Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan Universitas Airlangga (Unair) Asif Ali Zamzami merespon positif langkah pemerintah meratakan layanan fasilitas internet melalui Satelit Satria-1.
Asif menyebut, Satria-1 merupakan teknologi baru yang tergolong satelit terbesar di Asia dengan memiliki tinggi sekitar 6,5 meter.
“Bentuk satelit yang besar ini mendukung kecepatan internet sebesar 150 Gbps sehingga dapat menjangkau lebih banyak titik lokasi. Selain itu, satelit yang besar juga bisa menyimpan energi agar lebih awet dan tahan lama,” ujar Asif, Kamis (11/1/2024).
Selain itu, Satria-1 juga berhasil meluncur di orbit 146 derajat Bujur Timur. Titik tersebut berada tepat di atas Pulau Papua dengan ketinggian lebih dari 36.000 km di atas permukaan bumi.
“Sebelum Satria-1, pemerintah sudah pernah meluncurkan satelit. Namun, baru kali ini terdapat satelit yang berhasil mencapai titik orbit di wilayah timur Indonesia,” tuturnya.
Ada 11 lokasi yang menjadi satelit stasiun bumi yaitu Cikarang (lokasi pemegang pusat kendali), Batam, Banjarbaru (lokasi pusat kendali cadangan jika stasiun Cikarang tidak bekerja dengan baik), Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manado, Manokwari, Timika, dan Jayapura.
Ia menerangkan, pembuatan satelit yang terobitkan di daerah-daerah terpencil merupakan bagian dari program pemerintah dalam memfasilitasi alat komunikasi secara merata.
Menurutnya, keberadaan satelit menjadi alternatif pilihan yang lebih mudah menjangkau lokasi wilayah dengan infrastruktur yang terbatas daripada penggunaan BTS (Base Transceiver Station) di sana.
“Penggunaan komunikasi nirkabel antara perangkat komunikasi dan jaringan operator sulit diterapkan di daerah yang jarang menggunakan kabel seperti di Papua. Karena itu, pemerintah berinisiatif meluncurkan kembali satelit untuk memeratakan layanan internet,” terangnya.
Selain itu, lanjut dia, penggunaan satelit memiliki masa sekitar 15 tahun. Baginya, jangka waktu itu cukup lama untuk dapat merasakan manfaat keberadaan satelit.
“Pembuatan satelit, terutama satelit yang besar tentu memakan banyak dana yang tidak sedikit. Akan tetapi, penggunaan satelit yang dapat terpakai hingga 15 tahun dinilai efisien untuk memberikan fasilitas internet dalam jangka panjang,” tandasnya.
Sebagai informasi, pemerintah meratakan layanan fasilitas internet di seluruh wilayah sebagai upaya kemudahan akses pendidikan, kesehatan, dan layanan publik pemerintahan. Upaya tersebut terealisasikan melalui peluncuran Satria-1 (Satelit Republik Indonesia).
Satelit Satria-1 yang sudah meluncur di ruang angkasa sejak Juni 2023 terprediksi mulai beroperasi awal tahun 2024. Satelit ini menjadi pelengkap dari satelit komunikasi milik Indonesia lainnya karena terancang untuk menjangkau wilayah timur dan terpencil. [ipl/beq]






