Jember (beritajatim.com) – Narasi kebudayaan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, masih lemah. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember perlu mengidentifikasi narasi identitas setempat yang berpotensi menjadi daya tarik wisata.
“Memang yang saya rasakan narasi kita lemah. Kalau kita melihat (pariwisata) di daerah lain yang bagus, narasinya juga bagus,” kata Kepala Dispardabud Jember Bambang Rudianto, Rabu (22/5/2024).
Menurut Rudianto, membangun narasi membutuhkan data-data primer yang tidak terbantahkan. “Tidak bisa narasi pepesan kosong,” katanya.
Di tengah lemahnya narasi kebudayaan, Jember sebenarnya memiliki narasi tentang legenda pantai Watu Ulo atau Batu Ular. “Konon dulu ada seekor ular naga raksasa yang memangsa semua, baik biota laut maupun manusia. Kemudian muncul seorang pemuda yang sakti mandraguna bernama Joko Mursodo. Dia berhasil menaklukkan ular naga raksasa itu,” kata Rudianto.
Ular naga itu, menurut Rudianto, dipotong menjadi tiga bagian oleh Joko Mursodo. “Bagian kepala naga ada di Banyuwangi, badan di Jember, ekor di Pacitan. Kalau kita lihat secara fisik, batu ular atau Watu Ulo kalau dilihat dari atas (drone), seperti sisik ular yang eksotik dengan panjang kurang lebih 75 meter,” katanya.
Narasi seperti ini ingin digali oleh Rudianto. “Mungkin ada artefak, prasasti, yang memperkuat. Ada beberapa temuan yang mulai terkuak. Seperti di Kecamatan Arjasa, dulunya sepertinya adalah sebuah karesian atau semacam tempat bagi resi atau pemuka agama Hindu untuk belajar ilmu pengetahuan,” katanya.
Ada pula prasasti lumbung di Kecamatan Silo. “Arkeolog, sejarawan, budayawan mulai menggali. Itu bukan hanya peninggalan abad pertana masehi, tapi sebelum masehi sudah ada. Tulisannya aksara brahmin dari India kuno yang merupakan cikal-bakal aksara berikutnya seperti Sansekerta,” kata Rudianto.
Rudianto percaya, jika data-data primer kesejarahan dan kebudayaan di Jember semakin kuat, akan membentuk narasi kuat. “Bisa dari cerita lisan atau folklore, bisa dari manuskrip, artefak, prasasti. Kami coba terus kembangkan di Jember,” katanya.
Dispardabud Jember berupaya menyinergikan semua potensi pemangku kepentingan. “Teman-teman sejarawan, budayawan, arkeolog sudah kami ajak berdiskusi dalam forum-forum grup untuk memperkaya. Nanti kami minta outputnya tercipta narasi lebih komprehensif tentang obyek di situ. Tentunya didukung data primer tak terbantahkan,” kata Rudianto. [wir]






