Jakarta (beritajatim.com) – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) selaku subholding PT PLN (Persero) menyepakati perjanjian kerja sama dengan Korean Hydro&Nuclear Power (KHNP) Co.Ltd. Kerja sama ini menjadi bagian dengan beberapa negara untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
“Ini sedang MoU (dengan Korsel). Kita memang MoU dengan beberapa perusahaan ya, tidak hanya Korea,” ujar Direktur Management Human Capital and Administrasi PLN NP Karyawan Aji,.
Selain itu, penjajakan juga dilakukan dengan pihak Rusia dan Amerika Serikat. “Penjajakan dulu masih. Karena belum tahu teknologinya apa, karena political juga geopolitik juga berpengaruh,” kata Aji.
Aji menjelaskan, PLTN bisa memberikan dukungan yang kuat dan cepat untuk transisi energi. “Pendukung yang kuat untuk transisi energi percepat ya PLTN, (tapi) memang masih agak lama ya. Mungkin kita bisa sesuai jalannya kita masih bisa menggunakan renewable konvensional seperti PLTS, PLTA kemudian biomassa dan sebagainya masih mencukupi,” katanya.
Meski begitu, Aji mengakui pembangunan PLTN ini masih dilakukan perlahan. Sebab dalam pengembangannya, energi nuklir harus dilakukan secara hati-hati karena dampaknya akan berbahaya apabila terdapat kesalahan. Selain itu, pengembangan pembangkit nuklir ini juga harus disesuaikan dengan kebutuhan energi nasional.
“Adaptasi energi mau secepat apa, kalau semakin cepat yang kita inginkan artinya PLTN. Kan karena PLTN kan tanpa mengeluarkan CO2. Kalau santai-santai saja ya PLTN pelan-pelan tidak masalah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, PT PLN Nusantara Power mengumumkan peningkatan yang signifikan dalam nilai aset perusahaan, yang sebelumnya sekitar Rp170 triliun, kini telah mencapai Rp350 triliun.
“Dulu aset kita hanya sekitar Rp170 triliun, sekarang mencapai Rp350 triliun,” kata Aji.
Menurutnya, peningkatan nilai aset tersebut merupakan hasil dari peningkatan kapasitas pembangkit yang dilakukan pada gelombang pertama.
“Ini sempat tertunda karena pemilu ya,” ujarnya.
PLN Nusantara Power merencanakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 7 ribu megawatt (MW), meningkat dari sekitar 12 ribu MW pada gelombang pertama menjadi 20 ribu MW. Pada gelombang ketiga, diharapkan kapasitasnya akan mencapai 23.500 MW. [hen/but]






