Blitar (beritajatim.com) – Kasus kekerdilan atau stunting di Kota Blitar terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat pada Agustus 2023 lalu, ada 487 anak di Kota Blitar yang mengalami stunting.
Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari tahun tahun sebelumnya. Tercatat pada tahun 2022 lalu, angka stunting atau kekerdilan di Kota Blitar masih mencapai 390 kasus. Berselang beberapa bulan angka kekerdilan tersebut naik 1,27 persen atau 97 kasus.
Hal ini pun tentu harus menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Kota Blitar. Jika tidak ditangani secara serius maka tidak mungkin jumlah anak yang mengalami kekerdilan di Bumi Bung Karno akan terus meningkat.
“Ada peningkatan 97 kasus atau sekitar 1,27 persen di Kota Blitar selama satu tahun terakhir ini,” ucap Santoso, Wali Kota Blitar, Kamis (29/2/2024).
Kasus kekerdilan ini berbeda dengan gizi buruk. Diketahui indikator dari gizi buruk adalah berat badan kurang dibanding usia. Kalau berat badan dan usia tidak normal termasuk kategori gizi buruk.
Sementara untuk kasus kekerdilan ini diukur dari tinggi badan anak. Jika tinggi badan anak jauh lebih pendek dari usia maka bisa dikategorikan mengalami kekerdilan.
“Yang perlu ditekankan lagi kerja sama antar lintas sektor harus dioptimalkan. Tidak hanya dinas kesehatan saja, tapi seluruh OPD harus terlibat mengintervensi memberikan asupan gizi kepada balita agar tidak ada kasus stunting,” tegasnya.
Stunting pada anak dapat mempengaruhinya darinya mulai dari ia kecil hingga dewasa. Dalam jangka pendek, stunting pada anak menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik. Sekilas proporsi tubuh anak stunting mungkin terlihat normal.
Seiring dengan bertambahnya usia anak, stunting dapat menyebabkan berbagai macam masalah, di antaranya kecerdasan anak di bawah rata-rata. Sehingga prestasi belajarnya tidak bisa maksimal.
Selain itu sistem imun tubuh anak tidak baik sehingga anak mudah sakit. Bahkan dalam resiko yang lebih parah anak bisa menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker.
Untuk itu perlu kerja keras dari semua pihak untuk peduli terhadap kasus stunting ini. Bukan hanya Dinas Kesehatan, namun juga peran orang tua yang diharapkan melek akan kebutuhan gizi anak.
“Sedang intervensi sensitif yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor memiliki daya ungkit 70 persen,” kata Dharma Setiawan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar. [owi/beq]






