kembali ke Divisi Utama dengan predikat juara, setelah mengalahkan Persis Solo 2-0 di Stadion Brawijaya Kediri, 16 Agustus 2006. Nova Ariyanto membuka gol kemenangan pada menit 41, sebelum akhirnya ditutup dengan gol bunuh diri Denny Ariyanto pada menit 64. Pertandingan final itu sendiri diakhiri beberapa menit sebelum waktu normal, karena Bonek turun ke lapangan untuk merayakan kemenangan.
Musim 2007-2008: Tak Lolos Kualifikasi Liga Super Indonesia
Musim ini dijadikan semacam kualifikasi untuk menentukan klub-klub yang bermain di Liga Super Indonesia musim berikutnya. Ini terakhir kalinya Divisi Utama diputar dua wilayah yang diikuti 36 klub.
Persebaya gagal lolos kualifikasi, karena hanya menempati peringkat 14 Wilayah Timur dengan mengantongi 39 angka dari 11 kemenangan, 6 hasil imbang, 17 kekalahan, dan agregat gol 36-50. Konsekuensinya, Bajul Ijo tetap bermain di Divisi Utama yang berstatus level kedua di bawah Liga Super.
Kegagalan ini menghadirkan drama di tubuh Persebaya. Dua puluh tiga klub internal Persebaya berunjuk rasa di Wisma Persebaya, Jalan Karanggayam, menuntut sang ketua umum Arif Afandi untuk mengundurkan diri, karena dianggap gagal membangun prestasi. Arif seharusnya mengakhiri masa jabatannya pada 2009.
Ini fase pertama masa terberat yang dihadapi Persebaya. Pertama, klub ini harus mengubah status menjadi badan hukum perseroan terbatas (PT) jika ingin bisa berkompetisi. Kedua, memastikan adanya investor yang mau menanamkan uang di Persebaya sebagai pengganti dana hibah dari APBD yang tidak diperbolehkan untuk klub sepak bola profesional.
Berstatus PT, maka Persebaya perlu mencari pemilik karena sudah terlepas dari struktur organisasi PSSI. Namun tak mudah mencari pihak yang mau menguasai Persebaya. Pemerintah Kota Surabaya menampik untuk menanamkan modal, bahkan untuk menjadikan Persebaya badan usaha milik daerah. Namun apapun yang terjadi, waktu tak bisa menunggu. Siap atau tidak, Persebaya akhirnya berbadan hukum PT dengan mayoritas saham dimiliki klub internal yang tergabung dalam sebuah koperasi.
Musim 2008-2009: Lolos Liga Super Bersama AIM Biscuits
AIM Biscuits, sebuah biskuit yang diproduksi perusahaan dari Sidoarjo PT Aneka Indomakmur, menjadi sponsor pertama Persebaya era profesional. Sebelumnya sponsor yang menempel di bagian dada jersey Persebaya adalah nama produk yang menjadi sponsor utama liga.
Persebaya berkompetisi di Divisi Utama, level kedua dalam piramida sepak bola Indonesia, dengan target menembus Liga Super. Berada di Grup 2 atau Wilayah Timur, persebaya menduduki posisi runner-up di bawah Persema Malang dengan 55 poin, dari 18 kemenangan, 1 hasil seri, 7 kekalahan, dan agregat gol 44-19.
Di Babak 8 Besar, Persebaya satu grup dengan Persisam Samarinda, Mitra Kutai Kartanegara, dan Persigo Gorontalo di Grup K. Persebaya menempati posisi runner-up di bawah Persisam dengan mengantongi 4 angka dari 1 kemenangan, 1 seri, dan 1 kekalahan, serta agregat gol 2-2.
Di babak semifinal, Persebaya dikalahkan Persema 1-3 dalam pertandingan di Stadion Segiri, Samarinda, 26 Mei 2009. Dalam pertandingan memperebutkan tempat ketiga, Persebaya dihancurkan PSPS Pakanbaru 1-5, di Stadion Palaran, Samarinda, 29 Mei 2009.
Tinggal satu harapan Persebaya menembus Liga Super, yakni melalui play-off melawan PSMS Medan yang berada pada posisi ke-15 Liga Super, di Stadion Siliwangi, Bandung, 30 Juni 2009.
Ini pertandingan yang menegangkan suporter kedua tim. Semua gol dalam pertandingan itu dicetak melalui titik putih penalti. PSMS unggul lebih dulu pada menit 32 melalui Leonardo Martins Dinelli. Persebaya membalasnya pada menit 87 melalui si gundul Jairon Feliciano Damasio.
Persebaya akhirnya mencetak kemenangan 6-5 melalui adu penalti. Setelah Batoum Urbain Roger yang menjadi penendang pertama gagal, berturut-turut Andi Oddang, Anang Ma’ruf, Purwanto Suwondo, Jairon, Bobby Satria, dan Anderson Da Silva berhasl mengeksekusi bola dengan baik. Sementara dua pemain PSMS gagal melesakkan bola dari titik putih, yakni Leonardo dan Oktavianus Maniani. [wir]






