Jakarta (beritajatim.com) – Kapten Kalteng Putra, Shahar Ginanjar, membuka tabir permasalahan serius di dalam timnya terkait tunggakan gaji yang berujung pada pelaporan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.
Shahar, bersama 28 rekan setimnya, mengungkap bahwa pemain Kalteng Putra mengalami keterlambatan pembayaran gaji selama dua hingga tiga bulan. Polemik ini mencuat setelah kesepakatan 29 pemain untuk menolak bermain sebagai protes atas ketidakjelasan pembayaran gaji mereka.
Mantan pemain Persija Jakarta itu menguraikan kronologi permasalahan gaji yang dimulai sejak November tahun lalu. “Pada 10 November, kita bertanding terakhir di Sulut United, dan itu merupakan pertandingan terakhir sebelum libur. Setelah itu, kita dijanjikan latihan kembali pada akhir bulan setelah menerima pembayaran gaji,” ungkap Shahar dalam konferensi pers di Kantor APPI, Jakarta, Jumat (2/2/2024).
Namun, janji pembayaran gaji tidak terealisasi hingga pergantian tahun. Pemain-pemain Kalteng Putra baru menerima gaji pada 2 Januari, tetapi dengan kejutan yang tidak menyenangkan. “Kami harus menggunakan uang pribadi untuk perjalanan ke Palangkara setelah menerima gaji pada 2 Januari. Yang mengejutkan, hanya 13 pemain yang mendapatkan gajinya, sisanya secara bertahap atau bahkan belum sama sekali,” tambahnya.
Shahar menyampaikan bahwa upaya pemain untuk berdialog dengan manajemen melalui surat keputusan bersama tidak membuahkan hasil positif. “Pertemuan dengan manajemen tidak berjalan sesuai harapan. Kami bahkan diminta untuk mengirim surat kepada CEO melalui WhatsApp. Kami meminta kepastian pembayaran gaji hingga 25 Januari sebelum berangkat ke Cilacap,” ujarnya.
Keputusan untuk melaporkan masalah ini ke polisi muncul setelah para pemain menolak bermain hingga kepastian pembayaran gaji. “CEO mengatakan akan membayar gaji tanggal 1 Februari 2024. Setelah keputusan itu, kami sepakat membuat surat kesepakatan bahwa gaji harus diselesaikan sebelum 25 Januari. Namun, pada 24 Januari, manajemen menyampaikan bahwa CEO marah dan melaporkan pemain ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik,” ungkap Shahar.
Pemain Kalteng Putra pun mengekspresikan kebingungan mereka terhadap tuntutan manajemen yang dianggap tidak masuk akal. “Kami dihadapkan pada tuntutan yang tak masuk akal. Saat saya tanya solusinya, manajer menyuruh kami tetap bermain dan menang, baru kemudian gaji akan dibayarkan. Namun, kami tidak bisa menjanjikan kemenangan, dan saat itulah kami dilaporkan ke polisi,” terang Shahar.
Akibat ketidakjelasan dan tekanan dari manajemen, para pemain akhirnya memutuskan untuk pulang, beberapa bahkan diberitahu untuk meninggalkan Palangkaraya karena tidak dapat menjamin keselamatan mereka. Sementara itu, masalah utama terkait pembayaran gaji tetap menjadi perhatian tim dan telah mencapai tahap hukum dengan pelaporan ke Polda. [kun]






