Rembang (beritajatim.com) – Lontong tuyuhan, kuliner yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Bukan hanya menu khas namun juga cuma ada di Rembang.
Menu lontong termasuk dalam kekayaan khazanah kuliner Indonesia. Ada banyak jenis menu ini, mulai lontong opor, lontong sayur, lontong cap go meh yang terpengaruh kultur Tionghoa, serta lontong tuyuhan ini.
Lontong tuyuhan, kuliner berbasis lontong berkuah kuning. Jika melihat sepintas, orang mungkin mengira lontong tuyuhan adalah varian lain dari lontong opor.
Anggapan itu terbantahkan saat menikmatinya. Kuahnya memang kuning dan sedikit pekat namun tak ada rasa opor sama sekali.
Lontong tuyuhan tersaji dengan perpaduan lontong, ayam kampung, serta kuah kuning gurih segar dan sedikit pedas. Saat dinikmati, ada sensasi hangat di perut. Ini karena penggunaan bumbu rempah yang tidak ada menu lontong lain.
Menu ini sebenarnya tersedia di banyak sudut di Rembang. Tetapi pusatnya ada di Tuyuhan, sekitar tiga kilometer dari Alun-alun Kecamatan Lasem ke arah Blora. Ada beberapa pedagang yang menjajakan lontong tuyuhan di Sentra Kuliner Khas Rembang Lontong Tuyuhan Jalan Lasem-Pandan. Di antaranya Kastari, Wawan, Maslikin, dan beberapa lagi.
Salah satu pedagang di Sentra Kuliner Khas Rembang Lontong Tuyuhan, Kastari, sudah puluhan tahun berdagang. Pun, dia akui usaha yang digelutinya adalah warisan dari orangtuanya.
Kastari berkisah, dulu orangtuanya berjualan lontong tuyuhan dengan jalan kaki keliling desa. Dia pun sempat merasakan pengalaman itu.
Lambat laun, muncul perhatian dari pemerintah daerah setempat untuk melestarikan kuliner ini. Upaya tersebut diwujudkan dengan mendirikan Sentra Kuliner Khas Rembang Lontong Tuyuhan.
Kastari bercerita, sepengetahuannya, Tuyuhan merupakan nama desa di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Desa ini tidak jauh dari perbatasan dengan Kecamatan Lasem, yang terkenal sebagai Tiongkok Kecil atau Little Chinesse.
Desa Tuyuhan inilah tempat lahirnya lontong tuyuhan. Kuliner inipun sudah berabad-abad lamanya, dan sarat akan nilai sejarah.
Satu versi sejarah yang cukup kuat terkait lontong tuyuhan menyebut menu ini adalah peninggalan Sunan Bonang, salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Nama tuyuhan tersemat dari peristiwa saat Sunan Bonang mengejar pembencinya, Blancak Ngilo.
Permusuhan antara Sunan Bonang dengan Blancak Ngilo cukup lama terjadi. Beragam cara halus dipakai Sunan Bonang untuk mengakhiri permusuhan itu namun kerap kali gagal. Sampai Sunan Bonang membuat ultimatum. Di manapun keberadaan Blancak Ngilo, Sunan Bonang akan memburunya.
Suatu hari, Blancak Ngilo tengah duduk di tengah sawah menikmati opor ayam dengan lontong. Mendengar kabar itu, Sunan Bonang langsung mengejarnya. Nah, saat melihat Sunan Bonang, Blancak Ngilo ketakutan dan lari terbirit-birit sampai terkencing-kencing. Dari situlah, Sunan Bonang memberikan nama Tuyuhan pada daerah di mana Blancak Ngilo lari sambil kencing di celana.
Dari segi tampilan saat disajikan, sulit menemukan beda dengan lontong kuah lainnya. Perbedaan baru terlihat saat lontong tuyuhan belum disajikan di atas piring.
Pada lontong tuyuhan, lontong yang digunakan tidak berbentuk bulat lonjong. Tetapi, lontong dibuat dengan bentuk segitiga padat. Lontong dengan bentuk seperti ini mirip sumpil di kawasan Mataraman selatan (Tulungagung, Trenggalek, hingga Ponorogo).
Menurut Kastari, tidak ada alasan khusus mengapa lontong dibuat segitiga. “Hanya agar mudah dibungkus saja,” kata dia.
Saat disajikan, lontong tersebut dipotong-potong. Satu porsi lontong tuyuhan menggunakan satu buah lontong. Terkesan banyak dan mengeyangkan.
Setelah lontong dipotong, pedagang akan menambahkan potongan ayam rebus di atasnya. Bagiannya sesuai pesanan. Mulai dada, paha, jeroan (hati-ampela). Kemudian, disiram dengan kuah kuning pekat.
Kuah kuning mungkin identik dengan soto, opor, atau kare. Tetapi, rasa dari masing-masing makanan tersebut tidak akan ditemukan di kuah lontong tuyuhan.
Kuah lontong tuyuhan punya rasa yang benar-benar berbeda. Tidak bisa disebut soto, opor, maupun kare. Meskipun, sekilas memang lebih tampak seperti opor. Perbedaan rasa itu akibat penggunaan campuran rempah yang kadar yang tidak sama dengan tiga masakan tersebut.
Soal harga, lontong tuyuhan sangat terjangkau. Padahal, ini termasuk menu legendaris dan langka. Lantaran belum tentu ada di daerah lain. Satu porsi lontong tuyuhan dengan lauk sepotong ayam dibanderol sekitar Rp15 ribu. Tambah lauk, tentu harus bayar lagi.
Yang jelas, tak akan pernah muncul rasa kecewa saat menyantap lontong tuyuhan. Sudah enak, harganya terjangkau, ditambah nilai sejarahnya yang tinggi. Membuat semakin bangga dengan kekayaan khazanah kuliner Indonesia. [beq]






