Jember (beritajatim.com) – Asosiasi Petani Pangan Indonesia Jawa Timur tidak mempercayai Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember yang mengklaim produksi padi pada 2023 mencapai 1.007.196,84 ton.
“Saya tidak percaya. Realitanya, kemarin kita terdampak badai El Nino dan pembatasan pupuk bersubsidi, baik jenisnya maupun alokasinya. Tahun lalu juga banyak lokasi sawah yang terkena wereng, sehingga dari hasil monitoring saya bersama teman-teman, produksi turun,” kata Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia Jawa Timur Jumantoro, Sabtu (24/2/2024).
Jumantoro mengklaim, produksi padi di Jember saat ini rata-rata 4-5 ton per hektare. “Itu pun biaya produksinya di daerah utara tinggi. Kalau di daerah selatan, masih bisa memproduksi 5-7 ton per hektare. Tapi biaya produksinya sangat tinggi,” katanya.
Peningkatan biaya produksi dipicu mahalnya harga pupuk dan pestisida, ditambah meningkatnya upah tenaga kerja. “Mari kita bicara realitas. Kondisi di lapangan sampaikan secara nyata, sehingga pemerintah dalam mengambil kebijakan betul-betul berpihak pada kepentingan petani, bukan ABS (Asal Bapak Senang). Kalau tidak percaya, silakan turun ke petani,” kata Jumantoro.
Menurut Jumantoro, jika Kabupaten Jember benar-benar memproduksi padi hingga satu juta ton, harga beras tidak akan tinggi. Saat ini harga gabah di pasaran berada pada kisaran Rp 6.500 – 6.800 per kilogram. “Harga beras di atas Rp 14 ribu per kilogram,” katanya.
“Seyogyanya dengan harga beras Rp 14 ribu, harga gabah minimal Rp 7 ribu. Kalau harga gabah di bawah Rp 7 ribu, petani bukan untung, tapi pak pok (impas). Kadang nongep (terjerembab, bahasa Madura), kalau produksinya hanya 3-4 ton,” kata Jumantoro.
Jumantoro menuntut pemerintah untuk mengevaluasi nominal Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terhadap gabah. “HPP gabah pemerintah hanya Rp 5 ribu per kilogram. Kalau itu dipertahankan, maka Bulog tidak akan mendapatkan gabah petani. Yang ada di gudang Bulog adalah beras impor,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember Imam Sudarmadji mengatakan, tercapainya panen hingga 1 juta ton, menurut Imam, tak lepas dari program pengembangan Indeks Pertanaman Padi 400 (IP 400).
Menurut laman Kementerian Pertanian RI, keuntungan IP 400 adalah mempercepat waktu tanam, adaptasi varietas padi berumur genjah dalam mempersingkat masa tanam, teknik pengolahan tanah untuk memperpendek masa tanam, tahan serangan hama dan penyakit, dan empat kali panen dalam satu tahun. [wir]







4 Komentar
4x panen dalam 1 tahun ????
Di kabupaten saya saja cuma 2-3 kali panen saja itupun tergantung daerahnya,, ada yg 1kali panen tok
Wong nara sumbernya caleg.. itu yg saya kurang percaya
Sama aja harga beras tetep mahal, kalau pas panen raya gini biasanya harga gabahturun petaninya yg pusing..