Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meraih Piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam Penganugerahan Adipura, di Jakarta.
Termasuk dalam penganugerahan itu, Banyuwangi juga mendapat Plakat Adipura berkat pengelolaan sampah berbasis TPS 3R (tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle) yang melibatkan partisipasi masyarakat.
“Alhamdulillah, Banyuwangi kembali raih Piala Adipura, lambang kebersihan kota dan lingkungan hidup. Ini tentunya kebanggaan bagi semua warga Banyuwangi yang terus berupaya menjadikan daerahnya bersih dan nyaman. Ini adalah kerja gotong royong seluruh warga,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Rabu (6/3/2024).
Banyuwangi terakhir kali meraih Piala Adipura sejak 2017 silam. Namun, berkat keseriusan dan upaya yang ulet, kini kota di ujung timur Pulau Jawa ini berhasil menyabet penghargaan di bidang kebersihan itu kembali.
“Bukan berarti sekian tahun absen Adipura, kita tidak melakukan upaya apapun. Namun, kami terus menjaga kebersihan daerah dan meningkatkan pengelolaan persampahan,” katanya.
Menurut Ipuk, ada sejumlah kiat Banyuwangi dapat meraih sukses di bidang kebersihan tahun ini. Antara lain pengelolaan sampah yang cukup baik dari tingkat hulu ke hilir.
“Tidak hanya mengandalkan TPA, tapi kami terus mendorong pengelolaan sampah secara sirkular lewat TPS 3R. Karena kami ingin penanganan sampah dilakukan dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Selain itu, kata Ipuk, juga terdapat sejumlah program persampahan yang ditetapkan di Banyuwangi. Di antaranya, bank sampah, pembangunan TPS3R hingga berbagai inovasi penanganan sampah yang melibatkan pihak swasta maupun masyarakat.
Bahkan, Banyuwangi juga menjadikan penanganan sampah sebagai prioritas program pembangunan dengan penanganan yang cukup komprehensif.
“Kami membuat regulasi persampahan, mulai peraturan daerah, peraturan bupati, hingga Surat Edaran tentang pengelolaan dan pengurangan penggunaan plastik. Kami juga menetapkan pengelolaan persampahan sebagai salah satu indikator penilaian dalam rapor desa, yang akan menentukan alokasi anggaran tiap desa,” terang Ipuk.
Tak berhenti di situ, Banyuwangi juga mendapat dukungan dari sejumlah gerakan warga. Mereka yang juga getol dan peduli menangani dan mengelola sampah dengan berbagai bentuk dan hasil.
“Kami juga didukung aktif warga pegiat persampahan. Seperti Osoji Club, Eco Ranger, dan Pega Indonesia yang aktif mengelola sampah dengan memilah dan mendaur ulang sampah hingga menghasilkan maggot untuk mendegradasi sampah organik,” kata Ipuk.
Termasuk, lanjut Ipuk, pihaknya juga aktif kampanye perubahan perilaku kepada masyarakat dan membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Persampahan.
“Kami juga aktif berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk menangani sampah, salah satunya Banyuwangi mendapat dukungan dari pemerintah Norwegia dalam pembangunan TPS 3R Tembokrejo dan di Balak,” lanjut Ipuk.
Banyuwangi juga membangun dan mengoperasikan 19 TPS 3R di sejumlah kecamatan. Di antaranya TPS3R Balak, memiliki kapasitas pengolahan mencapai 84 ton perhari dengan sasaran 55.491 rumah tangga. Sementara TPS3R Muncar setiap bulannya, rerata sampah yang dikelola 12-25 ton/hari dengan menyisakan residu ke TPA hanya 2 ton/hari.
Selain itu, Banyuwangi juga bekerjasama dengan NGO Sungai Watch yang berfokus pada penanganan sampah di sungai dan laut dengan memasang jaring penghalang. “Kami juga didukung Norwegia yang segera membangun pabrik pengolahan sampah plastik low value,” imbuh Ipuk.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dwi Handayani menjelaskan penghargaan Adipura ini tidak hanya dinilai dari kota bersih dan indah saja, tetapi juga mengukur keterlibatan masyarakat dalam pengolahan sampah mulai dari rumah/sumber sampai ke TPS3R.
“Dasar penilaian Adipura tahun ini salah satunya adalah pengurangan sampah secara determinan (less TPA). Tim melakukan verifikasi lapangan terhadap sarana dan prasarana pengelolaan sampah dari hulu ke hilir,” kata Handayani. (rin/ted)






