Surabaya (beritajatim.com) – Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Timur (Jatim) merumuskan rumusan Rencana Inovasi berbasis potensi daerah. Langkah ini menjadi salah satu tahapan dalam pelaksanaan Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah di Provinsi Jawa Timur.
Ketua Konsorsium PTV Jatim, Amang Sudarsono menjelaskan Tim Konsorsium PTV Jatim telah merumuskan Rencana Inovasi terkait pengembangan potensi daerah. Rumusan ini akan menjadi parameter untuk menunjang upaya pembangunan daerah melibatkan pendidikan vokasi.
“Kami sudah membuat konsep tujuh pilar inovasi daerah,” ujar Amang saat FGD di Hotel Platinum Surabaya, Rabu (20/3/2024).
Tujuh pilar tersebut, kata Amang, yaitu pembentukan ekosistem inovasi daerah, penguatan klaster industri, penguatan jaringan inovasi. Selain itu, pengembangan teknopreneur. pengembangan pilar-pilar tematik, pengembangan teknologi digital, dan pengembangan infrastruktur teknologi.
“Dari tujuh pilar tersebut, kami breakdown menjadi rencana inovasi,” kata dia.
Amang melanjutkan, rencana inovasi tersebut mencakup empat bidang utama yang ada di hampir semua daerah di Jatim. Keempatnya yaitu:
1. Pertanian
2. Peternakan, perikanan, dan pangan,
3. Kehutanan dan lingkungan
4. Waralaba, industri, dan teknologi.
“Kami memulai dulu dari rencana inovasi, baru di-breakdown lagi soal tenaga kerja, SDM, seperti apa yang dibutuhkan,” ucap Awang.
Wakil Ketua Konsorsium PTV Jatim, Neffrety Nilamsari mengungkapkan, Rencana Inovasi ini disusun berdasarkan data yang telah dikumpulkan tim peneliti Konsorsium PTV Jatim terkait dimensi sosial, teknologi, environment, ekonomi, politik, serta budaya. Selain itu, juga berdasarkan masukan dari stake holder terkait.
“Dari enam dimensi tersebut, dimensi paling dominan adalah teknologi dan ekonomi,” kata Neffrety.
Pihaknya juga melakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk mendapatkan gambaran mengenai inovasi daerah. Hasil monev tersebut melahirkan strategi utama penguatan inovasi daerah.
“Penguatan pilar-pilar kebijakan tematik sistem dengan fokus utama pada penguatan kerangka dasar sistem inovasi daerah,” kata Neffrety.
Anggota Tim Peneliti Konsorsium PTV Jatim, Vivi Hesty Sholihah mengungkapkan, terdapat sejumlah kecenderungan yang menjadi tren di Jatim terkait ekonomi dan teknologi. Kecenderungan tersebut menimbulkan dampak pada beragam sektor lantaran saling terkait.
Menurut Vivi, beberapa kecenderungan tersebut antara lain adanya pengaruh dari globalisasi modern yang dampaknya terasa tidak hanya pada bidang ketenagakerjaan. Kemudian, jumlah wisatawan di Jatim menunjukkan tren meningkat sehingga perlu strategi peningkatan potensi tempat wisata.
“Ketiga, banyaknya jurusan SMK yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah revitalisasi kurikulum serta peran SMK terutamanya hubungannya dengan industri,” kata dia. [beq]






