Lamongan (beritajatim.com) – Kepala Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Jawa Timur, Atekan mengatakan bahwa meski hasil produk pertanian di Indonesia sangat beragam, namun seringkali hasil pertanian belum mampu bersaing di pasar internasional.
Tak hanya itu, Atekan menuturkan bahwa kurang mampunya hasil pertanian di pasar internasional itu juga sebagian besar diakibatkan oleh mutu pertanian yang kurang bagus.
Atas dasar itu, BSIP berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas dan implementasi penerapan standar pertanian yang ada, tak terkecuali di Kabupaten Lamongan, agar petani bisa lebih kuat dan bisa menerapkan kapasitas standart pertaniannya.
Hal itu disampaikan oleh Atekan saat mengisi kegiatan bimbingan teknis (bimtek) BSIP di Lamongan dalam rangka meningkatkan hasil produktivitas dan memantapkan ketahanan pangan nasional, khususnya tanaman padi dan jagung di Lamongan.
Bimtek ini diikuti oleh para pendamping pertanian, penyuluh pertanian, perangkat pertanian dan pelaku usaha (petani) di 24 kecamatan se-Lamongan.
“Kita berharap, melalui Bimtek yang digelar BSIP ini nantinya produk-produk pertanian kualitasnya menjadi lebih baik dan nilai tambah dari produk pertaniannya semakin meningkat,” ungkap Atekan, dalam kegiatan Bimtek, di Aula Gajahmada Pemda Lantai 7, Selasa (19/12/2023).
Dalam kesempatan sama, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menjelaskan, ketahanan pangan menjadi benteng akhir dari kedaulatan negara. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memassifkan berbagai upaya untuk memperkuat kedaulatan pangan daerah tersebut.
“Kalau ketahanan panganannya sudah jebol, tidak ada lagi yang bisa jadi benteng kedaulatan negara kita. Makanya terus dikembangkan kedaulatan pangan ini untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya padi dan jagung Kabupaten Lamongan,” terangnya.
Yuhronur juga menegaskan, Pemkab Lamongan terus berkomitmen mempertahankan ketahanan pangan, kedaulatan pangan, dan produktivitas pangan di Lamongan, sehingga bisa menghasilkan hal positif bagi petani maupun daerah.
Mengingat, Kabupaten Lamongan tercatat sebagai daerah penyumbang beras nomor satu di Jawa Timur sekaligus menempati peringkat ke-5 secara nasional.
Yuhronur merinci, pada tahun 2022 hasil produksi padi di Lamongan mencapai 1,2 juta ton. Sedangkan di tahun 2023 turun menjadi 1,1 ton yang diakibatkan perubahan cuaca.
“Untuk produksi jagung di Kabupaten Lamongan mengalami kenaikan produktivitas secara signifikan, dari 480.000 ton di tahun 2022, menjadi 560.000 ton pada tahun 2023,” bebernya.
Kendati demikian Yuhronur menyebut, pertanian di Kabupaten Lamongan masih memiliki berbagai tantangan, mulai dari curah hujan yang tak menentu, ketersediaan pupuk, serangan hama dan penyakit, permodalan, pasar serta stabilitas harga, hingga keterampilan dan pengetahuan petani.
“Perlu peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi petani berdasarkan pengalaman yang ada. Kita berterima kasih kepada BSIP, kita yakin Bimtek ini bisa menambah kapasitas keterampilan dan pengetahuan para petani di Kabupaten Lamongan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Yuhronur berpesan kepada para penyuluh untuk menempatkan diri sebagai motivator dan fasilitator bagi para petani di daerahnya, sekaligus mendorong petani untuk berorganisasi dalam bentuk sekolah lapangan hingga lainnya.
“Para penyuluh harus menjadi penyedia informasi bagi para petani, jangan sampai penyedia informasi ini tidak tau apa-apa, karena penyuluh ini yang akan ditanya oleh para petani, jadi harus mengetahui apapun, pengetahuannya harus lebih baik daripada petani,” pungkasnya.[riq/ted]






