Persebaya Surabaya berusia 97 tahun pada 18 Juni 2024. Panjang umur dengan dua dasawarsa terakhir yang dipenuhi drama tanpa trofi juara liga.
Saya masih ingat hari itu, Kamis, 23 Desember 2004. Hujan turun lebat di Gelora 10 Nopember Surabaya. Saya di antara puluhan ribu penonton di Tribun BC bersama adik saya, menyaksikan gol yang dicetak dua pemain Brasil Danilo Fernando dan Luciano de Souza mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga Indonesia dalam kompetisi terketat sepanjang sejarah.
Begitu ketatnya musim itu, Persebaya dan PSM Makassar sama-sama mengantongi 61 poin. Hanya selisih gol yang menjadi demarkasi nasib kedua tim. Dahsyat. Sementara Persija Jakarta di peringkat ketiga dengan 60 poin.
Keberhasilan menjuarai kompetisi level teratas ini adalah puncak dari perjalanan Persebaya selama lima tahun terakhir saat itu. Setelah menjadi runner-up pada 1999, Persebaya menjadi semifinalis pada 2001 dan terdegradasi pada musim 2002. Setahun berikutnya pada musim 2003, Persebaya kembali ke level teratas (Divisi Utama) dengan predikat juara Divisi I.
Namun setelah menjadi juara Liga Indonesia 2004, Persebaya belum pernah membawa trofil kompetisi sepak bola level tertinggi negeri ini ke Surabaya. Bajul Ijo atau Green Force justru mengalami masa naik turun bagai roller-coaster dan yo-yo yang tidak semuanya berurusan dengan faktor teknik di lapangan hijau. Sebagian karena faktor politik dan membuat Persebaya dikenang bukan hanya karena pertandingan-pertandingan yang indah dan menegangkan, namun juga perjuangan suporternya di jalanan dan para pengacara di ruang pengadilan.
Musim 2005: Mogok Main dan Degradasi
Persebaya lolos ke Babak 8 Besar Divisi Utama Liga Indonesia, setelah menduduki peringkat empat Wilayah Timur dengan mengantongi 43 poin di bawah Persipura Jayapura, PSM Makassar, dan Persik Kediri. Mereka satu grup dengan PSIS Semarang dan PSM Makassar di Grup Barat yang dimainkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta:
Setelah bermain imbang 2-2 melawan PSM dan kalah 0-1 dari PSIS, Persebaya harus melakoni pertandingan terakhir melawan Persija pada 21 September 2005. Namun pertandingan urung digelar, karena Persebaya mencemaskan nasib ribuan Bonek di Jakarta yang terlibat konflik dengan suporter Persija.
Ketua Umum Persebaya yang juga Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono memerintahkan agar timnya mengundurkan diri (walk over) untuk menarik pulang ribuan Bonek. Dia tak ingin timbul korban jiwa, menyusul terjadinya perkelahian di sejumlah lokasi di Jakarta. Keputusan ini membuat Persebaya tak bisa mengikuti kompetisi Divisi Utama musim 2006 karena dilarang berkompetisi selama 16 bulan, dan akhirnya terdegradasi ke Divisi I.
Ini keputusan aneh pertama yang diterima Persebaya dari PSSI. Tim yang lolos ke Babak 8 Besar justru terdegradasi hanya karena tidak menggelar satu pertandingan. Ini berbeda dengan situasi 2002. Persebaya sempat melakukan WO dan diputuskan kalah 0-3 melawan Pupuk Kaltim. Namun Bajul Ijo terdegradasi karena posisinya berada di zona degradasi, bukan dihukum karena mogok bertanding.
Musim 2006: Juara Divisi I di Kediri
Persebaya hanya setahun berada di kompetisi level kedua. Mereka kembali ke Divisi Utama dengan predikat juara, setelah mengalahkan Persis Solo 2-0 di Stadion Brawijaya Kediri, 16 Agustus 2006. Nova Ariyanto membuka gol kemenangan pada menit 41, sebelum akhirnya ditutup dengan gol bunuh diri Denny Ariyanto pada menit 64. Pertandingan final itu sendiri diakhiri beberapa menit sebelum waktu normal, karena Bonek turun ke lapangan untuk merayakan kemenangan.
Musim 2007-2008: Tak Lolos Kualifikasi Liga Super Indonesia
Musim ini dijadikan semacam kualifikasi untuk menentukan klub-klub yang bermain di Liga Super Indonesia musim berikutnya. Ini terakhir kalinya Divisi Utama diputar dua wilayah yang diikuti 36 klub.
Persebaya gagal lolos kualifikasi, karena hanya menempati peringkat 14 Wilayah Timur dengan mengantongi 39 angka dari 11 kemenangan, 6 hasil imbang, 17 kekalahan, dan agregat gol 36-50. Konsekuensinya, Bajul Ijo tetap bermain di Divisi Utama yang berstatus level kedua di bawah Liga Super.
Kegagalan ini menghadirkan drama di tubuh Persebaya. Dua puluh tiga klub internal Persebaya berunjuk rasa di Wisma Persebaya, Jalan Karanggayam, menuntut sang ketua umum Arif Afandi untuk mengundurkan diri, karena dianggap gagal membangun prestasi. Arif seharusnya mengakhiri masa jabatannya pada 2009.
Ini fase pertama masa terberat yang dihadapi Persebaya. Pertama, klub ini harus mengubah status menjadi badan hukum perseroan terbatas (PT) jika ingin bisa berkompetisi. Kedua, memastikan adanya investor yang mau menanamkan uang di Persebaya sebagai pengganti dana hibah dari APBD yang tidak diperbolehkan untuk klub sepak bola profesional.
Berstatus PT, maka Persebaya perlu mencari pemilik karena sudah terlepas dari struktur organisasi PSSI. Namun tak mudah mencari pihak yang mau menguasai Persebaya. Pemerintah Kota Surabaya menampik untuk menanamkan modal, bahkan untuk menjadikan Persebaya badan usaha milik daerah. Namun apapun yang terjadi, waktu tak bisa menunggu. Siap atau tidak, Persebaya akhirnya berbadan hukum PT dengan mayoritas saham dimiliki klub internal yang tergabung dalam sebuah koperasi.
Musim 2008-2009: Lolos Liga Super Bersama AIM Biscuits
AIM Biscuits, sebuah biskuit yang diproduksi perusahaan dari Sidoarjo PT Aneka Indomakmur, menjadi sponsor pertama Persebaya era profesional. Sebelumnya sponsor yang menempel di bagian dada jersey Persebaya adalah nama produk yang menjadi sponsor utama liga.
Persebaya berkompetisi di Divisi Utama, level kedua dalam piramida sepak bola Indonesia, dengan target menembus Liga Super. Berada di Grup 2 atau Wilayah Timur, persebaya menduduki posisi runner-up di bawah Persema Malang dengan 55 poin, dari 18 kemenangan, 1 hasil seri, 7 kekalahan, dan agregat gol 44-19.
Di Babak 8 Besar, Persebaya satu grup dengan Persisam Samarinda, Mitra Kutai Kartanegara, dan Persigo Gorontalo di Grup K. Persebaya menempati posisi runner-up di bawah Persisam dengan mengantongi 4 angka dari 1 kemenangan, 1 seri, dan 1 kekalahan, serta agregat gol 2-2.
Di babak semifinal, Persebaya dikalahkan Persema 1-3 dalam pertandingan di Stadion Segiri, Samarinda, 26 Mei 2009. Dalam pertandingan memperebutkan tempat ketiga, Persebaya dihancurkan PSPS Pakanbaru 1-5, di Stadion Palaran, Samarinda, 29 Mei 2009.
Tinggal satu harapan Persebaya menembus Liga Super, yakni melalui play-off melawan PSMS Medan yang berada pada posisi ke-15 Liga Super, di Stadion Siliwangi, Bandung, 30 Juni 2009.
Ini pertandingan yang menegangkan suporter kedua tim. Semua gol dalam pertandingan itu dicetak melalui titik putih penalti. PSMS unggul lebih dulu pada menit 32 melalui Leonardo Martins Dinelli. Persebaya membalasnya pada menit 87 melalui si gundul Jairon Feliciano Damasio.
Persebaya akhirnya mencetak kemenangan 6-5 melalui adu penalti. Setelah Batoum Urbain Roger yang menjadi penendang pertama gagal, berturut-turut Andi Oddang, Anang Ma’ruf, Purwanto Suwondo, Jairon, Bobby Satria, dan Anderson Da Silva berhasl mengeksekusi bola dengan baik. Sementara dua pemain PSMS gagal melesakkan bola dari titik putih, yakni Leonardo dan Oktavianus Maniani.
Musim 2009-2010: Awal Perlawanan Terhadap PSSI
Kembalinya Persebaya ke level teratas kompetisi sepak bola Indonesia (kali ini Liga Super) disambut gembira oleh stasiun televisi dan sponsor. Kendati berstatus tim debutan, Persebaya mendapatkan jatah siaran langsung televisi terbanyak dibandingkan klub-klub lainnya. AIM Biscuits juga memperpanjang kontrak kerja sama sebagai sponsor.
Bonek dan manajemen Persebaya mengawali musim ini dengan optimisme. Namun musim ini menjadi awal mimpi buruk Persebaya. Diikuti 18 klub, Persebaya kembali terdegradasi ke Divisi Utama bersama Persik Kediri dan Persitara Jakarta Utara, setelah menempati posisi ke-17 dengan mengantongi 36 angka, dari 10 kemenangan, 6 hasil seri, dan 18 kekalahan, serta agregat gol 42-58.
Proses degradasi Persebaya memantik kontroversi yang akhirnya mengawali perlawanan terhadap PSSI secara nasional. Sebenarnya Persebaya masih berpeluang lolos dari degradasi jika menduduki tempat ke-15 yang merupakan zona play-off. Kuncinya adalah pertandingan terakhir melawan Persik di Kediri. Selain Persik, pesaing Persebaya di zona play-off adalah Pelita Jaya.
Dan inilah liga sepak bola teraneh di dunia. Kompetisi sudah berakhir, Arema Indonesia sudah merayakan gelar juaranya. Namun ada satu pertandingan zona degradasi yang belum juga diketahui hasilnya.
Persik Kediri gagal menggelar pertandingan melawan Persebaya di Kediri pada 29 April 2010 dengan alasan keamanan, menyusul kedatangan ribuan Bonek dalam pertandingan yang direncanakan tanpa penonton itu. Mengacu pada manual liga dan pertandingan-pertandingan terdahulu, Persik seharusnya dinyatakan kalah 0-3 dan Persebaya mendapatkan kemenangan.
Namun PSSI dan operator kompetisi PT Liga Indonesia tidak memutuskan demikian. Pertandingan itu diputuskan untuk ditunda dan diulang di Jogjakarta pada awal Mei. Namun lagi-lagi gagal karena tak ada izin dari polisi.
PSSI tak segera memutuskan kemenangan WO untuk Persebaya. Mereka memutuskan pertandingan digelar lagi di Kediri pada 5 Agustus 2010. Namun seperti dejavu, pertandingan itu kembali gagal dilangsungkan karena tak ada izin dari polisi.
PSSI kemudian memutuskan pertandingan digelar di Palembang pada 8 Agustus 2010 atau empat bulan setelah kompetisi musim 2009-2010 berakhir. Kali ini Persebaya memutuskan tidak datang, dan akhirnya dinyatakan kalah 0-3. Persebaya resmi terdegradasi untuk ketiga kalinya sepanjang ikut serta dalam Liga Indonesia sejak 1994.
Musim 2010-2011: Dualisme Persebaya
Ini krisis internal terburuk yang dialami Persebaya sejak 18 Juni 1927. PT Persebaya Indonesia yang didukung 20 klub anggota menolak ikut serta dalam kompetisi Divisi Utama 2010-2011 dan lebih memilih bersiap mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia yang digagas pengusaha Arifin Panigoro.
Atas restu PSSI, akhirnya dibentuklah klub tandingan yang juga bernama Persebaya atas dukungan 10 klub internal. Dibentuk dadakan, pemain-pemain klub Persikubar Kutai Barat diambil alih untuk dimainkan atas nama Persebaya Surabaya. Namun klub tandingan ini gagal berprestasi dan hanya menduduki peringkat kelima Grup 3 Divisi Utama.
Sementara itu Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia kesulitan melangsungkan pertandingan, karena kepolisian tidak mengizinkan ada dua klub dengan nama yang sama bermain di Surabaya. Sebagai penyiasatan, PT Persebaya Indonesia menggunakan nama Surabaya FC dalam pertandingan uji coba melawan Indo Holland di Stadion Gelora 10 Nopember, Rabu, 10 November 2010.
Persebaya kalah 1-2. Namun itu tidak penting, karena pertandingan itu cukup untuk membuktikan keberpihakan publik Surabaya dengan kehadiran belasan ribu penonton. Selain itu, pertandingan tersebut memang bagian dari persiapan menyongsong Liga Primer Indonesia.
Musim 2011: Persebaya 1927 (Separuh) Juara Liga Primer Indonesia
Persebaya menjadi peserta Liga Primer Indonesia dengan nama Persebaya 1927. Kompetisi tandingan ini digelar oleh Konsorsium PT. Liga Primer Indonesia Sportindo pada 8 Januari 2011 dan diikuti 19 klub. Selain Persebaya, ada Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar yang menyeberang dari kompetisi resmi PSSI.
Persebaya terlalu kuat dalam sebuah kompetisi yang diikuti klub-klub franchise baru bernama kebarat-baratan, seperti Aceh United, Tangerang Wolves, Medan Chiefs, atau Semarang United.
Persebaya boleh disebut sebagai juara liga edisi perdana. Namun keberhasilan mereka tidak sempurna, karena Liga Primer tidak menyelesaikan paruh kedua musim kompetisi setelah terhenti pada Mei 2011 menyusul peningkatan tensi konflik di tubuh PSSI.
Bajul Ijo menjadi jawara putaran pertama dengan mengemas 40 angka, dari 12 kemenangan, 4 hasil seri, dan 2 kekalahan, serta agregat gol 42-13. Posisi kedua dan ketiga diduduki Persema Malang (40 angka) dan PSM Makassar (34 angka).
Musim 2011-2012: Juara Unity Cup dan Runner-Up Liga Prima Indonesia
Kongres resmi memilih Djohar Arifin menjadi Ketua Umum PSSI, dan Liga Primer Indonesia resmi menjadi menggeser Liga Super Indonesia sebagai kompetisi sepak bola level tertinggi dengan nama Liga Prima Indonesia.
Persebaya menjadi satu dari 12 klub yang berkompetisi pada 26 November 2011 – 17 Juli 2012. Sementara itu pada saat bersamaan Liga Super Indonesia berubah status menjadi kompetisi tandingan.
Persebaya menduduki posisi runner-up di bawah Semen Padang, dengan mengantongi 38 angka dari 12 kemenangan, 2 hasil seri, 8 kekalahan, dan agregat gol 31-23. Namun kendati gagal meraih trofi juara liga, Persebaya menutup tahun 2011 dengan indah.
Anak-anak asuhan Divaldo Alves, pelatih asal Portugal, ini berhasil merebut trofi Unity Cup dengan mengalahkan juara Liga Malaysia Kelantan FA. Setelah bermain imbang 1-1 di Kelantan pada 23 Desember 2011, Persebaya berhasil mengalahkan Kelantan 3-2 di Stadion Gelora 10 Nopember, 29 Desember 2011.
Tahun 2013: Didiskualifikasi dan Padamnya Lampu Saat Melawan QPR
Sepekan setelah berakhirnya Liga Prima Indonesia 2011-2012, Persebaya melakoni uji coba internasional melawan klub Liga Primer Inggris Queens Park Ranger, di Stadion Gelora Bung Tomo, 23 Juli 2012.
Puluhan ribu Bonek menjadi saksi keberhasilan Fernando Soler menjebol gawang QPR lebih dulu pada menit 17. Dua gol balasan Adel Taarabt pada menit ke-26 melalui titik putih penalti dan Bobby Zamora pada menit 67 mengakhiri perlawanan Persebaya.
Bukan skor akhir yang akan membuat pertandingan itu dikenang, melainkan dua kali padamnya lampu di tengah pertandingan yang membuat puluhan ribu penonton menyalakan cerawat, petasan, dan cahaya ponsel.
Sementara itu kompetisi Liga Prima Indonesia 2013 diikuti oleh 16 klub. Namun sekali lagi, konflik internal di PSSI membuat kompetisi terhenti di tengah jalan. Diawali pada 16 Februari 2013, kompetisi berakhir pada November 2013.
Persebaya sebenarnya berhak mengikuti play-off unifikasi kompetisi, karena menduduki peringkat 5 klasemen dengan mengantongi 34 angka dari 10 kemenangan, 4 hasil seri, 4 kekalahan, serta agregat gol 35-19. Namun PSSI mendiskualifikasi Bajul Ijo bersama Arema Indonesia karena tidak memenuhi syarat keanggotaan PSSI. Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Jakarta FC didiskualifikasi karena beberapa kali tidak bertanding.
Tahun 2014: Perlawanan Bonek di Jalanan
Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia resmi tidak diakui oleh PSSI dan digantikan oleh Persebaya di bawah naungan PT Mitra Muda Inti Berlian. Dimatikannya Persebaya membuat Bonek melawan di jalanan. Ribuan orang pendukung Persebaya berunjuk rasa di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, 26 Januari 2014. Mereka mengepung Hotel Shangri-La yang menjadi lokasi Kongres Tahunan PSSI.
Bonek juga mengosongkan stadion Gelora Bung Tomo saat Persebaya versi PSSI bermain. Mereka menolak ada Persebaya yang lain bermain di Surabaya. Perlawanan juga dilakukan di bilik suara saat pemilu. Ada laporan banyak kertas suara tidak sah di Surabaya karena dicoret dengan tulisan Persebaya 1927.
Tahun 2015: Dari Stadion ke Pengadilan
Bonek beberapa kali melakukan aksi unjuk rasa di jalanan tanpa ada kerusuhan. Aksi mereka berhasil menarik perhatian pemerintah. Tak ingin konflik sepak bola nasional berlarut-larut dan mengganggu stabilitas nasional, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membekukan PSSI yang diketuai La Nyalla Matalitti pada April 2015.
Imam juga meminta Persebaya dan Arema Cronus dicoret dari Liga Indonesia karena masih bermasalah secara administrasi. Namun PSSI melawan. Pembekuan PSSI baru dicabut pada 10 Mei 2016.
Sementara itu, Bonek menolak Persebaya versi PSSI yang belakangan berubah nama berturut-turut menjadi Surabaya United dan Persebaya United bertanding dalam Piala Presiden di Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 20 September 2015. Penolakan ini berlanjut kendati Persebaya versi PSSI beberapa kali berubah nama, termasuk berubah nama menjadi Bonek FC.
Saat Bonek melawan di jalanan, PT Persebaya Indonesia memindahkan arena pertandingan dari lapangan hijau ke ruang pengadilan. Ini bukan lagi urusan skor, tapi eksistensi klub. Namun majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, menyatakan tak bewenang mengadili gugatan yang diajukan PT Persebaya Indonesia terhadap status PT Mitra Muda Inti dalam mengelola Persebaya, 3 November 2015.
Tahun 2016: PT Persebaya Indonesia Menangi Hak atas Persebaya
Pertarungan di pengadilan belum berakhir. Kali ini pada 30 Juni 2016, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menolak seluruh gugatan hak merek dan logo Persebaya Surabaya yang diajukan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) terhadap PT Persebaya Indonesia.
Mengutip dari Tempo.co, Persebaya 1927 merupakan pemilik pertama yang memakai logo dan merek pada 2009. Sementara PT Mitra Muda Inti Berlian baru mengganti anggaran dasar dan anggaran rumah tangga pada 2011. Kemudian Persebaya 1927 mendaftarkan merek dan logo itu pada 2013, adapun PT Mitra Muda Inti Berlian baru mendaftar pada 2015.
Namun perjalanan Persebaya di bawah naungan PT Persebaya Indonesia untuk kembali diakui PSSI masih panjang. Ribuan Bonek mengalir ke Jakarta untuk menekan Kongres PSSI yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, pada 10 November 2016 agar segera mengakui Persebaya. Namun kongres batal mengesahkan status klub tersebut.
Musim 2017: Diakui Kembali dan Juara Liga 2
Status Persebaya kembali diakui pada 8 Januari 2017 dalam Kongres PSSI di Bandung. Dengan demikian Persebaya berhak mengikuti kompetisi Liga 2 Musim 2017. Posisi Arema Indonesia, Persibo Bojonegoro, Persema Malang, Persewangi Banyuwangi, Persipasi Kota Bekasi, dan Lampung FC, juga direstorasi dan bermain di Liga 3.
Azrul Ananda menjadi presiden klub, setelah Jawa Pos mengakuisisi 70 persen saham Persebaya. Gelar pertama di bawah rezim Azrul datang pada 8 Maret 2017, setelah Persebaya menjuarai Piala Dirgantara di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jogjakarta, dengan mengalahkan Cilegon United 2-0. Inilah gelar pertama Persebaya sejak menjuarai Unity Cup pada 2011.
Musim ini diawali drama pertengkaran antara pelatih Iwan Setiawan dengan Bonek, usai Persebaya kalah di kandang Martapura FC 1-2, 30 April 2017. Teriakan ‘Iwan Out’ dari Bonek yang nenunggu di luar stadion dijawab dengan tantangan berkelahi oleh Iwan. Tagar #IwanOut menjadi trending topic di media sosial setelah insiden.
Manajemen kemudian mengganti Iwan dengan pelatih asal Argentina, Alfredo Vera yang berhasil membawa Persebaya menjuarai Liga 2. Persebaya mengalahkan PSMS Medan 3-dalam babak final di di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Selasa, 28 November 2017 malam. Tiga gol dicetak Rishadi Fauzi pada menit 2, Irfan Jaya pada menit 40 dan 92.
Musim 2018: Musim Perdana Liga 1 yang Mengesankan
Setelah mengakhiri krisis internal, Persebaya bertanding kembali di level tertinggi kompetisi sepak bola nasional untuk pertama kalinya pada musim 2018. Sempat muncul drama soal rekrutmen Andik Vermansah, pemain idola Bonek, yang menjadi kontroversi dan membelah pendukung Persebaya dalam dua kubu: pro manajemen dan pro Andik.
Posisi Alfredo Vera didongkel di tengah jalan digantikan pelatih sementara Bejo Sugiantoro, setelah kalah 1-3 di kandang Perseru Serui di pekan ke-18. Bejo kemudian digantikan legenda Persib Djadjang Nurdjaman hingga akhir musim.
Terlepas dari kontroversi itu, debut Persebaya tidak mengecewakan. dengan menduduki peringkat kelima dari 18 klub. Persebaya mengantongi 50 poin dari 14 kemenangan, 8 hasil seri, dan 12 kekalahan, serta agregat gol 60-48. Persebaya menjadi tim paling subur di Liga 1.
Sementara itu di kompetisi Piala Presiden, Persebaya menjuarai Grup C setelah bersaing dengan Madura United, PS Tira, dan Perseru Serui. Namun langkah Persebaya terganjal di perempat final, setelah dikalahkan PSMS Medan 4-3 melalui adu penalti (skor waktu normal 3-3), di Stadion Manahan Solo, 3 Februari 2018.
Musim 2019: Runner-Up Ganda
Persebaya membuat kejutan dalam musim keduanya di Liga 1. Bajul Ijo mencetak posisi runner-up ganda di Liga 1 dan Piala Presiden. Di Liga 1, Persebaya berada di bawah Bali United, dengan mengumpulkan 54 poin dari 14 kemenangan, 12 hasil seri, 8 kekalahan, dan agregat gol 57-43. Produktivitas gol Persebaya terbaik di level empat besar klasemen, mengungguli Bali United, Persipura, dan Bhayangkara.
Namun lagi-lagi, Persebaya mengulangi drama pergantian pelatih. Djajang hanya bertahan hingga pekan 13. Setelah hasil imbang 2-2 di Gelora Bung Tomo, 10 Agustus 2019, posisinya digantikan pelatih sementara Bejo Sugiantoro.
Sebenarnya prestasi Djadjang tidak terlalu buruk. Dia meninggalkan Persebaya pada posisi ke-8 klasemen dari 13 pertandingan. Namun manajemen tak puas. Bejo menjadi pelatih sementara selama delapan pertandingan dan membawa Persebaya pada posisi klasemen yang sama dengan Djadjang sebelum pergi.
Posisi Bejo kemudian digantikan Wolfgang Pikal, mantan asisten pelatih tim nasional Indonesia. Namun pelatih kelahiran Austria itu hanya bertahan empat pertandingan. Kekalahan 2-3 dari PSS Sleman yang mengakibatkan kerusuhan di dalam Stadion Gelora Bung Tomo membuatnya dipecat dan digantikan Aji Santoso.
Aji membawa Persebaya mengalahkan PSM 3-2 di Surabaya pada pekan ke-26. Kemenangan beruntun dalam lima pertandingan terakhir menempatkan Persebaya pada posisi kedua klasemen akhir. Namun Persebaya gagal mengikuti Piala AFC, karena Bali United sebagai juara Liga 1 urung menembus fase grup Liga Champions Asia setelah dikalahkan Melbourne Victory 0-5.
Sementara untuk Piala Presiden, Persebaya menjadi runner-up setelah dikalahkan Arema Malang dengan agregat gol 2-4 di pertandingan final. Dalam pertandingan pertama di Gelora Bung Tomo, 9 April 2019, Persebaya ditahan 2-2, dan kemudian kalah 0-2 di Kanjuruhan tiga hari kemudian.
Persebaya juga gagal dalam Piala Indonesia. Setelah ditahan imbang Madura United 1-1 di Surabaya, 19 Juni 2019, Persebaya kalah 1-2 di Pamekasan pada 27 Juni 2019 dalam babak perempat final.
Musim 2020: Juara Piala Gubernur Jatim Sebelum Pandemi
Persebaya mempersiapkan diri dengan serius untuk musim 2020. Sejumlah pemain kelas A untuk level sepak bola Indonesia dikontrak, seperti Makan Konate, Mahmoud Eid, David da Silva, Patrich Wanggai, Aryn Williams, dan kiper Rivky Mokodompit.
Sebagai pemanasan, anak-anak asuh Aji Santoso ini berhasil merebut Piala Gubernur Jatim, setelah berhasil mengalahkan Persija 4-1, dalam final di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, 20 Februari 2020.
Namun pandemi Covid-19 mengubur harapan untuk jadi juara. Persebaya hanya bermain dua kali, yakni 1-1 melawan Persik dan kalah 3-4 dari Persipura sebelum kompetisi Liga 1 dihentikan.
Musim 2021-2022: Poin Tertinggi Sepanjang Sejarah
Ada dua kejuaraan yang digelar pada musim ini, yakni Piala Menpora dan Liga 1. Piala Menpora digelar secara tertutup pada medio Maret-April 2021. Persebaya berada di Grup C bersama Persik Kediri, Madura United, Persela Lamongan PSS Sleman, yang bertanding di Stadion Maguwoharjo, 23 Maret-7 April 2021.
Persebaya lolos ke perempat final sebagai runner-up Grup C di bawah PSS Sleman. Perjalanan Persebaya terhenti setelah dikalahkan Persib 2-3, di Stadion Maguwoharjo, 11 April 2021.
Sementara untuk Liga 1, Persebaya mengawali dan mengakhiri kompetisi dengan kekalahan dari Borneo FC, masing-masing 1-3 pada 4 September 2021 dan 1-2 pada 30 Maret 2022. Sepanjang musim semua pertandingan digelar tertutup dengan sistem home tournament. Tidak ada home and away layaknya sebuah kompetisi.
Persebaya menempati posisi kelima pada akhir musim kompetisi dengan 63 angka, yang dikemas dari 18 kemenangan, 9 hasil seri, dan 7 kekalahan, serta agregat gol 56-35.
Tidak yang istimewa pada musim ini. Semua pertandingan tanpa kehadiran penonton, sehingga tak ada gairah di stadion. Namun yang harus dicatat adalah: pada musim ini Persebaya meraih poin tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaannya dalam kompetisi level puncak sepak bola nasional sejak masa Perserikatan dan Liga Indonesia. Bahkan lebih tinggi dibandingkan saat menjuarai Liga Indonesia 2004.
Musim 2022-2023: Tragedi Kanjuruhan
Persebaya mengawali musim ini pada medio Juni 2022 dengan berpartisipasi dalam Piala Presiden, 13-20 Juni 2022. Penampilan Persebaya jauh dari mengesankan dengan berada di posisi juru kunci Grup C di bawah Persib, Bhayangkara, dan Bali United, dan hanya mengemas satu angka.
Persebaya menduduki peringkat keenam klasemen akhir, setelah mengumpulkan 52 angka dari 15 kekalahan, 7 hasil imbang, 12 kekalahan, dan agregat gol 52-45.
PSM Makassar akhirnya menjadi juara di akhir musim. Persebaya juga mencetak sejarah, pertama kalinya mengalahkan Arema di Stadion Kanjuruhan Malang dalam kompetisi resmi, 1 Oktober 2022. Tiga gol Persebaya dicetak para pemain asing: Silvio Junior pada menit 8, Leo Lelis pada menit 32, dan Sho Yamamoto pada menit 51.
Namun musim ini akan selalu dikenang karena terjadinya Tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang penonton, usai kekalahan Arema Malang dari Persebaya.
Korban berjatuhan menyusul ditembakkannya gas air mata oleh polisi di dalam stadion untuk meredam kerusuhan penonton. Jumlah penonton yang meninggal dunia hari itu melebihi korban dalam tragedi Heysel, Hillsborough, dan sejumlah tragedi lainnya di dunia sepak bola.
Tanda-tanda pertandingan bakal berjalan panas sudah terlihat sebelum peluit mula dibunyikan. Rombongan pemain dan ofisial Persebaya harus masuk ke area stadion dengan menggunakan kendaraan taktis lapis baja. Saat hendak pulang, kendaraan tersebut juga diserang oleh Aremania dengan batu dan benda-benda keras lainnya. “Cuk, bal-balan opo iki, Cuk?” Marselino Ferdinand, pemain muda Persebaya, melontarkannya penuh ketegangan saat menumpang mobil kendaraan taktis milik polisi.
Tragedi ini memicu solidaritas suporter seluruh dunia. Bahkan ribuan Bonek yang dikenal berseberangan keras dengan Aremania, suporter Arema, menunjukkan solidaritas dengan menyalakan lilin dan doa bersama di pelataran Tugu Pahlawan.
Musim 2023-2024: Titik Balik Terendah Persebaya
Jika musim 2021-2022 disebut sebagai musim dengan poin tertinggi sepanjang sejarah Persebaya, musim 2023-2024 boleh disebut titik terendah performa Persebaya sejak 2018. Hingga jelang akhir musim, Persebaya masih belum sepenuhnya aman dari degradasi.
Musim ini diawali dengan optimisme tinggi dari manajemen Persebaya. Presiden Persebaya Azrul Ananda menjanjikan gelar juara yang disambut Bonek dengan tifo mosaik raksasa di tribun utara GBT bertuliskan ‘Spirit of Champions’.
Namun menjadi juara tak semudah bicara. Pergantian pelatih di tengah musim kembali terjadi, dari Aji Santoso, Josep Gombau, Uston Nawawi. dan terakhir Paul Munster. Persebaya mengakhiri musim ini dengan menempati posisi ke-12, terburuk sejak 2018, dengan 10 kemenangan, 12 hasil seri, dan 12 kekalahan, dengan agregat gol 33-46.
Kegagalan musim 2023-2024 menandai dua dasawarsa paceklik gelar juara Persebaya dalam kompetisi sepak bola level tertinggi negeri ini. Paceklik yang sama panjangnya dengan yang dialami Arsenal di Liga Primer Inggris, namun belum selama Liverpool (30 tahun!) sebelum dipatahkan rezim Jurgen Klopp dan Chelsea (50 tahun) sebelum kedatangan manajer Jose Mourinho.
Menyambut 97 tahun Persebaya, Azrul Ananda mengawali esainya berjudul Green Force: A New Hope dengan permintaan maaf dan mengakhirinya dengan ‘bismillah’.
“Persebaya baru saja menjalani musim terburuknya sejak kami mulai mengelola pada 2017,” tulisnya dalam esai yang ditayangkan di situs pribadinya, Happywednesday, 17 Juni 2024.
Kali ini, Azrul lebih rendah hati. Dia menyadari, menjadi juara Liga 1 tak ubahnya berlari di atas jalan makadam yang lama tidak disiram aspal. Dia tak ingin harapannya terbanting sebagaimana musim 2023-2024.
“Cobaan-cobaan akan terus ada, tidak ada kemenangan yang diraih dengan mudah. Tidak ada jalan pintasnya. Nawaitu tim ini selalu sama, menuju yang terbaik. Kita akan selalu berusaha. Dengan cara yang baik dan benar. Semoga Yang di Atas memberi jalan.”
Lembar baru dibuka. Semoga kita tidak lagi dalam penantian. [wir]






