Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mengadakan workshop pengembangan kurikulum dan strategi pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Digital Technology (DT). Acara ini sebagai upaya UB untuk akselerasi penggunaan AI dan DT.
Wakil Rektor bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., menjelaskan bahwa AI dan DT dicanangkan sebagai instrumen pembelajaran. Salah satu aspek yang harus terintegrasi adalah riset dan pembelajaran.
“Tema ini juga harus menjadi bagian pembelajaran peserta didik kita. AI dan DT sebagai tools dan juga substansi untuk penguatan pemanfaatan di bidang ilmu hayati dan kemanusaiaan,” ujar Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP. pada Selasa (4/6/2024) kemarin.
Workshop ini dihadiri seluruh Ketua Program Studi Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor. Dikatakan Prof Imam, agenda ini terselenggara berkaitan pelaksanaan Program Revitalisasi PTN BH Universitas Brawijaya tahun 2024 melalui Revenue Generating Activity (RGA).
“RGA di UB berkaitan dengan Pengembangan Sistem Informasi dan Digitalisasi AI & DT for Nature dan Humanity sebagai keunggulan dan Niche khas UB,” ucapnya.
Menurut Wakil Rektor bidang Akademik UB, terdapat tiga hal yang saat ini diakselerasi UB yakni penggunaan AI dan DT, akselerasi biotechnology di berbagai aspek, dan integrasi AI dan DT pada sistem pembelajaran. Realisasinya dikembangkan AI Center lewat skema hibah penelitian dengan tema sesuai.
Ketua AI Center UB, Prof. Wayan Firdaus Mahmudy, Ph.D, menilai bahwa pemateri dalam acara ini, bahwa setidaknya terdapat delapan elemen AI yang bisa diimplementasikan. Namun, dalam penerapannya menyesuaikan kembali dengan program studi dan tujuan penggunaan berbasis AI.
“Contohnya saja pada bidang teknik lebih banyak menggunakan Machine Learning untuk memahami cara kerja mesin,” ucap Dekan FILKOM ini.
Menurut Prof Wayan, penerapan AI dan DT di universitas dilakukan melalui tiga aspek yakni Kurikulum, Modul, dan Manajemen berbasis AI dan DT. UB saat ini menerapkan melalui kurikulum dan modul.
Sebagai contoh di kurikulum dengan memasukkan tema pengantar AI, Machine Learning, atau mata kuliah yang menggunakan elemen Artificial Intelligence. “Jadi dari mata kuliah yang sudah ada dimasukkan unsur mengenai AI dan DT, banyak yang bisa,” tuturnya.
Penerapan AI dan DT menurut Prof. Wayan terdapat tantangan dan hal yang harus diperhatikan. Menurutnya, AI bukan untuk menggantikan manusia oleh sebab itu penerapannya harus bertanggung jawab dan penggunaan AI yang etis harus menjadi bagian integral dari kurikulum.
Sementara itu, strategi pengembangan kurikulum diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kolaborasi dengan industri. Termasuk dalam workshop dengan praktisi industri dan peningkatan kapasitas dosen dalam penelitian dan penggunaan AI juga diperlukan.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga diperlukan infrastruktur. Diantaranya supercomputer dan tools software yang terbaru.
“Untuk infrastruktur dibutuhkan supercomputer dan untuk tools yang terbaru kita kerja sama dengan industri. Jadi modelnya selama dipakai untuk ilmu pendidikan kita bisa pakai secara gratis,” kata Prof Wayan menutup. (dan/but)






