Nasib baik memertemukan saya dengan seorang peternak bebek. Dia menuturkan, di area peternakannya, yang menghadap sungai, dikelilingi sawah dan tambak, bertebaran banyak sekali batu bata kuno. Batu bata yang menurutnya istimewa.
Ukurannya lebih tebal, lebih lebar, lebih kuat. “Meski usianya tua, batu bata di sana tidak berlumut,” katanya.
Maka pada hari yang dijanjikan, saya diajak ke area peternakan. Kami berangkat dari Desa Damarsi. Setelah melewati Dusun Wagir, menyusuri tanggul sungai, melintasi jembatan, masuk perumahan, berkelok-kelok, melintasi jembatan lagi; kami sampai di lokasi.
Benar yang dikatakannya. Sejauh radius 200 meter lebih, batu bata kuno berserakan di mana-mana. Di semak-semak, di bibir sungai, di pinggir tambak, maupun di pematang sawah. Ada juga sumur kuno.
“Batu bata di sini tidak boleh dibawa pulang. Kalau nekat membawa pulang, malamnya akan mimpi seram,” katanya.
Dia bercerita berbagai hal gaib. Mulai penampakan naga, makhluk aneh, hingga ikan-ikan tambak yang berbaris di sepanjang pematang. Juga beberapa orang yang datang untuk menyedot pusaka.
Saya katakan kepada teman saya. Bahwa usaha dia berternak bebek di daerah sini merupakan pilihan tepat. Sebab usaha ternak bebek tampaknya telah dilakukan oleh orang-orang di daerah sini sejak seribu tahun lalu. Bahkan lebih dari seribu tahun.
Dia penasaran dan kurang percaya. Lalu saya ceritakan tentang temuan prasasti Sobhamrta di daerah Betro, kira-kira berjarak 3 km dari lokasi peternakan bebeknya. Pada prasasti yang dikeluarkan Raja Mpu Sindok pada tahun 939 M, salah satu isinya menyebutkan tentang pembeli dedak.
Dari sekian banyak prasasti, tampaknya hanya Sobhamrta yang menyebutkan tentang dedak. Mengapa dedak bisa masuk dalam prasasti Sobhamrta? Sangat mungkin, di masa itu, banyak usaha peternakan. Salah satunya adalah peternakan bebek. Dan ternyata usaha ternak bebek masih bertahan hingga saat sekarang.
Teman saya telah selesai bikin kopi. Segelas besar. Kami sruput secara bergantian. Di peternakan bebek pinggir sungai itu, pembicaraan kami lanjutkan.
Apakah sebaran batu bata kuno di situ terkait dengan usaha ternak bebek? Kami sama-sama tidak tahu. Lalu bekas bangunan apakah sebaran batu bata kuno tersebut? Kami hanya menduga-duga dan sama sekali tidak yakin.
Sampai di rumah, saya masih penasaran dengan sebaran batu bata kuno di Desa Pepe Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo itu. Dugaan awal saya, tempat itu dulunya bekas pelabuhan. Posisi sekarang memang berkisar 4 km dari laut. Tetapi seribu tahun lalu kondisinya bisa jadi beda. Bisa saja dulunya tempat itu berada tepat di bibir pantai. Garis pantai kian lama kian menjauh oleh sebab pendangkalan.
Dugaan pelabuhan kian kuat karena, secara administratif, lokasinya masuk Desa Pepe yang berbatasan dengan Desa Kwangsan. Nama Kwangsan inilah yang membikin saya curiga. Kwangsan seperti nama yang tidak akrab dengan pengucapan Jawa. Malah lebih dekat dengan bahasa China. Maka saya curiga, kawasan tersebut, dulunya, adalah pemukiman bangsa China. Pemukiman China yang berdekatan dengan pelabuhan.
Nama Desa Pepe sendiri juga mencurigakan. Prasasti Kaladi (909 M) yang dikeluarkan Dyah Balitung menyebutkan daerah Gayam dan Pyapya.
Sambandha inkaᶇ lmaḥ iᶇ gayam muaᶇ pyapya hlat guṇanta kamulanya alas araṇan katakutan tamolaḥ pahabětan de niᶇ mariwuᶇ dhumurbanakěn ikaᶇ banyāga muaᶇ hilirān riᶇ rahina riᶇ kulěm.
Terjemahannya: Alasannya adalah karena tanah di Gayam dan di Pyapya terhalang untuk tempat pemujaan, karena hutan Araṇan menyebabkan ketakutan karena diduduki oleh Mariwuᶇ yang membahayakan perdagangan dan orang-orang dari hilir, baik siang maupun malam.
Meski prasasti ditemukan di lereng gunung Penanggungan, peneliti meyakini bahwa lokasi yang dimaksud berada di wilayah Sidoarjo. Pyaya sekarang berganti nama Pepe. Sama seperti Kwangsan, nama Pyapya juga berbau-bau China.
Terlebih pada isi prasasti Kaladi disebutkan tentang 2 hal, yakni perdagangan dan perampokan. Kedua aktivitas tersebut sangat masuk akal bila terjadi pada wilayah pelabuhan.
Tetapi entah mengapa, dugaan tentang pelabuhan ini belum terlalu memuaskan. Saya masih ragu.
Saya lantas teringat dengan laporan Hageman yang tercantum dalam buku Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1891, judul Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen. Pada halaman 252 melaporkan tentang temuan bekas bangunan telah runtuh. Sebuah bangunan yang terbuat dari batu bata. Di situ dilaporkan ada sumurnya juga.
Over een koperen plaat door Hegeman Jez aangeboden, gevonden met 2 onbeschreven platen van dezelfde grootte in November 1854 in een doos van rood bladkoper, in de desa Boengkil. Volgens mededeeling van Friderich aan Netscher handelt die plaat over eene gift van land zonder jaartal of slot. Op dezelfde plaats wordt medegedeeld, dat volgens Hageman in de desa Damarsi (Blad M. XI), ten oosten van Boengkil, een gebouw (gehoorzaal?) van gebakken steen geweest is.
Terjemahannya: Tentang pelat tembaga persembahan Hegeman Jez, ditemukan bersama 2 pelat kosong berukuran sama pada bulan November 1854 di dalam kotak daun tembaga merah, di desa Boengkil. Menurut komunikasi Friderich kepada Netscher, pelat itu berisi pemberian tanah tanpa tanggal atau kunci. Di tempat yang sama dikabarkan, menurut Hageman, terdapat sebuah bangunan (auditorium?) yang terbuat dari batu panggang di desa Damarsi (Lembar M.XI), sebelah timur Boengkil.
Gambaran yang sangat pas antara yang dilaporkan Hageman dengan pemandangan di area peternakan bebek teman saya. Persoalannya hanya satu. Lokasi sebaran batu bata kuno masuk wilayah Desa Pepe, bukan wilayah Desa Damarsi.
Tetapi mungkin wilayah administrasi saat ini dengan ratusan tahun lalu memang berbeda. Bisa saja wilayah Damarsi dulunya lebih luas dari sekarang. Sehingga area sebaran batu bata kuno, dulunya, masih masuk wilayah Damarsi.
Jika ditarik garis, jarak antara area sebaran batu bata kuno dengan Balai Desa Damarsi tidak terlalu jauh juga. Sekitar 2,8 kilometer. Sedangkan dari Balai Desa Pepe memang lebih dekat, yakni sekitar 2 kilometer.
Terlebih jika dilihat dari posisi lokasi, area sebaran batu bata kuno memang condong masuk wilayah Damarsi. Sebab area sebaran batu bata kuno sama seperti Damarsi, yakni berada di selatan sungai. Sedangkan Pepe berada di sebelah utara sungai.
Satu hal lagi yang membuat saya lebih yakin adalah informasi dari Kakawin Negarakertagama. Pupuh 78 menerangkan tentang dharma lepas atau tempat suci pusat keagamaan yang diakui oleh Kerajaan Majapahit. Salah satunya berada di Damarsi.
Sampai bisa diakui oleh Kerajaan Majapahit, dharma lepas di Damarsi wajar bila bangunannya cukup besar. Mungkin juga candi. Apabila candi itu runtuh, sebaran bekas material cukup banyak. Sangat cocok dengan sebaran batu bata kuno di area peternakan bebek teman saya.
Jadi, seperti dilaporkan oleh Hageman dan tertulis di Kakawin Negarakertagama, wilayah Damarsi dulunya memang memiliki bangunan besar. Sebuah dharma lepas yang diakui oleh Kerajaan Majapahit.
Kini bangunan atau candi tersebut telah runtuh. Batu bata bekas reruntuhannya tersebar di mana-mana, sampai radius lebih dari 200 meter. [but]






