Ada sejumlah catatan menarik di balik perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) langsung yang sudah tiga kali berlangsung: Pilgub Jatim 2008/2009, Pilgub Jatim 2013, dan Pilgub Jatim 2018. Selain dua partai besar, PKB dan PDIP, yang belum pernah memenangkan kandidatnya di tiga kali pesta pesta demokrasi Jatim itu, ada catatan menarik lainnya. Apa itu? Duet kandidat yang dekat dan menempel penguasa, itulah yang paling berpeluang memenangkan kontestasi.
Catatan politik menarik lainnya adalah formula politik yang efektif terkait figur dijagokan sebagai kandidat gubernur dan wakil gubernur (wagub) Jatim. Figur tersebut kerap berlatar belakang Religius-Nasionalis atau Nasionalis-Religius. Di samping itu, otoritas struktural formal organisasi kemasyarakatan (ormas) belum tentu berpengaruh efektif dan berdampak besar pada volume dukungan kepada pasangan cagub-cawagub yang diusung.
Kembali ke soal faktor peluang besar kemenangan figur cagub-cawagub Jatim yang dekat dan menempel kepada penguasa eksisting, realitas itu setidaknya bisa kita lihat pada hasil akhir Pilgub Jatim 2008/2009, Pilgub Jatim 2013, dan Pilgub Jatim 2018. Di Pilgub Jatim 2008/2009, berlangsung tiga putaran dan menghabiskan anggaran nyaris Rp1 triliun. Inilah pesta demokrasi tingkat regional (provinsi) paling mahal dan melelahkan di Indonesia. Belum ada pilgub di tingkat provinsi yang berlangsung hingga tiga putaran.
Pilgub Jatim 2008/2009 menghadirkan lima pasangan cagub-cawagub. Mereka adalah Soekarwo-Gus Ipul yang diusung Partai Demokrat dan PAN, duet Khofifah Indar Parawansa-Brigjen Purn Mujiono didukung PPP dan sejumlah partai lainnya. Lalu, pasangan Soetjipto-Ridwan Hisjam disokong PDIP, duet Soenarjo-Ali Maschan Moesa diusung Partai Golkar dan pasangan H. Achmady-Brigjen (Purn) Soehartono didukung PKB.
Di putaran pertama, duet Soekarwo-Gus Ipul meraih dukungan 4.498.332 suara dan duet Khofifah-Mujiono merebut 4.223.089 suara. Kedua pasangan ini lolos dan masuk putaran kedua, sedangkan tiga kandidat lainnya tersingkir. Di putaran kedua, duet Soekarwo-Gus Ipul meraih 7.729.944 suara dan Khofifah-Mujiono dengan 7.669.721 suara. Selisih persentase suara antara Soekarwo-Gus Ipul versus Khofifah-Mujiono hanya 0,30 persen.
Khofifah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta. Setelah melalui serangkaian sidang di MK, akhirnya diputuskan pemungutan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang. Kemudian diputuskan pula penghitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan. KPU Jatim pada 31 Januari 2009 lalu telah menetapkan hasil penghitungan dan pemungutan suara ulang Pilgub Jatim di Kabupaten Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan di Pulau Madura setelah sebelumya pada 2 Desember 2008), MK membatalkan hasil perhitungan tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan dan pemungutan ulang, KPU Jatim menetapkan pasangan Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) sebagai pemenang Pilgub Jatim. Atas keputusan tersebut, pasangan Kaji (Khofifah-Mujiono) kembali mengajukan gugatan kepada MK. Kaji menganggap dalam pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang tersebut masih terjadi banyak pelanggaran yang merugikan pasangan Kaji. Tapi, permohonan itu ditolak MK.
Pilgub Jatim 2013 dilaksanakan 29 Agustus 2013 dan terdapat empat pasang kandidat yang bersaing: Soekarwo-Saifullah Yusuf yang diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura, Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Bintang Reformasi (PBR) dan 22 partai politik non-parlemen.
Lalu, pasangan Bambang Dwi Hartono-Said Abdullah diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pasangan Khofifah Indar Parawansa- Irjen Pol (Purn.) Herman Surjadi Sumawiredja yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan 5 partai politik non-parlemen, dan pasangan Eggi Sudjana-Muhammad Sihat yang maju dari jalur independen.
Pilgub Jatim 2013 berlangsung sekali putaran dan dimenangkan duet Soekarwo-Saifullah Yusuf yang disokong Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PPP, dan partai lainnya dengan raihan sebesar 8.195.816 (47,25 persen) suara sesuai dengan keputusan KPU Provinsi Jawa Timur pada 7 September 2013. Sedangkan pasangan Eggi–Sihat (independen) dengan 422.932 suara atau 2,44 persen, Bambang DH–Said Abdullah (PDIP) dengan 2.200.069 suara atau 12,69 persen, dan Khofifah–Irjen Pol (Purn.) Herman Sumawiredja (PKB, PKPB, PKPI, Partai Kedaulatan, PMB, dan PPNUI) dengan 6.525.015 suara atau 37,62 persen.
Ketika Pilgub Jatim 2008/2009, 2013, dan 2018 berlangsung, para calon pemenang bisa dikatakan merupakan figur-figur yang dekat kekuasaan. Pilgub Jatim 2008/2009 dan 2013 dimenangkan duet Pakde Karwo-Gus Ipul. Saat itu, Pakde Karwo merupakan politikus dan elite strategis Partai Demokrat. Merujuk hasil Pilpres 2004 dan 2009, tokoh puncak Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai Presiden RI. Pakde Karwo merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan politik Presiden SBY di Jatim.
Di sisi lain, Gus Ipul yang duduk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda (PP GP) Ansor dikenal punya relasi baik dengan SBY dan memiliki saham politik tak kecil ketika SBY-JK bertarung di putaran pertama maupun putaran kedua Pilpres 2004. Sekalipun Gus Ipul dikenal sebagai aktivis muda NU, dia lebih merapat ke duet SBY-JK dibanding ke Megawati-KH Hasyim Muzadi di putaran pertama dan kedua Pilpres 2004.
Di ranah politik nasional, Gus Ipul juga pernah duduk sebagai Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal di periode pertama kepemimpinan SBY. Kendati di tengah proses kinerja Kabinet SBY-JK, nama Gus Ipul di-reshuffle dan digantikan Lukman Edy, politikus dan Sekjen DPP PKB.
Kedekatan dan relasi politik yang terbangun kuat antara duet Pakde Karwo-Gus Ipul dengan SBY, secara langsung maupun tak langsung, kemungkinan besar berpengaruh kuat pada peluang kemenangan duet Pakde Karwo-Gus Ipul di Pilgub Jatim 2008/2009 dan 2013. Saat itu, duet Khofifah-Mujiono (Pilgub Jatim 2008/2009) dan Khofifah-Herman S Sumawiredja (Pilgub Jatim 2013) disokong partai cukup banyak, tapi elite partai pendukung belum punya pengalaman empiris memenangkan Pilgub Jatim secara langsung. Sedang Bambang DH-Said Abdullah (PDIP/Pilgub Jatim 2013) merupakan elite politik lokal di mana positioning politik partai pendukungnya berada di luar kekuasaan (oposisi).
Di Pilgub Jatim 2013, proses dan jalannya kemenangan yang direbut duet Pakde Karwo-Gus Ipul tak sekeras dan sejlimet dibanding Pilgub Jatim 2008/2009. Pilgub Jatim 2013 berlangsung di era puncak kekuasaan SBY sebagai Presiden RI. Putra asli Kabupaten Pacitan yang juga alumni Akmil Magelang 1973 ini memenangkan Pilpres 2009 dengan angka dukungan politik yang sangat meyakinkan dalam sekali putaran.
Ada semacam trickle down effect dalam perspektif politik dari kuat dan besarnya pengaruh politik SBY di aras nasional ke lanskap politik regional Jatim saat agenda pilgub 2018 berlangsung. Tentunya hal itu diperkuat dengan posisi duet Pakde Karwo-Gus Ipul sebagai petahana di Pilgub Jatim 2013. Duet cagub-cawagub yang merepresentasikan kekuatan komunitas Nasionalis dan Islam Tradisional (NU) di Jatim ini mampu memenangkan kontestasi politik di tingkat regional dengan persentase angka dukungan yang sangat meyakinkan.
Lingkungan Politik Berubah
Pileg dan Pilpres 2014 melahirkan perubahan signifikan lpada ingkungan politik nasional. PDIP tampil sebagai pemenang pileg dan Jokowi-JK naik ke tampuk kekuasaan sebagai presiden-wakil presiden. Duet kepemimpinan nasional ini didukung PDIP, PKB, Partai NasDem, dan sejumlah partai lainnya. Perubahan lingkungan politik ini berimplikasi positif secara politik terhadap Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU, yang ikut mendukung proses running duet Jokowi-JK di Pilpres 2014.
Khofifah kemudian dipercaya sebagai Menteri Sosial, satu jabatan politik yang membuka akses yang bersangkutan untuk menyapa, menyentuh, membantu secara langsung, dan menyelesaikan problem-problem sosial rakyat di akar rumput. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah salah satu administrative policy yang didesain, ditetapkan, dan dijalankan secara istiqomah Kementerian Sosial di bawah kepemimpinan Khofifah untuk mengangkat derajat sosial ekonomi warga tak mampu ke atas garis kemiskinan. Problem ini populis dengan target grup yang terukur secara kuantitatif (jumlah) dan sebarannya menyentuh semua kalangan kurang mampu.
Kombinasi antara perubahan lingkungan politik dengan posisi politik yang dipangku Khofifah setelah masuk kabinet Jokowi-JK tentu punya pengaruh atas hasil gemilang duet Khofifah-Emil Elestianto Dardak di Pilgub Jatim 2018. Di samping itu, ada faktor politik di last minute dari sikap Partai Demokrat Jatim di ajang kontestasi itu. Di mana Pakde Karwo sebagai Gubernur sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Jatim saat itu memberikan dukungan politik kepada pasangan Khofifah-Emil Dardak di menit-menit terakhir.
Perkembangan politik tentu menghentak duet Gus Ipul-Puti Guntur sebagai kompetitor. Ketika proses Pilgub Jatim 2018 di tahap-tahap awal, diasumsikan bahwa Pakde Karwo bakal bersikap netral. Sebab, selama hampir 10 tahun, Gus Ipul mendampingi Pakde Karwo sebagai Wagub Jatim.
Politik itu bergerak dan bersifat dinamis. Kepentingan politik dari tempo ke tempo tak mungkin bersifat statis. Dukungan politik Partai Demokrat dan Pakde Karwo kepada duet Khofifah-Emil Dardak adalah determinan politik strategis yang makin memperkuat posisi dan memperlebar peluang politik pasangan ini memenangkan Pilgub Jatim 2018.
Faktanya, hasil rekapitulasi KPU Jatim menunjukkan pasangan Khofifah-Emil Dardak dinyatakan sebagai pemenang dengan perolehan suara 10.465.218 suara (53,55 persen), sedang duet Gus Ipul-Puti Guntur dengan raihan suara 9.076.014 (46,45 persen).
Hasil Pilgub Jatim sekali lagi menegaskan tesis bahwa kandidat yang dekat dan menempel dengan penguasa (kekuasaan) punya peluang politik besar memenangkan kontestasi versus duet kandidat tanpa dukungan kekuasaan. Ciri dan karakter kontestasi politik Pilgub Jatim 2008/2009, 2013, dan 2018 memiliki benang merah sama: Merapat dan mendekat kekuasaan lebih berpeluang memenangkan kontestasi politik. [air/habis]
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






