Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Universitas Ciputra (UC) Surabaya Louisa Christine Hartanto memberikan pelatihan membuat sajadah anak kepada Kelompok Usaha Bungurasih Handmade, di Kabupaten Sidoarjo.
Dengan melatih membuat motif lucu dan paduan warna yang menarik, harapannya penjualan sajadah anak di bulan Ramadhan 2024 ini dapat meningkat. Di sisi lain, pelatihan ini juga sebagai upaya meningkatkan kemampuan Kelompok Usaha Bungurasih Handmade.
“Kali ini kami melatih membuat sajadah anak dengan motif lucu dan paduan warna yang menarik. Tujuannya, supaya penjualan bisa meningkat, apalagi momennya pas juga, bulan Ramadhan,” ujar Louisa, Rabu (3/4/2024).
Ia menjelaskan, pelatihan digelar sebanyak tiga kali pertemuan dan berfokus pada pemanfaatan kain perca sebagai motif dan hiasan pada sajadah anak. Hal ini pun mendapat respon positif dari pihak desa.
Dikatakan Louisa, bahwa kepala desa Bungurasih sangat mendukung kegiatan ini. Selain warganya mendapat ilmu dan keterampiran, mereka juga mendapatkan tiga buah mesin jahit untuk mengoptimalkan proses produksi.
“Awalnya Kelompok Usaha Bungurasih Handmade hanya memiliki 5 mesin saja. Tapi kini kelompok usaha tersebut telah memiliki 8 mesin jahit yang dapat menunjang proses produksi yang ada,” terang Louisa.
Dalam program pelatihan ini, Louisa berkolaborasi dengan Dosen Program Studi Fashion Product Design and Business (FPD) UC Surabaya, Soelistyowati. Menurut Soelistyowati, pelatihan tersebut diisi dengan membuat pola, proses menjahit, dan evaluasi hasil produk.
Tak hanya itu, peserta juga diajarkan cara memadupadankan warna kain perca dengan warna bahan kain dasar yang digunakan sebagai produk sajadah anak. Ia melihat, tidak ada kesulitan bagi peserta saat mengikuti pelatihan tersebut.
“Mereka sudah punya dasar kemampuan menjahit. Hanya saja perlu diasah kemampuan dalam padu-padan warna sehingga tampilan akhirnya menarik secara warna dan bentuk aplikasi kain percanya sebagai hiasan,” ujarnya.
“Cara memotong pola dengan tepat pun kami ajarkan. Sehingga, bisa memaksimalkan bahan. Tidak banyak kain yang terbuang,” imbuhnya.
Sedangkan salah satu peserta, Deka mengaku banyak mendapatkan ilmu yang bisa dipakai dalam membuat sajadah, baik untuk pembeli, pribadi maupun keluarga pada lebaran nanti. “Senang bisa mendapatkan tambahan ilmu menjahit produk ini,” ungkapnya.
Adapun sajadah anak ini dibanderol dengan harga Rp40-60 ribu. Produk ini bisa ditemukan di pasaran, khususnya lewat marketplace, maupun lewat usaha oleh kader PKK Desa Bungurasih.
Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta dapat meningkatkan kemampuan menjahit, serta menghasilkan varian produk baru, sehingga dapat mendukung peningkatan ekonomi bagi kelompok usaha Bungurasih. [ipl/but]






