Jakarta (beritajatim.com) – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) buka suara selepas penangkapan Elwizan Aminudin dokter gadungan. Pria ini pernah menangani sejumlah klub Liga 1, termasuk bekerja di tim nasional (Timnas) Indonesia.
Berkaca dari dokter gadungan yang menghebohkan sepak bola nasional, anggota Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota PB IDI, dr. Gregorius Yoga Panji Asmara menekankan tentang pentingnya verifikasi seorang dokter.
Verifikasi itu harus dilakukan dengan melihat ijazah atau sertifikat profesi seorang dokter. Tak hanya itu saja, harus pula dicek surat tanda registrasi dokter sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan yang terdaftar.
“Verifikasi secara ketat dan berlapis menjadi sadar fundamental perlindungan hukum bagi seluruh pihak. Pelayanan kedokteran adalah pelayanan khusus atau profesi, dengan kualifikasi kompetensi khusus,” katanya, Selasa (6/2/2024).
Agar kasus ini tak terulang di kemudian hari, klub bisa mengecek calon dokter timnya ke IDI cabang setempat. Selain itu bisa dicek di laman PDDikti dan laman IDI.
Yang tak kalah penting, dokter yang akan bertugas di klub sepak bola harus sesuai kualifikasi kedokterannya dan tersertifikasi oleh PSSI.
“Saya mengapresiasi PSSI karena harus ada dokter dalam penyelenggaraannya. Tetapi harus ada perbaikan terus menerus untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan dokter gadungan ini,” ucapnya.
Sebelumnya, Elwizan Aminudin ditangkap polisi di rumahnya di Cibodas, Bogor, Jawa Barat pada 24 Januari 2023 lalu. Selama menyaru sebagai dokter, ia pernah bekerja untuk Persita Tangerang, Barito Putra, Bali United, Madura United, Sriwijaya FC, Kalteng Putra, PSS Sleman, bahkan Timnas U-19. (faw/ian)






