Yogyakarta (beritajatim.com ) – Kasus bunuh diri (bundir) di kawasan Jawa Timur (Jatim) akhir akhir ini marak. Kasus terbaru bundir di Universitas Brawijaya (UB) sebelumnya kasus bundir pada mahasiswa kedokteran juga terjadi. Mengapa kasus mahasiwa bundir di Jatim marak?
Psikolog yang juga Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Nia Kusumawardhani, MPsi Psikolog kepada beritajatim.com Jumat (15/12/2023) menuturkan kasus bundir pada remaja salah satunya berkaitan erat dengan ketidak berdayaan remaja dalam menghadapi tantangan hidupnya.
Hal ini bisa disebabkan karena lemahnya komunikasi antar orang tua dan remaja, ketidakperdulian lingkungan serta ketidak mampuan remaja dalam mengontrol pikiran dan perasaan yg menjadi penyebab remaja bunuh diri.
“Ketidakberdayaan yang awalnya adalah sebuah harapan namun harapan tersebut tidak dapat direalisasikan menjadi kenyataan sehingga menyebabkan tindakan melukai diri sendiri bahkan sampai bunuh diri dengan keinginan untuk mengakhiri hidupnya,” bebernya.
Nia sapaan akrabnya menambahkan tindakan bundir dapat menyebabkan kematian namun dapat juga tidak. Dipastikan seseorang yang memiliki keinginan bunuh diri ada pada kesehatan mental yang perlu mendapatkan prioritas penanganan.
Remaja termasuk mahasiswa semester awal merupakan rentang usia kritis sebelum memasuki usia dewasa awal.
Nia kemudian mengimbau kepada orang tua, lingkungan sekitar dan sekolah dan kampus tempat remaja belajar semestinya mengambil peran penting, karena remaja merupakan usia yg masih sangat labil.
“Mereka merasa tidak ada orang yag mengasihi, menyayangi dan memperhatikan, bahkan mereka merasakan adanya penolakan dari keluarga, sahabat, teman dan kingkungannya, hal ini dapat memicu depresi serta kecenderungan bunuh diri.
Kurangnya perhatian dan tanggapan dari orang orang terdekat dapat menyebabkan mereka tidak dapat ditolong dan harus mengakhiri hidupnya. Sikap acuh orang tua dan kurangnya pembinaan serta perhatian khusus kelada anak remaja yg mengalami masalah,” urai ibu tiga anak ini.
Konsep diri yang salah atau negatif juga dapat menjadi penyebab remaja mengakhiri hidupnya, merasa tidak diinginkan, tidak berharga dan tidak sesorangpun yang memperhatikan dapat menjadikan alasan. Remaja berusaha untuk bisa menjadi seperti yg diinginkan oleh teman agar mereka bisa diakui dan diterima oleh kelompoknya.
Peran orang tua sangat penting dalam dalam membangun konsep diri remaja, keterbukaan, penerimaan dan komunikasi yang selaras dalam meminimalisir hal tersebut.
Orang tua yang tidak menerima anak remajanya sebagai diri mereka sendiri membuat remaja berusaha menjadi orang lain, berusaha mencapai semua tuntutan tuntutan yang diinginkan oleh orang tua.
“Hal ini karena ia mengganggap jika ia mendapatkan semua itu orang tua akan mengasihi mereka dan akan mendapatkan perhatian penuh, namun jika ia mendapat kondisi yang berbeda bisa menimbulkan kekecewaan bahkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya,” jelasnya lagi.
Apa yang harus dilakukan orangtua dan lingkungan untuk mengantisipasi dan mencegah makin meningkatnya angka bunuh diri?
Berikut ada 3 rekomendasi
1. Orang tua wajib memberikan perhatian penuh kepada remaja, keterbukaan dan komunikasi serta memberikan waktu yang lebih banyak bagi remaja untuk saling bercerita, bagaimana sekolah dan kuliahnya, ada kesulita apa, bagaimana teman teman disekitarnya, bagaimana tuntutan sekolah/kampus ditempat ia belajar, hal ini diharapkan agar remaja tdk merasa semdiri dengan kehidupan yg sedang ia jalani.
2. sekolah dan kampus memberikan perhatian lebih terkait kondisi ini dengan menyediakan kelompok kelompok kecil yang memperhatikan kondisi emosi remaja
3. Mengarahkan lebih mendekatkan diri pada Allah sehingga remaja memahami kebermaknaan hidupnya.
(Aje)






