Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebenarnya tidak dilahirkan pada 1 Januari 1929 sebagaimana dirayakan selama ini. Usia kota ini diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun.
Selama ini hari jadi Kabupaten Jember didasarkan pada Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928, yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. “Tapi kami yakin Jember tidak semuda seperti yang dicatat selama ini. Kenapa kabupaten dan kota tetangga kita berusia ratusan tahun, Jember masih di bawah seratus tahun. Kami hakkul yakin lambat laun akan menemukan sejarah itu,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember Bambang Rudianto, Rabu (22/5/2025).
Menurut Rudianto, seorang kawan menunjukkan selembar peta buatan tahun 1800-an kepadanya. “Di dalam peta itu sudah ada Djamber, Besuki. Tapi kita kok kelihatan muda,” katanya.
Ada prasasti lumbung di Kecamatan Silo yang bisa menjadi petunjuk usia Jember. “Arkeolog, sejarawan, budayawan mulai menggali. Itu bukan hanya peninggalan abad pertana masehi, tapi sebelum masehi sudah ada. Tulisannya aksara brahmin dari India kuno yang merupakan cikal-bakal aksara berikutnya seperti Sansekerta,” kata Rudianto.
Menurut Rudianto, ini bisa jadi peninggalan yang tertua. “Mereka terus menggali, apa benar di tempat lain tidak ada seperti itu,” katanya.
“Tempo hari dari akademisi sudah mencoba menggali (hari lahir Jember). Kami belum tahu update-nya seperti apa. Tentunya bisa merunut ke perpustakaan atau museum di Leiden, Belanda,” kata Rudianto.
Masalah usia Jember sebenarnya sudah pernah diungkap Dukut Imam Widodo dalam buku Djember Tempo Doeloe. Mengacu pada buku Tafsir Sejarah Negara Kretagama dan buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca, dia memperkirakan pada awal pendirian Kerajaan Majapahit sudah ada babat alas Jember. “Jadi sesungguhnya usia Kabupaten Djember itu sudah lebih dari 600 tahun!” tulisnya. [wir]






