Jember (beritajatim.com) – Dengan sepak bola, Shin Tae-yong, pelatih tim sepak bnla Indonesia U23 dari Korea Selatan, mengajarkan kunci sukses kehidupan berbangsa dan bernegara kepada bangsa Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin.
“Kalau kita melihat timnas dari segi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yang penting adalah kedisiplinan. Kalau kita bisa tarik, (pelajaran) dari timnas adalah kedisiplinan,” kata Ayub Junaidi, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (30/4/2024).
Selain kedisiplinan, STY (Shin Tae-yong) berhasil membangun karakter tim Indonesia U23. Ini terlihat dalam Piala Asia yang berlangsung di Qatar tahun ini. Setelah kalah 0-2 dari tuan rumah di Grup A, Indonesia membekuk Australia 1-0 dan Jordania 4-1. Bahkan di perempat final, Indonesia memulangkan Korea Selatan melalui adu penalti setelah menahan imbang 2-2 dalam waktu normal dan waktu tambahan.
“STY membuat para pemain Indonesia tidak inferior. Selama ini jangankan ketemu tim-tim macan Asia. Ketika ketemu Vietnam, Malaysia, pemain kita sudah merasa kalah saat masuk stadion. Karakter dan kepercayaan diri ditanamkan betul oleh Shin Tae-Yong. Siapapun lawannya, tidak ada yang berat,” kata Ayub.
Ayub mencontohkan pertandingan uji coba Indonesia melawan Argentina. Indonesia memang kalah 0-2 dari skuat juara Piala Dunia 2022 itu. Namun mereka tampil trengginas dan berani.
Sementara itu, doktor ilmu komunikasi Universitas Jember, Muhammad Iqbal, menafsirkan sepak bola dari aspek polirik. “Sepak bola itu politik Politik itu menyatukan tujuan kebaikan Kalau ada kejahatan, itu akibat intrik, bukan esensi politik,” katanya.
Menurut Iqbal, sepak bola mencerminkan keutuhan, kejujuran, determinasi daya juang meraih kejayaan agar semua orang ikut merasakan kegembiraan. “Bila orientasinya bergeser menjadi sempit dan picik penuh perjudian, pasti lantaran intrik yang licik,” tegasnya.
Jadi sepak bola dan politik tak bisa dipisahkan. “Politik sepak bola sejatinya tidak mengenal kamus rasis atau fasism karena secara filosofis sepak bola itu keagungan yang humanis,” sahut Iqbal.
“Sementara itu hakikat politik adalah menggengam kekuasaan dengan kewenangan menebarkan keadilan dan kemakmuran untuk semua rakyat, bukan golongan atau kelompok sepihak,” kata pria penggemar Persebaya ini. [wir]






