Malang (beritajatim.com) – Karya dari mahasiswa antropologi angkatan 2021 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menghiasi galeri seni FIB UB. Pameran karya bertajuk ‘Kesana-Kemari’ ini sebagai tugas akhir mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif.
Urban Mobilization menjadi tema utama dari pameran ini, pengunjung diajak mengeksplorasi lanskap perkotaan melalui bentuk mobilisasi yang terjadi di ruang kota Malang. Acaranya diadakan selama empat hari, yaitu 4-8 Maret 2024.
Dosen pengampu mata kuliah penelitian kualitatif, Franciscus Apriwan, M.A., menjelaskan bahwa mahasiswa diajak terjun langsung ke lapangan dengan meneliti berbagai persoalan yang ada. Awalnya, mahasiswa dibentuk secara berkelompok untuk dapat menentukan topik yang akan diteliti.
“Setelah kelompok mempunyai topik, kami sebagai dosen mengadakan coaching clinic untuk setiap kelompok. Jadi proses belajar di kelas sedikit saja, sisanya praktik langsung,” ungkap dosen yang akrab disapa Iwan ini.
Penelitian etnografi dilakukan sejak Agustus hingga Desember 2023. Setiap kelompok menyusun karya yang merepresentasikan aspek unik dari mobilisasi urban di sudut kota Malang. Pameran ini sebagai wadah untuk menyajikan temuan penelitian kepada publik.
“Kami harap mahasiswa dapat memperkaya pengalaman seni dan pengetahuan antropologi. Ada berbagai topik yang diangkat dengan tema utama ‘Urban Mobilization’ , diantaranya soal fenomena penjual tahu bulat, tata kelola kota, proses urbanisasi, soal Kayutangan, dan lain sebagainya,” terang dosen dari prodi antropologi UB ini.
Iwan juga mengarahkan mahasiswa berlatih membuat policy brief untuk menuangkan gagasan dalam rangka memecahkan persoalan yang ditemui saat riset. Pada proses akhir, mahasiswa memvisualisasi temuan di lapangan.
“Harapan dari proses tersebut, mahasiswa punya kemampuan mengolah data yang sebelumnya dalam bentuk paragraf menjadi visual. Wilayah penelitian untuk seluruh Malang Raya, secara spesifik bertajuk Kesana Kemari. Secara harfiah dapat diartikan apapun aktivitas yang di Malang Raya bisa menjadi objek penelitian,” ungkap Iwan kepada beritajatim.com, Selasa (5/3/2024).
Qilmi Shobri salah satu peserta pameran dari 2B mengusung karya berjudul ‘Roda Tahu Bulat: Kisah Penuh Rasa dalam Kehidupan Urban’. Qilmi menceritakan, aktivitas perkotaan yang ingin digambarkan dalam karya ini adalah adanya fenomena penjual tahu bulat yang berjualan di mobil.
Dalam penelitian yang telah dilakukan, salah satu temuannya adalah para pedagang bahu bulan ini berada dalam satu perusahaan bahu bulan bernama “Global”. Hampir semua pedagangnya merupakan perantau dari wilayah Tasikmalaya.

“Jadi, mayoritas penjual tahu bulat Globe berasal dari Jawa Barat. Dari hasil penelitian kami menemukan ada aspek migrasi, identitas, konektivitas, dan solidaritas dari cara mereka berjualan tahu bulat,” katanya.
Migrasi adalah proses perpindahan dari Tasikmalaya ke Malang. Identitas berjualan pedagang tahu bulat dibentuk dengan cara berjualan melalui lagu yang punya ciri khas Jawa Barat.
“Kemudian secara koneksi mereka menarik kolega dan teman untuk ikut merantau dari Tasikmalaya ke Malang berjualan tahu bulat. Sedangkan solidaritasnya, dengan adanya komunitas Globe, setiap hari libur mereka hangout bersama,” jelas mahasiswa antropologi angkatan 2021 ini.
Mahasiswa lain lain, Ika Febriyan dari kelompok 3A membahas tentang ketatnya ke pengaturan pemerintah terhadap ruang publik yang berhasil menegosiasi formalitas menjadi sebuah informalitas oleh pelaku ekonomi jalanan, Bakul Kopi Ijen. Fenomena di sepanjang trotoar Jalan ljen menyiratkan negosiasi antara peraturan pemerintah dengan kepentingan mengakses ruang publik sebagai panggung ekonomi.
“Hal itu menjadikan ranah publik sebagai suatu hal yang terus berubah dan penuh ketidakpastian. Bentuk informalisasi dan negosiasi Bakul Kopi jen direpresentasikan melalui terputusnya sepeda bakul kopi dengan benang merah dan tangan sebagai perlambangan pemerintah dan peraturan formal yang ditegakkan,” kata Ika. [dan/but]






