Jombang (beritajatim.com) – Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi pelaku UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) Kabupaten Jombang. Selama Ramadhan omzet mereka meningkat pesat. Tentu saja, mereka juga panen cuan atau keuntungan.
Rumah produksi ‘Kunara’ yang ada di Desa Kedungrejo Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang sedang sibuk. Sejumlah karyawan beraktifitas. Seorang lelaki menurunkan tiga karung berisi buah salak dari kendaraan roda tiga.
Sedangkan beberapa perempuan menyiapkan alat khusus berbentuk tabung silinder. Perempuan lainnya ada yang melakukan pengepakan keripik salak. Lalu, ada juga yang mengemas jenang salak untuk dikirim kepada pemesan. Memang, sejak awal Ramadhan, UMKM yang memproduksi olahan berbahan buah salak ini seakan tak pernah jeda.
Salak yang diturunkan dari kendaraan tersebut kemudian dimasukan ke dalam alat khusus berbentuk tabung. Begitu buah berkulit coklat itu masuk, tabung yang menyerupai drum langsung berputar. Buah salak yang ada di dalamnya saling bergesekan hingga kulitnya terkelupas.
Buah itu kemudian mengalir dari wadah tersebut dalam kondisi terkupas. Karyawan perempuan yang menunggui langsung cekatan memisahkan biji, kulit, serta daging salak. Nah, bahan-bahan itulah yang hendak diolah menjadi aneka mamin (makanan dan minuman).
Daging buah dikukus. Air kukusan tersebut dijadikan sirup buah, sedangkan dagingnya diolah menjadi jenang atau dodol. Sementara kulit salak disulap menjadi teh dan biji salak disangrai untuk digiling menjadi kopi. Tidak ada limbah terbuang dalam pengolahan tersebut.
“Untuk Ramadhan ini yang paling banyak permintaan adalah sirup salak. Disusul jenang salak, kopi salak, keripik salak, serta teh kulit salak,” ujar pemilik UMKM Kunara, Kuswartono (54), ketika ditemuai di rumahnya, Rabu (20/3/2024).
Kuswartono kemudian menjelaskan proses pembuatan sirup yang menjadi primadona saat Ramadhan itu. Air yang merupakan hasil pengkusuan buah salak tersebut dikemas dalam botol cantik. Tahap terakhir, sirup dalam botol itu dipanaskan menggunakan air di atas kompor.
Menurut Kuswartono, itu adalah pasteurisasi. “Yakni proses pemanasan makanan atau minuman dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, protozoa, kapang, dan khamir. Juga proses untuk memperlambatkan pertumbuhan mikroba pada makanan dan minuman,” ujarnya.
Dengan proses itu, sirup salak Kunara tidak lagi menggunakan bahan pengawet kimia. Sehingga lebih higinenis dan menyehatkan ketika dikonsumsi. Pengawetan dengan model pasteurisasi ini bisa mengawetkan minuman hingga satu tahun. Dalam 1 kilogram salak, menghasilkan dua botol sirup.
Usai menjalani pasterisasi, botol sirup tersebut kemudian dipasangi label. Dwi, salah satu karyawati memasang secara telaten satu per satu label tersebut di permukaan samping botol yang ukurannya 1,5 liter.
Setelah itu, sirup salak dikemas dalam kardus warna coklat. Satu kardus berisi enam botol. “Ini sudah siap dikirim kepada pemesan. Minuman ini cocok itu berbuka puasa dan sajian saat Idulfitri. Segar, higienis dan menyehatkan. Karena kaya vitamin,” ujar Kuswartono.
Penjualan Tembus 600 Botol

Kuswartono menjelaskan bahwa sirup buah salak produksinya sangat berbeda dengan surup produksi pabrikan. Pengolahannya sirup salak Kunara dilakukan secara tradisional dan alamiah. Tidak menggunakan penguat rasa, tanpa pewarna serta tanpa pengawet. Maka tidak heran, pembuatan sirup membutuhkan waktu tiga hari. Setiap 1 kilogram salak, menghasilkan 2 botol sirup.
Kuswartono erinci, dalam satu bulan pihaknya menghabiskan 1 ton salak. Pengusaha kelahiran Kediri ini menjelaskan, dirinya sengaja memproduksi aneka olahan berbahan buah salak. Alasannya, Desa Kedungrejo selama ini dikenal sebagai penghasil salak. Selain itu, selama ini buah salak juga belum menjadi komoditas industri.
Peluang itu ditangkap oleh Kuswartono. Walhasil, upaya yang dilakukannya berbuah manis. Jenang salak, keripik salak, kopi biji salak, serta sirup salak laris manis di pasaran. Namun untuk Ramadhan kali ini yang menjadi primadona adalah sirup. “Mulai awal Ramadhan hingga sekarang sudah terjual 600 botol,” katanya.

Berapa harga mamin produksi Kunara? Kuswartono menjelaskan bahwa harga yang dipatok sangat terjangkau, yakni antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Sedangkan pemasarannya masih memfokuskan Jombang sebagai ring satu.
Kuswartono mengungkapkan bahwa omzet selam Ramadhan ini sudah tembus Rp300 juta untuk semua produk. Dari jumlah itu sirup mendominasi 25 persen atau sekitar Rp100 juta. “Kalau hari biasa kecil. Omzet tidak ada separuhnya. Harga sirup di konsumen akhir Rp25 ribu/botol,” ujarnya Kuswartono yang juga Ketua Permamin (Perhimpunan Makanan dan Minuman) Jombang ini. [suf]






