Yogyakarta (beritajatim.com)– Isu politik masih saja menjadi isu hangat dan seksi saat ini. Pasalnya memasuki masa kampanye ini dukungan dari berbagai sektor terus saja di bombardir. Hal yang paling banyak dikerahkan dalam momen kampanye Pilpres adalah permainan isu di media sosial (medsos). Pengamat Politik UGM yang juga panelis dalam debat pertama capres lakukan evaluasi bahwa medsos masih menjadi sasaran empuk penyebaran hoax dan misinformasi.
Dosen sekaligus pengamat politik UGM, Dr.rer.pol. Mada Sukmajati, S.IP., M.PP memberikan evaluasi pada pelaksanaan debat yang dilakukan capres dan cawapres beberapa kali ini.
“Ada konten-konten dari debat yang direproduksi oleh baik para pendukung, non pendukung, maupun mereka yang masih belum menentukan pilihannya, melalui media sosial yang mereka miliki. Tentu saja itu bisa memengaruhi perubahan perilaku memilih. Terutama jika kita bicara Pemilu 2024 terjadi pada mereka yang dikategorikan sebagai undicided voters (pemilih yang belum pasti menentukan pilihannya), yang jumlahnya sekitar 30%. Angka yang tidak sedikit, sehingga saya kira mungkin perlu melihat dulu datanya sejauh mana,” ungkap Mada Selasa (30/1/2024)
Dampak signifikan dari adanya media sosial terbukti mampu menarik perhatian publik akan kontestasi pemilu tahun ini.
Sayangnya, konten media sosial yang juga dimanfaatkan sebagai sarana kampanye menjadi sasaran empuk untuk perkembangan hoaks dan misinformasi. Masifnya paparan konten seringkali membuat publik bingung dan terbawa arus media tanpa tahu kebenarannya. Untuk itu, pelaksanaan debat capres memiliki posisi yang penting dalam menjadi agen informasi pertama bagi masyarakat. Sebagai salah satu panelis debat capres cawapres, Mada memaparkan beberapa evaluasi bagi KPU untuk melaksanakan debat-debat selanjutnya.
“Ada beberapa evaluasi, ya. Pertama, misalnya pendukung. Saya kira ini juga terjadi di debat pilpres sebelumnya, pendukung ini seringkali mengganggu proses perdebatan dan mungkin KPU bisa meminta sekali lagi komitmen dari para pendukung paslon ini. Kedua mungkin peran moderator yang tidak sekedar menjadi time keeper, tapi juga mendorong para kandidat untuk bisa mengoptimalkan waktu yang tersedia,” papar Mada. Waktu seringkali menjadi hambatan dalam menjelaskan gagasan para kandidat, sayangnya beberapa kali terlihat kandidat tidak memanfaatkan waktu secara maksimal.
Selain desain debat capres cawapres, evaluasi juga perlu dilakukan oleh peserta pemilu itu sendiri, baik masyarakat maupun ketiga paslon dapat lebih bijak memaknai ajang perdebatan ini. Mada Sukmajati juga mengiyakan bahwa substansi debat tidak boleh menyerang secara personal.
“Saya setuju memang tidak bisa substansi debat menyerang isu tentang agama, etnis, suku, dan isu-isu yang sifatnya sudah merupakan atribut sejak lahir dari seorang manusia. Tetapi jangan sampai kita salah memaknai bahwa semua hal bisa dipersonalisasi. Isu tentang kekayaan, kasus di masa lalu, kinerja, itu juga sangat bisa untuk digali dalam perdebatan,” tutup Mada. [aje]






