Surabaya (beritajatim.com) – Dr. Louis Curham seorang seorang arsiparis, pembuat film eksperimental dan dosen di School of Media, Creative Arts and Social Inquiry di Universitas Curtin Australia membagikan pengetahuan tentang penyimpanan film.
Hal itu diungkapkan dalam masterclass di ASEEC Tower Universitas Airlangga dan juga di Cinema XXI Ciputra World Surabaya pada tanggal 7 dan 8 Juni 2024.
Dalam sesi pembahasan, Dr. Louis mengajak para peserta untuk merenung tentang perumpamaan antara penyimpanan film dengan struktur DNA manusia.
“The storage of films is not something simple. Like DNA, it branches out and is complex.(Penyimpanan film bukanlah sesuatu yang sederhana. Layaknya DNA, ia bercabang dan kompleks)” ungkapnya.
Dia juga menyoroti pentingnya memiliki salinan cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan kehilangan data yang tak terduga di masa mendatang.
Namun, diskusi tidak hanya sebatas pada teknis penyimpanan. Dr. Louis juga membahas signifikansi dari kearsipan film dalam konteks budaya dan sejarah.
“Visiting old archives is not just about nostalgia, but also a journey to understand our cultural roots, (Mengunjungi kembali arsip lama bukan hanya sekadar nostalgia, tetapi juga sebuah perjalanan untuk memahami akar budaya kita)”tambahnya.
Saat memperdebatkan tentang masa depan arsip film, Dr. Louis menggugah pikiran para peserta dengan membayangkan bagaimana teknologi dan kreativitas akan berperan dalam mengubah wajah penyimpanan film di masa yang akan datang.
” We must be ready to adapt to the constantly evolving technological advancements. The future of film archives may involve concepts that have not yet been conceived,(Kita harus siap untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Masa depan arsip film mungkin akan melibatkan konsep-konsep yang belum terpikirkan saat ini),” ujarnya dengan penuh semangat.
Tidak hanya memberikan wawasan tentang masa lalu dan masa depan, Dr. Louis juga mendorong peserta untuk memikirkan implikasi jangka panjang dari upaya penyimpanan dan kearsipan film.
” It is important for us not only to maintain archives, but also to consider how we can pass them on effectively to future generations. (Penting bagi kita untuk tidak hanya merawat arsip, tetapi juga memikirkan bagaimana kita bisa mewariskannya dengan baik bagi generasi mendatang),” imbuhnya.
Melalui masterclass yang menginspirasi ini, FSAI 2024 di Surabaya tidak hanya sekedar festival film biasa. Lebih dari itu, acara ini telah membawa kesadaran yang mendalam tentang pentingnya memahami dan merawat warisan sinema kita untuk masa yang akan datang. (ted)






