Gerakan Pramuka telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pendidikan dasar dan menengah. Gerakan Pramuka juga telah menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Namun, keputusan Permendikbudristek 12/2024 yang menyatakan bahwa Pramuka tidak lagi menjadikan ekstrakurikuler wajib bagi peserta didik dasar dan menengah telah memicu debat yang intens di kalangan masyarakat dan pendidik.
Alasan utama Mendikbudristek adalah memberikan kesempatan kepada siswa memilih ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat mereka, sehingga siswa dapat mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan potensi mereka secara maksimal melalui kegiatan yang mereka pilih. Pada sisi lain Permendikbudristek tersebut tidak menghilangkan kegiatan Pramuka selain masih menetapkan Pramuka sebagai ekstra kurikuler yang tetap harus ditawarkan oleh semua lembaga sekolah tingkat dasar dan menengah.
Jika kemudian melihat lebih dalam makna Permendikbudristek 12/2024 dari analisis positif dan negatifnya maka akan dapat ditemui hal sebagai berikut; Pada sisi positif di antaranya:
BACA JUGA:Arus Mudik, Waspadai Dua Titik Rawan Macet di Tol Jombang-Mojokerto
1. Permendikbudristek 12/2024 memberikan fleksibilitas dalam pengembangan kurikulum. Perubahan Pramuka sebagai ekstrakurikuler yang bersifat sukarela memberikan fleksibilitas kepada sekolah dalam pengembangan kurikulum mereka. Hal ini memungkinkan pihak sekolah untuk merancang program ekstrakurikuler yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa bahkan meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar mereka (Van Dijck et all, 2019).
2. Perubahan kegiatan Pramuka yang bersifat sukarela, mendorong sekolah untuk dapat lebih fokus pada pengembangan keterampilan khusus yang relevan dengan tuntutan zaman, seperti keterampilan digital, literasi media, dan kreativitas. Menurut Crompton (2014), pengembangan keterampilan khusus ini dapat meningkatkan daya saing siswa di dunia kerja yang terus berkembang.
3. Perubahan kegiatan Pramuka sebagai ekstrakurikuler sukarela memungkinkan penggunaan waktu yang lebih efisien dalam proses pembelajaran untuk siswa khsuusnya dalam pembagian waktu belajar mengajar yang umumnya sudah menjadi lima hari sekolah.
Menurut penelitian oleh Hattie (2009), penggunaan waktu yang efisien dalam pembelajaran dapat meningkatkan pencapaian akademis siswa. Pengurangan kewajiban terhadap kegiatan ekstrakurikuler tertentu, menjadikan sekolah dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pembelajaran akademis yang lebih intensif. Ini termasuk pelaksanaan kurikulum inti, peningkatan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, serta persiapan untuk ujian dan evaluasi.
Sedangkan bila dilihat dari sudut pandang negatif, perubahan Kegiatan Ekstra kurikuler Pramuka yang tidak diwajibkan lagi akan berdampak pada;
1. Hilangnya potensi nilai-nilai moral dan kepemimpinan. Pramuka telah lama dianggap sebagai wahana untuk membentuk karakter siswa melalui pembelajaran nilai-nilai moral, kepemimpinan, dan kemandirian. Perubahan kewajiban kegiatan Pramuka berpotensi menghilangkan platform yang penting untuk pengembangan nilai-nilai tersebut. Menurut Sunaryo (2018), pengalaman Pramuka dapat membantu siswa dalam mengasah keterampilan kepemimpinan dan kemandirian.
2. Konsekuensi dan resiko adanya penurunan rasa nasionalisme dan kebersamaan. Gerakan Pramuka selama ini telah membuktikan peran penting dalam memupuk rasa nasionalisme dan kebersamaan di antara generasi muda Indonesia hal ini pernah diungkapan oleh Studer dan Leinhardt (2007), bahwa pengalaman kolektif dalam kegiatan seperti Pramuka dapat memperkuat identitas dan solidaritas sosial. Merubah peran penting Pramuka maka akan berdampak pada kemungkinan penurunan rasa identitas nasional dan rasa kebersamaan di antara siswa.
BACA JUGA:Mengkonkretkan Omon-Omon Ekonomi Syariah: 5 Tantangan Utama dan Opsi Solusi
3. Meskipun ada potensi untuk mengembangkan program ekstrakurikuler yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman serta kebutuhan siswa, belum ada jaminan bahwa program-program tersebut akan mampu menggantikan peran Pramuka secara efektif dalam pembentukan karakter siswa.
Oleh karenanya diperlukan pihak sekolah dan lembaga pendidikan lainnya serta pengambil kebijakan harus melakukan evaluasi terhadap dampaknya. Evaluasi yang cermat diperlukan untuk mengevaluasi apakah keputusan tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi waktu dan mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan.
Perubahan Pramuka sebagai ekstrakurikuler sukarela di tingkat pendidikan dasar dan menengah di Indonesia memiliki dampak yang kompleks dan memunculkan argumen yang beragam. Meskipun ada potensi manfaat dalam hal fleksibilitas kurikulum dan fokus pada pengembangan keterampilan khusus, tetapi juga ada kekhawatiran akan kehilangan nilai-nilai moral, kepemimpinan, dan nasionalisme yang diasosiasikan dengan Pramuka. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan baik aspek akademis maupun pengembangan karakter siswa secara menyeluruh dalam perumusan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan. Hal ini sangat diperlukan karena apapun yang terjadi Pramuka menjadi benteng terakhir pendidikan karakter generasi muda di Indonesia yang secara karateristik telah berubah sesuai perkembangan era dan jaman. *) Associated Professor MIKOM FKK UPNVY






