Surabaya (beritajatim.com) – Seiring bergulirnya waktu menuju akhir tahun, masyarakat di Surabaya harus tetap waspada terhadap potensi infeksi Bakteri Mycoplasma pneumoniae yang baru-baru ini menjangkiti sejumlah anak.
Pada bulan Oktober dan November lalu, enam anak dikonfirmasi terinfeksi bakteri ini, meskipun kini mereka telah dinyatakan sembuh.
Bakteri Mycoplasma pneumoniae, yang umumnya menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan, dapat merusak lapisan tenggorokan, paru-paru, dan batang tenggorokan. Keberadaannya bisa tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala yang nyata.
Baca Juga: Kejari Kabupaten Malang Musnahkan Barang Bukti Narkoba
Penyebaran bakteri ini dapat terjadi melalui batuk atau bersin, terutama pada kelompok orang yang tinggal bersama atau menghabiskan waktu lama bersama-sama.
Oleh karena itu, wabah Mycoplasma pneumoniae seringkali muncul di tempat-tempat ramai seperti sekolah, asrama, fasilitas pelatihan, dan tempat perawatan jangka panjang.
Gejala infeksi Mycoplasma pneumoniae muncul 1 hingga 4 minggu setelah terinfeksi, termasuk demam, menggigil, batuk, kelelahan, dan sesak napas.
Baca Juga: Sebanyak 2171 Anak di Blitar Terkena Pneumonia, Ini Gejalanya
Meskipun gejala ini mirip dengan infeksi lain seperti pneumonia atau Covid-19, tingkat keparahan biasanya tidak seberat kedua penyakit tersebut. Infeksi Mycoplasma pneumoniae sering disebut sebagai “pneumonia berjalan.”
Pada anak-anak di bawah 5 tahun, gejala infeksi mungkin berbeda, termasuk bersin, hidung tersumbat atau berair, sakit tenggorokan, mata berair, nafas berbunyi seperti sesak, muntah, dan diare.
Meskipun gejalanya mirip dengan Covid-19, tingkat fatalitas Mycoplasma Pneumoniae lebih rendah, khususnya pada mereka dengan komorbiditas.
Baca Juga: Generasi Milenial Dominasi DPT Pemilu 2024 di Jatim
Dr. Nastiti Kaswandani, Dokter Spesialis Anak di RSCM, menjelaskan bahwa tingkat keparahan dan mortalitas akibat Mycoplasma pneumoniae cenderung lebih rendah, berkisar antara 0,5 hingga 2 persen.
Prof. Erlina Burhan, Dokter Spesialis Paru di RSUP Persahabatan, menegaskan bahwa pneumonia akibat bakteri Mycoplasma bukan penyakit baru dan telah dikenal sejak 1930-an. Pengobatannya dapat ditemukan di Puskesmas dan dapat dicover oleh BPJS.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mengikuti rekomendasi WHO dan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI).
Beberapa langkah pencegahan meliputi vaksinasi pada anak-anak, menjaga jarak dengan orang sakit, tidak bepergian saat sakit, menggunakan masker, memastikan ventilasi yang baik, dan rutin mencuci tangan.
Demikian informasi terkini seputar infeksi Bakteri Mycoplasma pneumoniae di Surabaya, dari gejala hingga upaya pencegahannya. Tetap waspada dan jaga kesehatan! (ian)






