Surabaya (beritajatim.com) – Pasca insiden yang menimpa Bruno Moreira, manajemen Persebaya Surabaya menuntut tindakan tegas terhadap kasus kekerasan yang dilakukan oleh pemain PSS Sleman.
Direktur Operasional Persebaya, Candra Wahyudi, tidak ingin menganggap enteng tindakan yang merugikan pemainnya. Dalam pernyataannya, mantan wartawan olahraga ini menegaskan bahwa timnya tidak akan menerima hal tersebut dan segera mengirimkan surat protes ke PSSI.
“Seperti yang diketahui publik, terjadi kejadian luar biasa saat Persebaya berhadapan dengan PSS Sleman. Bruno Moreira mengalami kekerasan yang tidak mendapat sanksi tegas dari wasit dalam pertandingan tersebut. Kami mengirim surat protes ke PSSI untuk menuntut ketegasan dalam menghukum pihak-pihak yang melanggar aturan dalam pertandingan tersebut,” ujar Candra Wahyudi pada Rabu (6/3/2024).
“Ia menambahkan bahwa tindakan anarkis yang dilakukan oleh Hamisi tidak hanya melanggar aturan dengan menendang kepala Bruno, tetapi juga melakukan beberapa pelanggaran lain yang layak mendapat hukuman yang lebih tegas.
“Oleh karena itu, kami mengirim surat kepada PSSI untuk menuntut agar Ketua PSSI, Erick Thohir, yang juga menjadi bagian dari Komisi Wasit, segera mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran ini,” jelasnya.
Menurut Candra Wahyudi, PSSI memiliki kewenangan untuk menghukum pemain dan wasit yang melanggar aturan. Dia berharap agar kewenangan ini ditegakkan untuk menjaga agar pertandingan sepak bola dapat berlangsung sesuai dengan aturan yang berlaku.
“PSSI memiliki Komisi Disiplin untuk pemain dan Komisi Wasit untuk mengevaluasi kinerja wasit. Kami berharap agar aturan ini ditegakkan sehingga pertandingan sepak bola dapat berjalan dengan baik dan pemain dapat dilindungi,” tambahnya.
Dalam catatan Persebaya, ini bukanlah kali pertama Hamisi melakukan tindakan keras. Sebelumnya, ia juga melanggar pemain Persebaya lainnya, Robertino Pugliara, pada pertandingan Liga 1 2018 pada 13 Oktober 2018. [way/but]






